BI menurunkan BI Rate 25 bps, menjadi 6,75 % - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

No.11/18/PSHM/Humas

Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 6.75%. Penurunan ini diharapkan akan dapat lebih memfasilitasi percepatan pemberian kredit ditengah-tengah stabilitas makro yang tetap terkendali dengan baik.

Perkembangan perekonomian global selama Triwulan II-2009 mengindikasikan proses pemulihan sudah mulai. Di negara maju, tanda-tanda awal stabilisasi pemulihan perekonomian sudah berlangsung. Di negara emerging, pemulihan ekonomi semakin menunjukkan penguatan seperti dialami oleh China, India dan Korea Selatan. Ekspektasi yang positif terhadap pemulihan ekonomi dunia tersebut telah menimbulkan sentimen positif pada pelaku pasar keuangan global sehingga mendorong peningkatan arus modal masuk ke Indonesia.

Kecenderungan perekonomian global yang membaik telah memberikan dampak positif terhadap kinerja ekonomi Indonesia dalam Triwulan II-2009. Menguatnya perekonomian negara mitra dagang telah memperbaiki kinerja ekspor Indonesia sehingga transaksi berjalan mengalami surplus sebesar USD2,2 milyar. Dari sisi permintaan domestik, konsumsi diperkirakan masih dapat tumbuh cukup tinggi diatas 5% bersamaan dengan semakin rendahnya tingkat inflasi. Namun, dalam kondisi permintaan yang masih lemah dan tingkat utilisasi kapasitas yang masih rendah, kegiatan investasi masih terbatas. Mencermati perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi selama triwulan II-2009 diprakirakan berada dalam kisaran 3,7-4,0%.

Di sisi harga, tren penurunan inflasi masih berlanjut. Pada bulan Juni 2009 inflasi IHK tercatat sebesar 0.11% (mtm) atau 3.65% (yoy), yaitu jauh lebih rendah dibanding pola historisnya. Kenaikan harga beberapa komoditas pangan di pasar internasional yang memberikan tekanan inflasi masih dapat dikompensir oleh apresiasi Rupiah dan masih belum kuatnya permintaan domestik. Terjaganya pasokan dan lancarnya distribusi pangan juga mendukung rendahnya inflasi selama triwulan II-2009.

Nilai tukar rupiah mengalami apresiasi sebesar 9.99% selama Triwulan II-2009. Faktor fundamental ekonomi yang tetap positif, pelaksanaan Pemilu yang berjalan lancar dan sentimen positif ekonomi global telah meningkatkan arus dana asing masuk ke pasar domestik. Arus modal yang tetap positif, bersamaan dengan membaiknya ekspor berkontribusi positif pada kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Pada akhir Juni 2009 jumlah cadangan mencapai 57,6 miliar dolar AS, cukup untuk membiayai 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Di sektor keuangan, stabilitas sistem perbankan nasional tetap terjaga dengan CAR yang masih cukup tinggi yaitu 17,3% dan NPL yang berada pada batas-batas aman, yaitu dibawah 5%. Sementara itu likuiditas Perbankan, termasuk likuiditas dalam pasar uang antar bank makin membaik dan Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat. Walaupun respons suku bunga perbankan masih terbatas dan penyaluran kredit masih jauh dari yang diharapkan, rencana pemberian kredit bank-bank menunjukkan tanda-tanda ekspansi yang akan lebih cepat dalam beberapa waktu kedepan.

Kedepan, perekonomian Indonesia pada tahun 2009 diproyeksikan tumbuh lebih baik dari perkiraan semula dengan laju inflasi yang terus menurun. Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia tahun 2009 diperkirakan tumbuh mencapai batas atas kisaran 3,5%-4,0%. Pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II-2009 tetap didukung oleh permintaan domestik, terutama konsumsi, bersamaan dengan rendahnya inflasi. Sementara itu, inflasi pada 2009 diproyeksikan lebih rendah dari perkiraan sebelumnya bahkan berpotensi dibawah 5%, antara lain seiring dengan membaiknya ekspektasi inflasi dan terjaganya pasokan dan distribusi bahan makanan.

Bank Indonesia terus mencermati potensi tekanan inflasi di tahun 2010, termasuk potensi kenaikan harga komoditas dunia. Dalam konteks ini, kebijakan moneter ke depan diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara upaya mendorong perekonomian domestik dan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan dalam jangka menengah. Dengan pertimbangan tersebut, ke depan kebijakan moneter akan dilakukan secara lebih berhati-hati mengingat ruang pelonggaran moneter semakin terbatas. Selain itu, Bank Indonesia bersama dengan Pemerintah juga terus berkoordinasi untuk antisipasi berbagai dinamika yang berkembang dalam waktu dekat.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juli 2009 yang memuat perkembangan makroekonomi, kebijakan moneter, dan outlook 2009 dapat dilihat dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM).

Jakarta, 3 Juli 2009
Bank Indonesia

Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Didy Laksmono R.
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel