BI Rate Tetap Pada 6,75% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
02 Desember 2020
No. 13/17/PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 12 Mei 2011 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 6,75%. Keputusan ini diambil setelah Dewan Gubernur melakukan asessmen secara keseluruhan terhadap perkembangan makroekonomi, khususnya kepentingan untuk menjaga stabilitas internal (inflasi) dan stabilitas eksternal (neraca pembayaran). Dewan Gubernur memandang bahwa penguatan kebijakan makroprudensial terhadap aliran masuk modal asing tetap penting untuk meminimalkan risiko pembalikan modal asing dan membantu agar pergerakan nilai tukar Rupiah tetap sejalan dengan pergerakan mata uang di kawasan Asia. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai tekanan inflasi, khususnya yang bersumber dari harga komoditas internasional, peningkatan permintaan domestik, serta kebijakan Pemerintah terkait subsidi BBM dan kemungkinan gangguan pasokan bahan pangan. Bank Indonesia akan terus memperkuat penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, termasuk melalui pengendalian likuiditas dan respon suku bunga, untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan membawa inflasi pada sasaran yang ditetapkan, yaitu 5%±1% pada tahun 2011 dan 4,5%±1% pada tahun 2012.

Dewan Gubernur memandang bahwa kinerja ekonomi domestik semakin kuat. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I-2011 tercatat sebesar 6,5% (yoy), didukung terutama oleh kinerja ekspor yang kuat dan investasi yang meningkat. Bank Indonesia meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat tersebut diperkirakan akan tetap berlanjut di triwulan II-2011, sehingga memperkuat optimisme pencapaian pertumbuhan pada tahun 2011 akan mengarah ke batas atas prakiraan kisaran 6,0-6,5%. Ekspor diperkirakan masih akan menjadi penopang pertumbuhan, selain investasi yang akan terus meningkat dan konsumsi yang tetap sehat. Secara sektoral pada triwulan II-2011, pertumbuhan akan ditopang oleh sektor industri, sektor pengangkutan dan komunikasi serta sektor keuangan.

Neraca Pembayaran Indonesia pada triwulan II-2011 diperkirakan masih akan mencatat surplus yang besar. Surplus tersebut berasal baik dari transaksi berjalan maupun transaksi modal dan finansial. Kinerja ekspor diperkirakan tetap solid sejalan dengan masih kuatnya permintaan dan tingginya harga komoditas internasional. Sementara itu, impor diperkirakan juga akan tumbuh cukup tinggi sejalan dengan kuatnya permintaan, antara lain untuk komoditas minyak, bahan baku dan barang modal. Di sisi transaksi modal dan finansial, aliran masuk modal asing diperkirakan masih akan tetap besar, baik dalam bentuk investasi langsung (FDI) maupun investasi portofolio. Sementara itu, cadangan devisa sampai dengan akhir April 2011 tercatat sebesar 113,8 miliar dolar AS atau setara dengan 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Sejalan dengan masih kuatnya aliran masuk modal asing, nilai tukar Rupiah cenderung menguat di bulan April 2011. Selama bulan April 2011, nilai tukar Rupiah menguat sebesar 1,68% (ptp) menjadi Rp. 8.564 per dolar AS dengan volatilitas yang tetap terjaga. Kecenderungan penguatan nilai tukar Rupiah tersebut tidak terlepas dari persepsi positif investor terhadap solidnya fundamental perekonomian Indonesia. Bank Indonesia memandang bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah tersebut masih sejalan dengan upaya Bank Indonesia meredam tekanan inflasi dan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Sejauh ini apresiasi nilai tukar Rupiah dipandang tidak berdampak negatif terhadap daya saing produk domestik, sehingga kinerja ekspor diperkirakan masih akan tetap kuat.

Di sisi harga, meskipun IHK pada bulan April 2011 kembali mengalami deflasi, Bank Indonesia memandang risiko tekanan inflasi ke depan masih tetap tinggi. Inflasi IHK pada bulan April 2011 mencapai 6,16% (yoy) atau deflasi 0,31% (mtm) seiring dengan koreksi inflasi bahan pangan setelah langkah-langkah Pemerintah dalam mengatasi gangguan pasokan dan distribusi bahan pangan. Walaupun kembali mengalami deflasi dan cenderung menurun, inflasi volatile food tercatat masih relatif tinggi. Di sisi lain, inflasi inti menunjukkan tren yang meningkat. Pada bulan April 2011, inflasi inti tercatat sebesar 4,62% (yoy) atau 0,25% (mtm). Cenderung meningkatnya tekanan inflasi inti antara lain didorong oleh tren kenaikan harga komoditas internasional, masih tingginya ekspektasi inflasi, dan meningkatnya permintaan. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai beberapa faktor risiko yang dapat meningkatkan tekanan inflasi, termasuk yang bersumber dari tingginya harga komoditas internasional, meningkatnya permintaan, kecukupan pasokan dan distribusi bahan pangan, serta kebijakan Pemerintah terkait dengan subsidi BBM.

Stabilitas sistem keuangan tetap solid disertai terus membaiknya fungsi intermediasi perbankan dengan kondisi permodalan dan likuiditas perbankan yang terjaga. Terjaganya kondisi permodalan dan likuiditas dicerminkan oleh tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) di atas 17% dan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Intermediasi perbankan juga semakin membaik tercermin dari pertumbuhan kredit yang terus meningkat, yakni pada April 2011 mencapai 23,8% (yoy), ditopang oleh pertumbuhan pada seluruh jenis kredit termasuk kredit kepada UMKM.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2011 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di Website Bank Indonesia.

Jakarta, 12 Mei 2011
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Difi A. Johansyah
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel