BI Rate Tetap 5,75% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
19 Juli 2019

No. 14/ 5 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada tanggal 8 Maret 2012 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 5,75%. Tingkat BI Rate tersebut dinilai masih konsisten dengan tekanan inflasi dari sisi fundamental yang masih terkendali ke depan serta tetap kondusif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dari dampak penurunan kinerja perekonomian dunia. Terhadap rencana kebijakan Pemerintah di bidang energi (BBM), Bank Indonesia memperkirakan dampaknya pada inflasi bersifat temporer (one-time shock) dan inflasi akan kembali menurun sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia akan mengambil langkah kebijakan yang diperlukan untuk mengantisipasi dampak inflasi jangka pendek tersebut melalui penguatan operasi moneter untuk mengendalikan ekses likuiditas jangka pendek, dengan tetap menjaga konsistensi kebijakan suku bunga dengan prakiraan makroekonomi ke depan. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, serta koordinasi kebijakan dengan Pemerintah baik melalui forum Tim Pengendalian Inflasi di tingkat pusat (TPI) maupun Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk membawa inflasi tahun 2013 menuju kisaran 4,5% ± 1%.

Dewan Gubernur berpandangan bahwa kegiatan perekonomian domestik masih menunjukkan kinerja yang kuat di tengah kinerja pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat dan berlanjutnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2012 diprakirakan mencapai 6,5% dan akan berlanjut pada triwulan II-2012 meskipun tidak setinggi pertumbuhan di triwulan I-2012. Pertumbuhan ekonomi didukung oleh masih kuatnya permintaan domestik, khususnya konsumsi rumah tangga dan investasi. Sementara itu, pertumbuhan ekspor diprakirakan melambat seiring dengan perlambatan ekonomi global dan penurunan harga komoditas global non-energi. Perkembangan ekonomi pada triwulan I dan II tersebut masih sejalan dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 6,3%-6,7% untuk keseluruhan tahun 2012. Penimbangan risiko menunjukkan pertumbuhan cenderung bias ke bawah baik karena dampak perekonomian global maupun rencana kebijakan Pemerintah di bidang energi, apabila tidak ditempuh langkah-langkah stimulus khususnya dari kebijakan fiskal di samping dari kebijakan moneter dan perbankan.

Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan I-2012 diprakirakan akan mencatat surplus yang lebih kecil. Hal ini sejalan dengan defisit transaksi berjalan pada triwulan I-2012 yang diperkirakan membesar seiring dengan melambatnya ekspor di tengah impor yang masih tetap tinggi seiring dengan aktivitas ekonomi domestik yang kuat dan tingginya konsumsi BBM. Sementara itu, surplus transaksi modal dan keuangan mengalami penurunan karena arus masuk investasi portofolio yang lebih rendah. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa sampai dengan akhir Februari 2012 mencapai 112,2 miliar dolar AS, atau setara dengan 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Pergerakan nilai tukar Rupiah relatif stabil meskipun sedikit mengalami tekanan. Selama Februari 2012, Rupiah secara point-to-point melemah sebesar 0,33% (mtm) ke level Rp9.020 per dolar AS, namun secara rata-rata menguat 0,69% (mtm) menjadi Rp8.998 per dolar AS. Beberapa faktor yang menyebabkan tekanan terhadap Rupiah antara lain berasal dari penyesuaian portofolio investor asing akibat sentimen global dan meningkatnya kebutuhan impor sejalan dengan kuatnya aktivitas ekonomi domestik. Untuk menjaga keseimbangan pasar domestik, Bank Indonesia terus memonitor dan menempuh langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah baik melalui pasar valas maupun pasar sekunder SBN.

Inflasi terus melanjutkan tren yang menurun. Inflasi IHK pada Februari 2012 tercatat 3,56% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,65% (yoy). Sementara itu, inflasi inti tetap terkendali, didukung oleh nilai tukar Rupiah yang relatif stabil, masih memadainya respon penawaran terhadap kenaikan permintaan, ekspektasi inflasi yang terjaga, dan masih berlanjutnya penurunan harga komoditas global. Penurunan inflasi IHK didorong oleh deflasi bahan pangan seiring dengan pasokan yang terjaga, baik yang berasal dari domestik maupun impor. Di sisi lain, inflasi administered prices relatif stabil sejalan dengan minimalnya dampak kenaikan cukai rokok pada awal tahun. Ke depan, rencana kebijakan Pemerintah terkait subsidi BBM diperkirakan akan berdampak temporer pada kenaikan inflasi IHK, baik melalui dampak langsung terhadap inflasi kelompok administered prices maupun dampak tidak langsung terhadap biaya transportasi dan barang-barang lainnya. Bank Indonesia meyakini inflasi akan kembali menurun sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian setelah berakhirnya dampak temporer dari rencana kebijakan Pemerintah tersebut.

Stabilitas sistem perbankan tetap terjaga dan disertai dengan fungsi intermediasi yang semakin baik. Industri perbankan menunjukkan kinerja yang semakin solid sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) yang berada jauh di atas minimum 8% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Sementara itu, intermediasi perbankan juga terus membaik, tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Januari 2012 mencapai 23,7% (yoy). Kredit investasi tumbuh cukup tinggi,sebesar 38,1% (yoy) dan diharapkan dapat meningkatkan kapasitas perekonomian. Sementara itu, kredit modal kerja dan kredit konsumsi masing-masing tumbuh sebesar 20,2% (yoy) dan 20,3% (yoy).

Ke depan, Dewan Gubernur akan terus mewaspadai dampak kebijakan Pemerintah di bidang energi dan dampak penurunan ekonomi global terhadap perekonomian Indonesia. Bank Indonesia akan mengoptimalkan berbagai kebijakan yang diperlukan untuk meminimalkan dampak temporer terhadap inflasi dari kebijakan Pemerintah terkait BBM dan mengendalikan tekanan inflasi ke depan sesuai kondisi fundamental dan berada dalam sasarannya. Dalam hal ini, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh selama ini. Respon kebijakan suku bunga tetap diarahkan untuk mengendalikan tekanan inflasi dari sisi fundamental sesuai prakiraan makroekonomi ke depan. Untuk mengendalikan tekanan inflasi dalam jangka pendek yang bersifat temporer, kebijakan difokuskan pada penguatan operasi moneter untuk mengendalikan ekses likuiditas jangka pendek. Di samping itu, penguatan koordinasi kebijakan terus dilakukan dengan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah termasuk melalui forum TPI dan TPID. Dengan berbagai kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan koordinasi dengan Pemerintah tersebut, meskipun inflasi pada tahun 2012 dapat cenderung berada di atas sasarannya karena dampak temporer jika kebijakan Pemerintah di bidang BBM tersebut diambil, inflasi pada tahun 2013 diyakini akan kembali berada dalam kisaran 4,5% ± 1%.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2012 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di Website Bank Indonesia.

Jakarta, 8 Maret 2012
Biro Hubungan Masyarakat

Difi A. Johansyah
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel