BI Rate Turun 50 bps Menjadi 8,75% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

No. 11/ 01 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk menurunkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 8,75%. Keputusan ini diambil setelah dilakukan evaluasi menyeluruh kondisi ekonomi dan moneter di dalam dan luar negeri saat ini dan prospeknya pada tahun 2009.

”Imbangan risiko pada tahun 2009 menghendaki bahwa stance kebijakan moneter memberikan perhatian pada upaya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dengan tetap mengawal inflasi dan kestabilan sektor keuangan dalam jangka menengah”, demikian Gubernur Bank Indonesia, Boediono.

Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan inflasi di dalam negeri terus menurun sebagai akibat antara lain dari penurunan harga komoditi, pangan dan energi dunia, produksi pangan di dalam negeri yang sangat baik dalam tahun 2008, serta perlambatan permintaan agregat. Pada bulan Desember 2008, justru terjadi deflasi sebesar 0,04%, sehingga laju inflasi tahun 2008 tercatat sebesar 11,06%. Dalam tahun 2009 ini, laju inflasi diprakirakan terus menurun menuju kisaran 5%-7%, yang ditunjang oleh berlanjutnya kondisi faktor-faktor pendukung tersebut diatas.

”Pada tahun 2009, indikator-indikator awal perekonomian Indonesia menunjukkan terjadinya perlambatan pertumbuhan beberapa komponen permintaan agregat, khususnya ekspor dan investasi”, demikian tambah Boediono. Kredit perbankan juga mulai menunjukkan perlambatan dari laju pertumbuhan 37,1% (yoy) pada Oktober 2008, menjadi 30,2% (yoy) berdasarkan data terakhir sementara bulan Desember 2008. Perlambatan kredit perbankan diprakirakan akan berlanjut dalam tahun 2009, dengan laju pertumbuhan kredit diprakirakan berada pada kisaran 18% - 20%. Sementara itu, laju pertumbuhan ekonomi pada 2009 diprakirakan berada pada kisaran 4% - 5%.

Cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2008 sebesar USD 51,6 milyar atau setara dengan 4,0 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.  Karena situasi  pasar global, kinerja ekspor Indonesia dalam tahun 2009 diprakirakan melemah, sedangkan impor juga menurun, dan Neraca Transaksi Berjalan pada 2009 diprakirakan akan mengalami defisit sekitar 0,11% dari PDB. Cadangan devisa akhir 2009 diprakirakan sebesar USD 51 milyar atau setara dengan 4,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Dalam tahun 2009, industri perbankan dalam negeri mengalami dampak dari krisis keuangan global dan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Namun secara umum, perbankan nasional masih tetap memiliki daya tahan yang cukup baik, yang tercermin dari indikator utama perbankan CAR dan NPL. Rasio kecukupan modal (CAR) masih tetap tinggi meskipun sedikit menurun menjadi 14,3%. Sedangkan NPL meskipun cenderung meningkat, diprakirakan masih berada di sekitar 5%.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2009 yang memuat kondisi terkini perekonomian, perkembangan moneter, inflasi, nilai tukar, neraca pembayaran, serta prospek perekonomian ke depan akan dimuat dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM) Bank Indonesia yang dapat diakses melalui website Bank Indonesia <http://www.bi.go.id> pada tanggal 9 Januari 2009.

Jakarta,  7 Januari 2009
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat


Dyah N.K. Makhijani
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel