Pernyataan Gubernur Bank Indonesia : BI Rate Tetap 8,0% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019
No.10/ 8 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 8,0%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi makroekonomi Indonesia, prospek ekonomi moneter ke depan, berbagai faktor risiko yang dihadapi, serta pencapaian sasaran inflasi jangka pendek maupun menengah yaitu sebesar 5%±1% untuk tahun 2008, 4,5%±1% untuk tahun 2009 dan 4%±1% pada 2010.
 
Secara umum, perekonomian Indonesia masih menunjukkan stabilitas yang terjaga. Pertumbuhan ekonomi 2007 diprakirakan sesuai dengan asumsi APBN 2007, yaitu sekitar 6,3%. Pertumbuhan tersebut didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga serta ekspor. Di sisi lain, respon yang memadai terhadap peningkatan permintaan masih terus diperlihatkan oleh sisi penawaran.
 
"Bank Indonesia terus mencermati dan mewaspadai perkembangan yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir, khususnya terkait dengan potensi resesi ekonomi di AS, dan meningkatnya harga komoditas di pasar internasional, serta masih berlangsungnya turbulensi di pasar keuangan global", demikian Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah. Hasil assesmen Bank Indonesia menunjukkan bahwa dampak perlambatan ekonomi dunia terhadap ekspansi perekonomian sebagian masih dapat dikompensasi oleh semakin terdiversifikasinya negara tujuan ekspor sehingga ketergantungan terhadap perdagangan negara maju semakin menurun. Dampak perlambatan pertumbuhan ekonomi dapat dihindari karena perdagangan intraregional Asia saat ini sudah semakin meningkat. Permintaan domestik dari negara China dan India memberikan peluang tetap tingginya kinerja ekspor, termasuk permintaan terhadap komoditi non migas.
 
"Neraca Pembayaran Indonesia di triwulan I 2008 diperkirakan mencatat surplus. Dengan perkembangan tersebut, serta sentimen positif terhadap kebijakan yang ditempuh otoritas moneter dan Pemerintah, stabilitas nilai tukar di bulan Januari 2008 tetap terjaga dengan tingkat volatilitas yang rendah. Di akhir Januari 2008, nilai tukar rupiah menunjukkan kecenderungan menguat", tambah Burhanuddin. Kondisi ini didukung pula oleh masuknya kembali aliran modal asing pada akhir Januari 2008. Sampai dengan Januari 2008, cadangan devisa mencapai USD 56 miliar atau setara dengan 5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.
 

Terkait dengan inflasi, meningkatnya harga-harga komoditas khususnya bahan pangan dan minyak secara internasional berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi domestik. Inflasi IHK pada Januari 2008 tercatat sebesar 1,77% (mtm) atau secara tahunan mencapai 7,36%. Perkembangan tersebut terutama disebabkan oleh komponen inflasi bahan makanan bergejolak (volatile food) dan inflasi inti yang terpengaruh oleh tingginya harga komoditas, pelemahan nilai tukar di awal Januari 2008 dan ekspektasi inflasi yang sedikit lebih tinggi dibanding periode sebelumnya. 
 
Kinerja perbankan terus mengalami perbaikan sejalan dengan pelaksanaan fungsi intermediasi yang meningkat dan stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga.  Aset perbankan nasional pada posisi Desember 2007 mencapai Rp 1.986,5 triliun atau naik 17,3% (yoy). Sementara itu sampai dengan akhir tahun 2007 nilai kredit mencapai Rp 1.045,7 triliun. Pada Desember 2007, kredit tumbuh Rp 41,05 triliun, sehingga di 2007 kredit telah tumbuh sebesar 25,5% (yoy) jauh melampaui target pertumbuhan sebesar 22%. Sementara itu, target pertumbukan kredit Mikro Kecil dan Menengah (MKM) sebesar 20% juga terlampaui, dengan realisasi di tahun 2007 sebesar 22,5%.
 
Peningkatan pertumbuhan kredit tersebut diiringi dengan meningkatnya Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan, yang berhasil naik mencapai 69,2%. Namun demikian, peningkatan LDR tetap diikuti dengan pengelolaan risiko kredit yang baik oleh perbankan nasional. Hal tersebut tercermin dari menurunnya NPL gross dari 6,98% menjadi 4,64% (yoy) dan NPL net dari 3,63% menjadi 1,94% (yoy).
 
Dewan Gubernur memandang bahwa perekonomian ke depan akan menghadapi berbagai faktor risiko dan tantangan khususnya dalam pencapaian target inflasi. Namun, dengan berbagai langkah yang telah ditempuh ditambah aspek koordinasi yang kuat antara Pemerintah dan Bank Indonesia, dampak eksternal tersebut diharapkan dapat segera diminimalkan sehingga inflasi 2008 dapat dibawa pada tren yang menurun dan berada pada kisaran 6,0-6,5%. Salah satu langkah Pemerintah yang diharapkan dapat meminimalkan dampak tersebut adalah program stabilisasi harga yang telah dikeluarkan beberapa waktu lalu. "Untuk dapat mencapai target inflasi yang telah ditentukan, kiranya perlu tetap menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan melalui koordinasi yang baik antara Pemerintah dan Bank Indonesia, agar capaian inflasi selama 2 tahun terakhir yang telah tercapai sesuai target dapat pula diwujudkan di tahun 2008", tambah Burhanuddin.
 
Menyikapi berbagai tantangan dan faktor risiko tersebut, Bank Indonesia juga akan tetap melaksanakan kebijakan moneter secara terukur dan hati-hati dengan terus mencermati berbagai dinamika perekonomian. Bank Indonesia melalui kebijakan moneternya akan terus diarahkan untuk menciptakan stabilitas makroekonomi guna mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi melalui penerapan Inflation Targeting Framework (ITF) secara konsisten. Bank Indonesia juga akan terus melanjutkan program konsolidasi untuk mewujudkan perbankan yang sehat, kuat dan kompetitif.  Disamping itu, upaya meningkatkan fungsi intermediasi perbankan terus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan bagi dunia usaha secara efektif.


Jakarta, 6 Februari 2008
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat


Amril Arief
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel