BI Rate Tetap Sebesar 6,5% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Mei 2019

No. 12 / 17 / PSHM / Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 6 April 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 6,5%. Hasil evaluasi atas kinerja perekonomian selama triwulan I-2010 dan prospek ekonomi ke depan, menunjukkan bahwa BI Rate pada tingkatan tersebut masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi tahun 2010 dan 2011 sebesar 5%±1%. Dewan Gubernur juga memandang bahwa BI Rate tersebut diyakini masih kondusif bagi upaya memperkuat proses pemulihan perekonomian, menjaga stabilitas keuangan, serta mendorong intermediasi perbankan.

Dewan Gubernur berpendapat bahwa penguatan ekonomi domestik terus berlanjut didukung kinerja ekonomi global yang semakin kondusif. Perkembangan hingga triwulan I-2010 menunjukkan pemulihan ekonomi global, terutama di Amerika Serikat, Cina dan India, berlangsung lebih cepat dan lebih kuat dari perkiraan semula. Sementara itu, penyelesaian krisis utang Yunani sejauh ini direspon positif oleh pelaku ekonomi dan hanya berdampak terbatas di pasar finansial. Pemulihan ekonomi global yang disertai dengan perbaikan persepsi risiko telah mendorong optimisme yang semakin kuat di pasar finansial dan pasar komoditas sebagaimana dicerminkan oleh indikator pasar modal, harga komoditas dan volume perdagangan dunia yang meningkat lebih tinggi dari perkiraan semula. Demikian juga halnya dengan peningkatan arus modal masuk global ke emerging markets, termasuk Indonesia.

Penguatan ekonomi domestik tercermin pada perkembangan sisi eksternal yang membaik, nilai tukar yang menguat, stabilitas harga yang terjaga, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Perbaikan ekonomi global berdampak positif bagi kinerja sektor eksternal Indonesia selama triwulan I-2010 terutama tercermin pada surplus transaksi berjalan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) yang lebih tinggi dari perkiraan semula. Perbaikan kinerja ekspor tidak hanya terjadi pada komoditi berbasis sumber daya alam, tetapi juga ekspor produk manufaktur. Sementara impor juga mencatat peningkatan sejalan dengan akselerasi permintaan domestik dan ekspor. Perkembangan yang positif ini juga sejalan dengan asesmen Bank Indonesia terhadap perkembangan ekonomi daerah yang menunjukkan bahwa ekspor produk perkebunan dan pertambangan mencatat kenaikan. Di sisi transaksi modal dan finansial, NPI juga mencatat surplus sejalan dengan aliran modal yang masih terus masuk karena kondisi makroekonomi yang membaik, imbal hasil rupiah yang masih menarik serta risiko investasi yang menurun. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir triwulan I-2010 mencapai USD71,8 miliar atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Nilai tukar Rupiah dalam tren menguat sejalan dengan fundamental perekonomian yang membaik dan risiko investasi yang menurun. Selama triwulan I-2010, Rupiah secara rata-rata mencatat penguatan sebesar 2,2%, yang dipengaruhi oleh membaiknya kinerja NPI, menurunnya persepsi risiko, serta masih menariknya imbal hasil. Indikator risiko yang membaik tercermin pada indikator credit default swaps (CDS) Indonesia yang saat ini berada pada level terendah, penurunan yield spread government bond Indonesia dengan US Treasury Note, serta perbaikan rating Indonesia.

Di sisi harga, tekanan inflasi pada triwulan I-2010 cenderung menurun ditandai oleh deflasi pada Maret 2010 sebesar 0,14%(mtm) sehingga secara tahunan inflasi IHK mencapai 3,43% (yoy). Penurunan tekanan inflasi terutama karena terjaganya ekspektasi inflasi sejalan dengan kecenderungan penguatan nilai tukar rupiah dan kecukupan pasokan merespon kenaikan permintaan. Selain itu, rendahnya tekanan inflasi juga dukung oleh meredanya tekanan inflasi yang bersumber dari volatile food (terutama beras) karena datangnya musim panen dan minimalnya tekanan inflasi yang bersumber dari administered price. Perkembangan inflasi tersebut sejalan dengan keyakinan Dewan Gubernur bahwa tekanan inflasi yang signifikan belum akan muncul setidaknya sampai Semester-I 2010. Secara keseluruhan untuk tahun 2010, Dewan Gubernur meyakini bahwa tekanan inflasi masih akan tetap rendah dan cenderung berada pada batas bawah kisaran sasaran 5%±1%.

Di sektor keuangan, stabilitas sistem perbankan tetap terjaga, disertai oleh rasio permodalan yang cukup tinggi dan rasio kredit macet pada tingkat yang rendah. Kestabilan sistem perbankan tercermin pada Financial Stability Index (FSI) yang pada akhir Maret 2010 masih cenderung menurun dan terjaga di bawah batas indikatif maksimum yang ditetapkan. Walaupun fungsi intermediasi perbankan masih belum seperti yang diharapkan, pertumbuhan kredit hingga akhir Maret 2010 tercatat sebesar 11% (yoy) sejalan dengan meningkatnya keyakinan pelaku ekonomi terhadap prospek perekonomian yang semakin membaik. Di sisi mikro, industri perbankan menunjukkan perkembangan yang tetap stabil sebagaimana tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) dan terjaganya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross di bawah 5%.

Perkembangan ekonomi global dan domestik yang membaik selama triwulan I-2010 diperkirakan akan terus berlanjut ke depan. Hal ini memperkuat keyakinan Dewan Gubernur bahwa prospek perekonomian Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula. Pertumbuhan ekonomi pada 2010 diperkirakan mencapai kisaran 5,5%-6,0%, lebih tinggi dari perkiraan semula sebesar 5,0%-5,5%. Perbaikan ekonomi tidak hanya ditopang oleh konsumsi yang tetap kuat, tetapi juga didukung oleh peningkatan ekspor sejalan dengan pemulihan ekonomi global. Peningkatan permintaan yang dibarengi oleh perbaikan iklim investasi diperkirakan mendorong peningkatan investasi secara signifikan. Perbaikan ekonomi tersebut diperkirakan terus berlanjut pada 2011 dengan pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 6,0%-6,5%. Peningkatan permintaan yang direspon sisi penawaran secara memadai tersebut diharapkan dapat menjaga tekanan inflasi ke depan pada tingkat yang rendah.

Ke depan, kebijakan moneter diarahkan untuk secara konsisten menjaga inflasi yang rendah dengan tetap memperhatikan upaya percepatan pemulihan ekonomi. Berbagai upaya akan dilakukan untuk semakin mendorong efektifitas transmisi kebijakan moneter, termasuk melalui peningkatan efisiensi perbankan. Disamping itu, Bank Indonesia juga akan melakukan upaya untuk mengelola risiko agar stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan tetap dapat dipertahankan. Sejumlah langkah yang akan ditempuh antara lain mengelola ekses likuditas di pasar uang dan perbankan agar kondusif bagi upaya memelihara stabilitas moneter dan stabilitas sistem keuangan, mengelola ekspektasi inflasi melalui komunikasi kebijakan moneter secara lebih efektif. Koordinasi kebijakan dengan Pemeintah untuk mengendalikan tekanan inflasi juga diperkuat melalui kelembagaan Tim Pengendali Inflasi (TPI) baik di tingkat pusat dan daerah (TPID). Di bidang perbankan, Bank Indonesia akan memantau dan mendorong peningkatan efisiensi perbankan agar fungsi intermediasi perbankan dapat dioptimalkan.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2010 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter serta prospek ke depan dapat dilihat dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM) di website Bank Indonesia (www.bi.go.id).

Jakarta, 6 April 2010
Direktorat Perencanaan Strategis dan
Hubungan Masyarakat

Difi A. Johansyah
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel