BI Rate Tetap Pada Level 6,5% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
19 Juli 2019
No. 12 / 39 / PSHM / Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 4 Agustus 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 6,5%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap perkembangan terkini perekonomian yang secara umum menunjukkan perkembangan yang terus membaik. Namun demikian, meningkatnya tekanan inflasi akhir-akhir ini menjadi perhatian khusus Dewan Gubernur akan menempuh kebijakan moneter dan perbankan yang diperlukan agar perkembangan inflasi ke depan tetap berada pada sasaran yang ditetapkan, yaitu sebesar 5% ±1% untuk tahun 2010 dan 2011. Untuk saat ini, Dewan Gubernur memandang BI Rate sebesar 6,5% masih cukup memadai untuk menjaga ekspektasi inflasi ke depan dengan tetap mewaspadai mulai meningkatnya inflasi. Dalam kaitan ini, dalam waktu dekat Bank Indonesia akan menempuh langkah-langkah untuk memperketat pengendalian likuiditas dengan tanpa berdampak pada terganggunya intermediasi perbankan, khususnya melalui penyesuaian Giro Wajib Minimum (GWM).

Dewan Gubernur mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi domestik masih dalam tren meningkat dan disertai terjaganya stabilitas sistem keuangan. Asesmen terhadap perkembangan ekonomi selama bulan Juli 2010 memberikan indikasi bahwa ekonomi domestik menunjukkan perbaikan, di tengah masih adanya risiko ketidakpastian global terutama terkait perlambatan ekonomi Cina dan prospek pemulihan ekonomi AS. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan akan lebih tinggi, didukung oleh kinerja ekspor dan investasi yang meningkat, serta masih kuatnya konsumsi. Di sisi penawaran, kinerja sektor perdagangan dan industri diperkirakan masih menunjukkan peningkatan sejalan dengan peningkatan di sisi permintaan.

Perbaikan ekonomi global yang terus berlanjut secara umum berdampak positif terhadap neraca pembayaran Indonesia. Neraca pembayaran diperkirakan masih mencatat surplus baik di sisi neraca perdagangan maupun neraca modal dan finansial. Surplus pada neraca perdagangan diperkirakan sedikit lebih rendah dari perkiraan akibat impor yang meningkat cukup tinggi sejalan dengan perbaikan ekonomi domestik. Surplus pada neraca transaksi modal dan finansial ditopang oleh meningkatnya aliran modal yang didukung oleh persepsi positif investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia. Dengan berbagai perkembangan tersebut, cadangan devisa pada 30 Juli 2010 mencapai USD78,8 miliar atau setara dengan 6,03 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Hal ini mendorong nilai tukar Rupiah selama Juli 2010 bergerak relatif stabil dengan kecenderungan menguat.

Di sisi harga, Dewan Gubernur mewaspadai mulai meningkatnya tekanan inflasi. Inflasi IHK pada Juli 2010 tercatat cukup tinggi yakni mencapai 1,57% (mtm) atau 6,22% (yoy). Sumber tekanan inflasi terutama berasal dari kenaikan inflasi kelompok bahan-bahan makanan, khususnya beras, akibat ketidakpastian musim. Sedangkan tekanan inflasi yang bersumber dari inflasi inti (core inflation) sejauh ini masih pada tingkat yang rendah didukung oleh terjaganya kecukupan respon penawaran terhadap peningkatan permintaan dan nilai tukar yang cenderung terapresiasi. Dengan demikian, Dewan Gubernur memandang bahwa sebagian besar faktor meningkatnya inflasi adalah musiman dan karenanya perlu menjaga agar hal ini tidak berdampak pada peningkatan ekspektasi inflasi ke depan.

Stabilitas sistem keuangan masih terjaga didukung oleh kondisi sektor perbankan yang tetap kuat. Dewan Gubernur memandang bahwa terjaganya stabilitas sektor keuangan didukung oleh kondisi sector perbankan yang tetap kuat dalam menghadapi berbagai risiko, serta membaiknya fungsi intermediasi perbankan. Hal ini antara lain ditunjukkan oleh tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) perbankan saat ini yang mencapai 17,4% dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5,0%. Peningkatan fungsi intermediasi perbankan tercermin pada angka pertumbuhan kredit yang sampai dengan akhir Juli 2010 tumbuh sebesar 19,6% (yoy). Ke depan, Dewan Gubernur akan terus mencermati pertumbuhan kredit perbankan tersebut agar tetap dalam koridor pencapaian rencana pemberian kredit sesuai Rencana Bisnis Bank (RBB) terutama kredit untuk tujuan produktif, dan sejalan dengan peningkatan di sisi suplai perekonomian. Hal ini ditempuh untuk memastikan agar peningkatan di sisi permintaan dapat diimbangi sisi penawaran secara memadai sehingga tidak menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.

Bank Indonesia akan terus memperkuat langkah-langkah yang diperlukan termasuk penguatan koordinasi dengan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam rangka mengatasi tekanan inflasi. Dalam kaitan ini, Dewan Gubernur memandang bahwa langkah-langkah untuk terus memperkuat efektivitas kebijakan moneter dalam mengelola ekses likuiditas dinilai sangat penting. Berbagai upaya yang ditempuh Bank Indonesia tersebut dalam rangka mendukung tercapainya sasaran inflasi tahun 2010 dan 2011 sebesar 5%±1%.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) 4 Agustus 2010 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di website Bank Indonesia (www.bi.go.id/web/id/Publikasi).

Jakarta, 4 Agustus 2010
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Dyah N.K. Makhijani
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel