Langkah-Langkah Lanjutan Penguatan Bauran Kebijakan Bank Indonesia untuk Pengendalian Inflasi, Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah, dan Penurunan Defisit Transaksi Berjalan - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Agustus 2019
No: 15/ 26 /DKom

Rapat Dewan Gubernur hari ini, Kamis 29 Agustus 2013, memutuskan untuk memperkuat bauran kebijakan lanjutan sebagai berikut. Pertama, menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 7,00%, suku bunga Lending Facility (LF) sebesar 25 bps menjadi 7,00%, dan suku bunga Deposit Facility (DF) sebesar 50 bps menjadi 5,25%. Kedua, Bank Indonesia akan memperpendek jangka waktu month-holding-period kepemilikan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 6 bulan menjadi 1 bulan. Ketiga, memperhitungkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) sebagai komponen Giro Wajib Minimum (GWM) Sekunder. Keempat, memperkuat kerjasama antar bank sentral dengan memperpanjang Bilateral Swap Arrangement (BSA) antara Bank Indonesia dengan Bank of Japan sebagai agen Menteri Keuangan Jepang. Kebijakan lanjutan ini memperkuat berbagai bauran kebijakan yang telah diputuskan sebelumnya, termasuk lelang TD Valas overnight (o/n) dan SDBI mulai hari ini, perluasan FX Swap sebagai instrumen hedging, serta kebijakan loan-to-value ratio (LTV) kredit properti dan supervisory action dalam manajemen likuiditas dan penyaluran kredit.

  1. Menyikapi cepatnya dinamika perubahan perekonomian global dan nasional akhir-akhir ini, Dewan Gubernur Bank Indonesia memandang perlu untuk menyelenggarakan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan tambahan untuk melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kondisi makroekonomi, moneter, dan sistem keuangan, yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan dengan intensitas yang semakin tinggi, seiring dengan meningkatnya ketidakpastian ekonomi global serta masih tingginya ekspektasi inflasi dan persepsi terhadap kesinambungan transaksi berjalan. Secara khusus, Dewan Gubernur Bank Indonesia mencermati beberapa perkembangan penting indikator ekonomi, moneter dan keuangan berikut ini:
    1. Berlanjutnya ketidakpastian pengurangan bertahap (tapering) stimulus moneter oleh the Fed terus memberikan tekanan pada pasar keuangan di berbagai negara. Penarikan modal dan meningkatnya risiko investasi menyebabkan penurunan harga saham, meningkatnya yield obligasi, dan pelemahan nilai tukar di hampir seluruh negara emerging market, tidak terkecuali Indonesia. Tekanan yang tinggi pada pasar keuangan global ini terjadi di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dan kawasan Asia, termasuk China dan India, serta terus menurunnya harga komoditas primer, kecuali harga minyak. Kondisi ini telah memberikan tekanan pada kinerja perdagangan dan pasar keuangan Indonesia.
    2. Tekanan pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) masih berlanjut, meskipun dengan intensitas yang mulai menurun. Berdasarkan data sementara ekspor dan impor hingga Juli 2013, defisit transaksi berjalan yang pada triwulan II-2013 mencapai 4,4% PDB diperkirakan akan menurun menjadi 3,4% PDB pada triwulan III-2013. Defisit terutama berasal dari neraca perdagangan migas, sehubungan dengan masih tingginya impor minyak untuk konsumsi dalam negeri. Di sisi neraca modal dan finansial, surplus diperkirakan berasal dari arus modal asing masuk dalam bentuk Penanaman Modal Asing (PMA) dan investasi portofolio, terutama pada Surat Berharga Negara (SBN), di tengah arus modal keluar investasi portfolio dari pasar saham. Kondisi ini diharapkan dapat mendukung perbaikan dalam keseimbangan NPI dan kestabilan cadangan devisa.
    3. Inflasi IHK, diukur secara tahunan (year-on-year), diperkirakan masih akan tinggi. Namun diukur secara bulanan (month-to-month), inflasi IHK pada Agustus ini akan jauh lebih rendah dari Juli yang lalu, dan diperkirakan akan mulai kembali pada pola normalnya mulai September yang akan datang. Secara keseluruhan, dengan mempertimbangkan realisasi sampai dengan Juli dan perkiraan bulan-bulan yang akan datang, Bank Indonesia memperkirakan inflasi IHK pada akhir 2013 akan berkisar 9,0%-9,8%. Tingginya inflasi terutama berasal dari volatile foods dan administered prices, sementara inflasi inti masih relatif terkendali.
    4. Tekanan pelemahan nilai tukar Rupiah masih berlanjut, baik karena tekanan pasar keuangan global sebagaimana terjadi pada hampir semua negara emerging markets, maupun karena faktor domestik terutama terkait dengan tingginya defisit transaksi berjalan dan inflasi. Pada 28 Agustus 2013, Rupiah ditutup pada Rp10.945 per dolar AS, atau terdepresiasi sebesar 11,9% secara point-to-point dari posisi akhir Desember 2012. Bank Indonesia menilai tingkat nilai tukar Rupiah dewasa ini mencerminkan kondisi fundamental serta mendukung peningkatan ekspor dan penurunan impor dalam proses penyesuaian defisit transaksi berjalan. Namun demikian, ketidakpastian perkembangan Rupiah masih relatif tinggi, tercermin pada tingginya volatilitas dan lebarnya kisaran perdagangan, antara lain karena reaksi pelaku pasar yang cenderung berlebihan (overshooting).
    5. Aktivitas perekonomian menunjukkan indikasi perlambatan sebagai dampak dari perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Sampai dengan semester I-2013, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,9%, menurun dari kinerja 2012 yang mencapai 6,2%. Kecenderungan perlambatan ekonomi diprakirakan masih berlangsung pada semester II-2013, terutama pada investasi non-bangunan dan konsumsi swasta. Secara keseluruhan, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi 2013 akan menuju batas bawah kisaran prakiraan 5,8% - 6,2%.
    6. Kondisi likuiditas baik di pasar uang maupun pada perbankan tetap terjaga. Perkembangan suku bunga PUAB overnight relatif stabil pada sekitar 4,8% dan tidak tercatat peningkatan yang signifikan pada volume transaksi pinjam-meminjam di pasar uang. Terjaganya kondisi likuiditas perbankan tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga yang tetap terjaga. Ketahanan perbankan tetap kuat, antara lain tercermin dari tingginya rasio permodalan dan tetap rendahnya non performing loan (NPL). Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan masih dalam tren menurun menjadi 19,6% (yoy) pada pertengahan Agustus 2013, mengikuti perlambatan aktivitas perekonomian di dalam negeri. Di pasar modal, kenaikan yield SBN didorong kenaikan ekspektasi inflasi dan suku bunga internasional, sementara harga saham tercatat kembali meningkat pada perdagangan 28 Agustus 2013 setelah menurun tajam dari posisi Desember 2012 akibat dampak global.
  2. Secara keseluruhan, Dewan Gubernur menilai bahwa proses penyesuaian perekonomian nasional terhadap perlambatan ekonomi terindikasi mulai berlangsung. Hal ini tidak terlepas dari bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang ditempuh Bank Indonesia selama ini maupun langkah-langkah koordinasi kebijakan dengan Pemerintah maupun dalam Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK). Meskipun demikian, Dewan Gubernur memandang bahwa tekanan dan ketidakpastian perekonomian global ke depan masih relatif tinggi, baik terkait dengan waktu dan besarnya tapering stimulus moneter oleh the Fed, penurunan harga komoditas, maupun perlambatan pertumbuhan dunia. Sehubungan dengan itu, dalam RDG Bulanan hari ini tanggal 29 Agustus 2013, Dewan Gubernur memutuskan menempuh langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial dalam pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar Rupiah, penurunan defisit transaksi berjalan, serta penguatan ketahanan makroekonomi dan stabilisasi sistem keuangan sebagai berikut:
    1. Rapat Dewan Gubernur hari ini, Kamis 29 Agustus 2013, memutuskan untuk memperkuat bauran kebijakan lanjutan sebagai berikut. Pertama, menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 7,00%, suku bunga Lending Facility (LF) sebesar 25 bps menjadi 7,00%, dan suku bunga Deposit Facility (DF) sebesar 50 bps menjadi 5,25. Kenaikan BI Rate diharapkan dapat lebih memperkuat pengendalian ekspektasi inflasi dan memitigasi risiko kemungkinan terjadinya pengaruh pelemahan rupiah terhadap inflasi dan sebaliknya. Kebijakan ini juga sebagai bagian dari langkah untuk menekan defisit transaksi berjalan menuju pada tingkat yang sehat dan berkesinambungan.
    2. Memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah sejalan dengan kondisi fundamental perekonomian. Intervensi ganda melalui pasokan valas dan pembelian SBN dari pasar sekunder terus dilanjutkan secara terukur. Untuk menambah keragaman tenor dan memenuhi kebutuhan pengelolaan liquiditas valas, lelang Term Deposit (TD) valas dengan tenor overnight (o/n) sudah dimulai sejak hari ini, di samping tenor 7, 14, dan 30 hari yang selama ini telah ada. Untuk mengelola permintaan valas oleh non-residen tanpa mengurangi aspek kehati-hatian, peningkatan rekening vostro yang berasal dari divestasi atas hasil penyertaan langsung, pembelian saham dan/atau obligasi korporasi Indonesia serta SBN dikecualikan dalam perhitungan ketentuan pinjaman luar negeri jangka pendek bank sebesar maksimum 30% dari modal, akan segera diberlakukan. Penyediaan instrumen lindung nilai (hedging) kepada perbankan dan dunia usaha ditingkatkan melalui transaksi FX Swap baik secara bilateral maupun lelang reguler setiap hari Kamis. Bank-bank dapat secara bebas menerus-transaksikan (pass-on) transaksi FX Swap dengan nasabahnya kepada bank lain atau ke Bank Indonesia. Bank Indonesia juga akan memperpendek jangka waktu month-holding-period kepemilikan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dari 6 bulan menjadi 1 bulan.
    3. Memperkuat pengelolaan likuiditas di pasar uang dan perbankan agar tetap terjaga untuk mendukung stabilitas pasar keuangan, industri perbankan, dan stabilitas sistem keuangan secara keseluruhan. Melalui penguatan operasi moneter, baik dengan intervensi ganda di pasar valas dan pembelian SBN dari pasar sekunder maupun operasi moneter di pasar uang Rupiah, kondisi likuiditas di pasar uang maupun perbankan selama ini tetap terjaga. Untuk memperkuat operasi moneter Bank Indonesia, manajemen likuiditas perbankan, dan sekaligus sebagai langkah-langkah lanjutan pendalaman pasar keuangan, mulai hari ini Bank Indonesia melakukan lelang Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dengan tenor 1 dan 3 bulan. Seperti diumumkan sebelumnya, SDBI adalah instrumen moneter Bank Indonesia dapat diperdagangkan antar-bank di dalam negeri. Selain itu, Bank Indonesia juga mempunyai instrumen term-repo dengan underlying SBI dan SBN yang sewaktu-waktu dapat dilakukan untuk mengantisipasi risiko kemungkinan terjadinya tekanan dan keketatan likuiditas di pasar uang secara industri perbankan.
    4. Memperkuat kebijakan makroprudensial untuk pengelolaan kredit dan manajemen risiko perbankan. Sebagai tindak lanjut keputusan RDG sebelumnya, penguatan ketentuan Loan-to-Value (LTV) terhadap tipe-tipe tertentu kredit kepemilikan rumah dan apartemen akan diberlakukan dalam waktu dekat. Langkah-langkah pengawasan (supervisory action) terhadap bank-bank yang penyaluran kreditnya masih tinggi juga dilakukan. Untuk memperkuat manajemen risiko likuiditas perbankan, dilakukan penguatan ketentuan GWM-LDR dan GWM Sekunder. Bank Indonesia juga akan memperhitungkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) sebagai komponen Giro Wajib Minimum (GWM) Sekunder.
    5. Memperkuat kerjasama antar bank sentral dalam kebijakan moneter dan stabilitas sistem keuangan. Bank Indonesia menilai bahwa jumlah cadangan devisa yang ada masih cukup untuk menghadapi tekanan pada neraca pembayaran. Namun demikian, masih tingginya tekanan dan ketidakpastian perekonomian global ke depan memerlukan langkah-langkah antisipasi baik dengan penguatan respon bauran kebijakan maupun ketahanan dalam menghadapi gejolak eksternal, termasuk bantalan kecukupan cadangan devisa secara berlapis (second line of defense). Dalam kaitan ini, Bank Indonesia telah menandatangani perpanjangan Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan Bank of Japan sebagai agen Menteri Keuangan Jepang sebesar US$ 12 miliar, berlaku efektif 31 Agustus 2013. Pembahasan untuk kerjasama serupa juga sedang dilakukan dengan bank-bank sentral di kawasan.
  3. Bank Indonesia dari waktu ke waktu akan mengevaluasi perkembangan perekonomian global dan dampaknya terhadap kinerja perekonomian nasional, serta siap menempuh langkah-langkah lanjutan untuk penguatan seluruh instrumen dalam bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang diperlukan. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan FKSSK untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan, khususnya dalam pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar Rupiah dan pasar keuangan, penurunan defisit transaksi berjalan dan kesehatan neraca pembayaran, serta penguatan manajemen risiko dan ketahanan sektor keuangan. Berbagai langkah kebijakan tersebut disadari akan berdampak pada penurunan kinerja perekonomian dalam jangka pendek, namun diyakini dapat memperkuat kesinambungan perekonomian nasional dalam jangka menengah-panjang.

Jakarta, 29 Agustus 2013
Departemen Komunikasi

Difi A. Johansyah
Direktur Eksekutif

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel