BI Rate turun 50 bps - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

No.11/ 7 /PSHM/Humas

Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 7,75%. Keputusan tersebut diambil setelah mencermati dan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan ekonomi dan keuangan di dalam dan luar negeri, khususnya terkait dengan masih berlanjutnya krisis keuangan global.

Perkembangan ekonomi global masih menunjukkan perlambatan yang lebih dalam, tercermin dari prakiraan merosotnya perekonomian negara-negara maju yang lebih besar dari perkiraan semula. Kondisi pasar keuangan global pun masih rapuh dengan semakin banyaknya laporan kerugian lembaga keuangan dunia. Perlambatan kondisi ekonomi negara maju tersebut memicu penurunan kinerja ekspor Indonesia, yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja perekonomian secara keseluruhan. Memburuknya kondisi pasar keuangan global menimbulkan kembali sentimen negatif terhadap negara-negara di emerging market yang masih berpotensi menekan perekonomian sejumlah negara, termasuk Indonesia.

Menurunnya kinerja ekspor telah memberikan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia, walaupun masih berada pada batas-batas yang aman. Cadangan devisa saat ini masih berada pada posisi 50,56 miliar dollar AS atau masih mampu memenuhi 5,4 bulan kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Jumlah cadangan devisa ini akan bertambah dengan masuknya dana hasil penjualan global bond Pemerintah yang baru-baru ini diterbitkan sebesar USD 3 milyar.

Tekanan inflasi pada bulan Februari masih relatif rendah, yaitu sebesar 0.21% (mtm) jauh lebih rendah dari rata-rata historisnya, sehingga inflasi tahunan menurun dibanding Januari 2009 menjadi 8,6% (yoy). Rendahnya tekanan inflasi pada Februari terutama disebabkan oleh ekspektasi inflasi yang membaik didukung oleh pasokan kebutuhan pokok yang terjaga dan harga BBM yang lebih rendah. Tekanan inflasi yang terkendali juga terkait dengan perkembangan imported inflation yang menurun sejalan dengan harga komoditas internasional yang lebih rendah.

Kondisi perbankan nasional sampai saat ini cukup stabil, seperti tercermin dari perkembangan berbagai indikator keuangan dan kesehatan bank. Kondisi likuiditas perbankan, termasuk aliran likuiditas dalam pasar uang antar bank, mulai mengalami perbaikan dibanding dengan beberapa bulan yang lalu. Sementara itu, penyaluran kredit menunjukkan penurunan sebesar 2,1% pada Januari 2009 akibat melemahnya perekonomian dan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit. Namun demikian, Bank Indonesia tetap mencermati kecenderungan meningkatnya risiko kredit yang berpotensi meningkatkan NPL dalam industri perbankan.

Bank Indonesia memperkirakan perekonomian tahun 2009 akan tumbuh sekitar 4% dengan downside risk yang cukup besar terutama apabila pertumbuhan ekonomi global terus memburuk lebih dari yang diperkirakan. Indikasi perlambatan perekonomian ini juga tercermin dari melambatnya konsumsi rumah tangga akibat turunnya daya beli masyarakat, dan pertumbuhan M1 yang masih cenderung turun. Di sisi lain, hal ini akan mengurangi tekanan inflasi ke depan sehingga cenderung mendekati batas bawah kisaran 5% - 7%.

Bank Indonesia akan senantiasa mencermati perkembangan yang terjadi di bidang ekonomi dan keuangan serta akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk makin memperkuat perekonomian domestik dan stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Maret 2009 yang memuat perkembangan moneter, inflasi dan nilai tukar akan dimuat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) Bank Indonesia yang dapat diakses melalui website Bank Indonesia pada tanggal 10 Maret 2009.

Jakarta, 4 Maret 2009

Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Didy Laksmono R.
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel