Bank Indonesia Mewaspadai Tingginya Risiko Tekanan Inflasi - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

No. 13 / 01/ PSHM / Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 5 Januari 2011 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. Namun demikian, Dewan Gubernur mewaspadai tekanan inflasi yang cenderung meningkat ke depan, seiring dengan gangguan pasokan bahan-bahan kebutuhan pokok (volatile foods) dan kemungkinan penyesuaian harga-harga yang ditetapkan Pemerintah (administered prices). Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia berpandangan bahwa kenaikan ekspektasi inflasi akan dapat diminimalisir apabila dilakukan peningkatan efektivitas produksi, distribusi, dan ketersediaan bahan pokok di tingkat nasional dan daerah. Dari sisi Bank Indonesia, bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah ditempuh tahun lalu akan terus diperkuat dengan mengoptimalkan semua instrumen secara seimbang dan terukur. Sebagaimana diketahui, selama ini Bank Indonesia telah menempuh sejumlah kebijakan untuk mengendalikan likuiditas dan capital inflows seperti kenaikan GWM (rupiah dan valas), one month holding period (OMHP) terhadap SBI, dan pembatasan pinjaman luar negeri jangka pendek bank.

Momentum pemulihan ekonomi global kembali meningkat meskipun masih dibayangi oleh risiko krisis utang di Eropa. Di tengah masih lemahnya pemulihan ekonomi di negara maju, kinerja ekonomi negara emerging markets tetap menunjukkan peningkatan. Selain itu, harga komoditas global terus menunjukkan peningkatan, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor supply-demand tetapi juga didorong oleh beralihnya investasi ke pasar komoditas akibat pelemahan dolar AS dan rendahnya imbal hasil di negara maju. Sejauh ini, respon kebijakan bank sentral negara-negara maju masih cenderung mempertahankan suku bunga pada level yang relatif rendah. Sementara itu, beberapa negara emerging markets telah meningkatkan suku bunga kebijakannya yang disertai kebijakan untuk mengelola capital inflows dan menstabilkan pergerakan nilai tukar.

Di tengah kondisi ekonomi dan keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian tersebut, Dewan Gubernur meyakini perekonomian Indonesia pada 2010 dapat tumbuh sekitar 6%. Capaian ini didukung oleh pertumbuhan ekonomi pada triwulan IV-2010 yang diperkirakan mencapai 6,1%, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh kuatnya permintaan domestik terutama konsumsi rumah tangga dan investasi. Peningkatan ekonomi Indonesia juga didukung oleh kinerja sisi eksternal yang cukup solid. Pertumbuhan ekspor di triwulan IV-2010 masih tetap tinggi meskipun melambat, demikian pula halnya dengan impor sehingga transaksi berjalan masih tetap mengalami surplus. Untuk keseluruhan 2010, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) mengalami surplus yang cukup besar di dukung oleh masih kuatnya aliran masuk modal asing khususnya investasi langsung (PMA) dan investasi portofolio. Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa sampai dengan akhir Desember 2010 tercatat sebesar USD96,2 miliar atau setara dengan 7,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Sejalan dengan kuatnya kinerja eksternal ekonomi Indonesia tersebut, nilai tukar rupiah mencatat apresiasi disertai tingkat volatilitas yang cukup rendah. Secara point-to-point Rupiah menguat 4,4% (ytd) menjadi Rp9.010 per USD disertai volatilitas yang menurun. Kebijakan pengelolaan capital inflows dan stabilitas nilai tukar yang ditempuh Bank Indonesia melalui intervensi valas dan akumulasi cadangan devisa mendorong ekspektasi positif terhadap perekonomian domestik. Secara relatif, penguatan Rupiah lebih rendah dari apresiasi nilai tukar negara di kawasan, dan karenanya daya saing Indonesia masih cukup kompetitif.

Dewan Gubernur memandang tingginya tekanan inflasi pada tahun 2010 lebih disebabkan oleh kenaikan harga kelompok volatile foods. Inflasi IHK pada Desember 2010 mencapai 0,92% (mtm) atau 6,96% (yoy). Angka realisasi inflasi IHK tersebut lebih tinggi dari target inflasi yang ditetapkan Pemerintah sebesar 5%±1%. Deviasi inflasi dari targetnya terutama disebabkan oleh tingginya inflasi kelompok volatile foods yang mencapai 17,74% (yoy) karena adanya gangguan produksi dan distribusi akibat anomali cuaca. Kenaikan inflasi volatile foods yang cukup tajam tersebut juga dialami oleh beberapa negara di kawasan. Sementara itu, kelompok administered prices menunjukan inflasi yang moderat sebesar 5,40% (yoy) dan inflasi inti relatif terkendali pada tingkat yang cukup rendah yakni sebesar 4,28% (yoy). Perkembangan inflasi inti yang terjaga tersebut ditopang oleh nilai tukar rupiah yang menguat, ekspektasi inflasi yang terjaga, serta kapasitas perekonomian yang sejauh ini masih dapat memenuhi peningkatan permintaan.

Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga yang disertai terus membaiknya fungsi intermediasi perbankan. Industri perbankan semakin solid sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%. Intermediasi perbankan juga semakin membaik tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga 31 Desember 2010 mencapai 22,8% (yoy). Pertumbuhan tersebut lebih banyak berasal dari kredit UMKM. Sejauh ini, krisis utang yang terjadi di Eropa tidak memberikan dampak negatif terhadap kinerja perbankan nasional. Hal ini mengingat relatif kecilnya exposure perbankan nasional terhadap perbankan di negara-negara Eropa.

Ke depan, Dewan Gubernur meyakini prospek ekonomi Indonesia diprakirakan akan tetap kuat. Pertumbuhan PDB pada tahun 2011 dan 2012 diprakirakan tumbuh lebih tinggi, masing-masing sebesar 6,3% terutama didorong oleh permintaan domestik khususnya investasi yang mengalami akselerasi. Kinerja NPI pada tahun 2011 diprakirakan masih akan mencatat surplus yang relatif besar, meskipun lebih rendah dibandingkan surplus pada tahun 2010. Ekspor tetap tumbuh tinggi namun impor tumbuh lebih cepat sejalan dengan kuatnya permintaan domestik sehingga surplus Neraca Transaksi Berjalan diprakirakan lebih rendah. Di sisi lain, Neraca Transaksi Modal dan Finansial (TMF) diprakirakan masih akan mencatat surplus yang cukup tinggi, didorong oleh besarnya aliran modal masuk baik dalam bentuk investasi portofolio maupun investasi langsung (PMA).

Akan tetapi, Dewan Gubernur memandang bahwa peningkatan kegiatan ekonomi tersebut akan disertai dengan tekanan inflasi yang meningkat. Tekanan inflasi dapat berasal dari gangguan pasokan bahan-bahan kebutuhan pokok (volatile foods) dan kemungkinan penyesuaian harga-harga yang ditetapkan Pemerintah (administered prices), di samping kenaikan permintaan dan harga komoditas internasional. Sementara itu, risiko lainnya yang perlu mendapat perhatian adalah terkait masih tingginya aliran modal masuk ditengah ekses likuiditas yang masih cukup besar. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial. Terkait dengan hal ini, berbagai kebijakan yang telah ditempuh selama ini baik dalam pengendalian likuiditas maupun dalam pengelolaan capital inflows akan terus dievaluasi dan, apabila diperlukan, disesuaikan guna mendukung efektivitas kebijakan moneter.

Langkah-langkah di atas perlu didukung oleh peningkatan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah. Hal ini terutama diperlukan untuk memperkuat respon sisi suplai ditengah kecenderungan meningkatnya aktivitas ekonomi ke depan sehingga tidak menimbulkan tekanan inflasi. Dalam konteks ini, kerjasama dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi di tingkat pusat (TPI) maupun daerah (TPID) perlu terus diperkuat dengan mempertajam program-program untuk meningkatkan sisi pasokan dan perbaikan distribusi pada khususnya. Bank Indonesia berharap dan percaya bahwa Pemerintah akan menangani hal ini dengan sebaik-baiknya. Berbagai upaya dan langkah tersebut di atas diyakini akan membawa inflasi pada sasarannya yaitu 5%±1% pada tahun 2011 dan 4,5%±1% pada tahun 2012.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2011 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di Website Bank Indonesia.

Jakarta, 5 Januari 2011
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Difi A. Johansyah
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel