De Javasche Bank di Masa Ekonomi Liberal - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Oktober 2020

Ketika Sistem Tanam Paksa (STP) berakhir pada 1870, pemerintah Hindia Belanda menerbitkan Undang-Undang Agraria yang menandai dimulainya era ekonomi liberal. Di era ini, pemerintah tidak boleh terlalu ikut campur dalam masalah ekonomi dan menyerahkannya kepada swasta. Jika pada masa STP banyak berkembang perkebunan besar milik negara, maka di era liberal yang berkembang milik swasta. Para pengusaha swasta, baik dari Belanda maupDJB_di-masa-ekonomi-liberal.jpgun negara lain, berdatangan menanamkan modalnya di Hindia Belanda.

Seiring itu, bank-bank di Eropa dan Asia pun membuka kantor perwakilannya di wilayah ini. Beberapa tahun menjelang era liberal, bahkan telah berdiri bank De Internationale Crediet-en Handelsvereeneging Rotterdam atau Internatio. Bank-bank asing seperti The Chartered Bank of India, Australia and China serta The Hongkong and Shanghai Banking Corporation, juga membuka kantor perwakilannya di Hindia Belanda. Masuknya bank-bank lain membuat De Javasche Bank (DJB) memiliki saingan setelah sebelumnya bergerak sendiri. Hal ini juga membuat DJB harus lebih baik memberikan pelayanannya kepada masyarakat karena lembaga-lembaga perbankan yang baru tesrebut secara perlahan dapat mengambil pangsa pasarnya.

Melihat tantangan sekaligus peluang usaha yang menguntungkan di masa liberalisme itu, DJB akhirnya mendirikan banyak kantor cabang baru di berbagai wiayah Hindia Belanda. Kantor cabang pertama yang didirikam di era liberalisme ini adalah DJB Agentschap Yogyakarta. Setelah itu, menyusul 12 kantor cabang di kota-kota lain, termasuk di Amsterdam, Belanda

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel