BI Rate Tetap 5,75% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

No. 14/ 32 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 13 September 2012 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%. Tingkat suku bunga tersebut dipandang masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan sasaran inflasi tahun 2012 dan 2013, yaitu 4,5% ± 1%. Bank Indonesia memandang bahwa keseimbangan eksternal sejauh ini menunjukkan defisit transaksi berjalan pada Triwulan III-2012 mengalami perbaikan seperti yang diperkirakan sebelumnya. Namun demikian, Bank Indonesia tetap mewaspadai tekanan terhadap transaksi berjalan terutama yang bersumber dari risiko memburuknya prospek perekonomian global. Ke depan, Bank Indonesia terus mengevaluasi dampak dari kebijakan-kebijakan yang telah dilakukan sebelumnya dan apabila diperlukan akan mengambil langkah-langkah kebijakan lanjutan. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dalam mengelola permintaan domestik dan perbaikan neraca pembayaran agar tetap sejalan dengan upaya menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dewan Gubernur menilai kinerja perekonomian domestik masih tetap sejalan dengan kapasitas ekonomi. Dalam Triwulan III-2012 masih tetap kuat didukung tingginya konsumsi dan investasi. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cukup tinggi didukung oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek ekonomi dan terkendalinya inflasi. Investasi juga tetap kuat yang didorong oleh tingginya kepercayaan dunia usaha terhadap prospek ekonomi, dan didukung pembiayaan investasi baik yang bersumber dari perbankan maupun investasi langsung (FDI). Di sisi lain, ekspor diperkirakan akan sedikit membaik sejalan dengan membaiknya prospek beberapa negara mitra dagang utama, walaupun masih dibayangi risiko pelemahan perekonomian global.

Sesuai dengan prakiraan, Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan III-2012 diprakirakan mengalami perbaikan walaupun tetap perlu diwaspadai. Defisit transaksi berjalan diprakirakan akan lebih rendah dibandingkan triwulan II-2012, sesuai dengan prakiraan sebelumnya. Hal itu terindikasi dari mulai membaiknya neraca perdagangan pada bulan Juli 2012. Di sisi lain, defisit transaksi berjalan dapat diimbangi oleh surplus transaksi modal dan finansial yang diprakirakan meningkat, terutama FDI. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor yang tinggi terhadap perekonomian Indonesia. Ke depan, kondisi NPI diharapkan semakin baik dengan ekspektasi bahwa kondisi perekonomian global dan harga komoditas ekspor akan membaik serta didukung oleh respon kebijakan yang efektif. Sementara itu, jumlah cadangan devisa pada akhir Agustus 2012 sedikit meningkat dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya, yaitu mencapai 109 miliar dolar AS atau setara dengan 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah pada Agustus 2012 masih berlanjut namun dengan intensitas yang menurun. Rupiah secara point-to-point melemah sebesar 0,94% (mtm) ke level Rp9.535 per dolar AS atau secara rata-rata melemah 0,63% (mtm) menjadi Rp9.493 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah dipengaruhi oleh prospek pemulihan ekonomi global yang masih rentan dan pasar keuangan global yang masih dalam kondisi ketidakpastian. Selain itu, ekspor yang tertekan di tengah impor yang masih relatif kuat juga turut memengaruhi keseimbangan supply-demand valas di dalam negeri. Untuk itu, Bank Indonesia terus mencermati keseimbangan di pasar valuta asing untuk mengarahkan pergerakan nilai tukar Rupiah sejalan dengan fundamentalnya.

Tekanan inflasi masih terkendali meskipun meningkat didorong oleh faktor musiman (Hari Raya) dan tekanan harga pangan. Inflasi IHK pada bulan Agustus 2012 tercatat 0,95% (mtm) sehingga secara tahunan tercatat sebesar 4,58% (yoy). Inflasi Agustus yang meningkat didorong oleh kenaikan harga sejumlah komoditas bahan pangan yang disebabkan oleh faktor musiman terkait dengan Hari Raya, volatilitas harga pangan global, dan adanya gangguan pasokan. Hal tersebut juga berdampak pada meningkatnya inflasi inti meskipun masih berada pada level yang relatif rendah (4,16%, yoy). Tekanan inflasi inti diperkirakan bersifat temporer dan secara fundamental inflasi inti tetap terjaga. Ke depan, inflasi di 2012 dan 2013 diperkirakan masih akan berada pada kisaran sasaran sebesar 4,5% ± 1%.

Perkembangan sistem perbankan menunjukkan stabilitas yang tetap terjaga dengan fungsi intermediasi yang semakin baik dalam mendukung pembiayaan perekonomian. Kinerja industri perbankan yang solid tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Sementara itu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Juli 2012 mencapai 25,2% (yoy). Kredit investasi tumbuh cukup tinggi, sebesar 29,6% (yoy), dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian nasional. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 27,3% (yoy) dan 18,9% (yoy).

Ke depan, Dewan Gubernur tetap berupaya mencapai keseimbangan eksternal secara gradual dengan tetap fokus pada pengendalian inflasi. Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini, termasuk penguatan langkah-langkah mengendalikan permintaan domestik. Di sisi lain, respon kebijakan suku bunga BI Rate tetap diarahkan untuk mengendalikan tekanan inflasi dari sisi fundamental sesuai prakiraan makroekonomi. Selain itu, koordinasi dengan Pemerintah juga terus diperkuat dalam rangka mengurangi tekanan terhadap keseimbangan eksternal.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2012 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) yang dapat diakses melalui Website Bank Indonesia.

Jakarta, 13 September 2012
Kepala Departemen Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Dody Budi Waluyo
Direktur Eksekutif

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel