Pernyataan Gubernur Bank Indonesia : BI Rate Tetap 8,0% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Mei 2019
No.10/ 3 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 8,0%. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi makroekonomi Indonesia tahun 2007, prospek ekonomi moneter ke depan dan berbagai faktor risiko yang dihadapi, serta pencapaian sasaran inflasi 5%±1% untuk tahun 2008, 4,5%±1% untuk tahun 2009 dan 4%±1% pada 2010. RDG juga mencatat bahwa target inflasi selama dua tahun berturut-turut telah berhasil dicapai, yaitu sebesar 6,60% pada tahun 2006 (dari target 8±1%) dan 6,59% pada tahun 2007 (dari target 6±1%).

“Tercapainya sasaran inflasi tersebut tidak terlepas dari stabilitas makroekonomi dan system keuangan yang terjaga, sebagai hasil capaian koordinasi yang baik antara Pemerintah dan Bank Indonesia”, demikian ungkap Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah.  Hal ini mengingat bahwa inflasi, selain dibentuk oleh komponen inti (nilai tukar, kesenjangan permintaan dan penawaran, serta ekspektasi), juga dibentuk oleh kebijakan harga yang diatur pemerintah (administered prices) dan harga dari komponen makanan tertentu (volatile foods) seperti minyak goreng, beras, dan beberapa komoditi lainnya. “Kemampuan Pemerintah dalam mengendalikan gejolak harga-harga tersebut melalui berbagai paket kebijakan sektoral telah berkontribusi pada pencapaian inflasi selama 2 tahun terakhir”, tambah Burhanuddin.

Secara umum, kinerja perekonomian Indonesia sampai akhir tahun 2007 cukup menggembirakan, yaitu diperkirakan tumbuh sebesar 6,3%, yang merupakan angka pertumbuhan tertinggi sejak krisis 1997. Pencapaian ini cukup signifikan, terutama jika kita ingat bahwa pada tahun 2007 perekonomian kita dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan sebagai akibat dari krisis surat utang subprime mortgage di Amerika Serikat yang mendorong terjadinya gejolak di pasar uang internasional dan meningkatnya harga minyak dunia.

Komponen yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sebesar itu tetap didominasi oleh konsumsi dan ekspor yang dibantu oleh membaiknya investasi swasta. Perbaikan kinerja ekspor yang cukup signifikan berdampak positif pada kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). NPI justru mencatat surplus di tengah berbagai gejolak serta melemahnya perekonomian di negara-negara industri maju. Hal ini disebabkan oleh perubahan pasar ekspor regional (ASEAN dan Asia pada umumnya), antara lain dengan adanya diversifikasi pasar komoditas ekspor Indonesia ke Cina dan India, dari sebelumnya yang lebih terfokus ke negara maju. Selain itu, nilai tukar rupiah juga semakin menurun sensitivitasnya terhadap pergerakan minyak dunia. Kondisi nilai tukar rupiah pada paruh pertama tahun 2007 secara rata-rata mengalami apresiasi sebesar 1,8%. Sementara dengan terjadinya krisis subprime dan kenaikan harga minyak dunia, nilai tukar Rupiah mengalami sedikit pelemahan sebesar 1,1%. Dengan demikian, untuk keseluruhan tahun 2007, nilai tukar Rupiah tercatat Rp 9.140 atau terapresiasi 0,29% dibanding 2006 sebesar Rp 9.167. Dengan kondisi tersebut, cadangan devisa pada akhir 2007 mencapai sebesar USD 56,9 miliar atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Hingga akhir tahun 2007, BI Rate mencapai 8,0% atau telah mengalami penurunan sebesar 150 basis poin dari posisi awal tahun sebesar 9,5%. Berlanjutnya penurunan suku bunga patokan ini direspon positif pelaku pasar dan disambut baik dunia usaha. Sampai dengan bulan November 2007, trend penurunan suku bunga pinjaman masih terus berlanjut. Pada bulan November, rata-rata suku bunga kredit modal kerja (KMK) dan kredit investasi (KI) sebesar 13,16% dan 13,19%, lebih rendah dibandingkan posisi akhir 2006 sebesar 15,07% dan 15,10%. Sementara itu, rata-rata suku bunga kredit konsumsi (KK) periode yang sama juga turun menjadi 16,39% dibandingkan 17,58%.  Tren penurunan suku bunga ini diikuti oleh membaiknya fungsi intermediasi dan indikator kinerja perbankan.

Selama tahun 2007, kinerja perbankan terus mengalami perbaikan dengan pelaksanaan fungsi intermediasi yang meningkat dan stabilitas sistem keuangan yang tetap terjaga.  Aset perbankan nasional pada posisi November 2007 mencapai Rp 1.895 triliun (naik 11,9%-ytd), dengan nilai kredit mencapai Rp 1.004,6 triliun atau tumbuh 20,6% (ytd).  Khusus bulan November, kredit tumbuh Rp 23,5 triliun, sehingga secara tahunan kredit telah tumbuh sebesar 24,3%(yoy). Pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dari pertumbuhan DPK selama tahun 2007, telah berhasil menaikkan LDR perbankan mencapai 69,9%, yang merupakan level tertinggi sejak krisis. Meskipun kredit meningkat cukup tinggi, namun perbankan nasional tetap dapat mengelola resiko kredit dengan baik yang tercermin dari menurunnya NPL gross dari 6,98% menjadi 5,41% dan NPL net dari 3,63% menjadi 2,29%.

Dewan Gubernur memandang bahwa perekonomian Indonesia tahun 2008 akan tetap tumbuh tinggi disertai terjaganya stabilitas makroekonomi. Pertumbuhan ekonomi 2008 diprakirakan mencapai 6,2 %-6,8%. Namun di balik berbagai kemajuan dan optimisme tersebut, Rapat Dewan Gubernur memberikan catatan atas masih tingginya komponen permanen dalam pembentukan inflasi di Indonesia, yang antara lain disebabkan oleh: (i) belum meningkatnya secara signifikan kapasitas dan produktivitas perekonomian, (ii) karakteristik inflasi kita yang rentan terhadap pergerakan pada harga makanan tertentu (volatile foods) serta ekspektasi masyarakat, (iii) pasar finansial Indonesia yang relatif belum dalam (iv) ekses likuiditas yang masih besar.

“Mempertimbangkan berbagai catatan tersebut dan pencapaian sasaran inflasi untuk tahun 2008, Dewan Gubernur berpandangan bahwa konsistensi kebijakan makroekonomi dan koordinasi fiskal moneter merupakan prasyarat yang harus tetap ada dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas. Oleh karena itu, komitmen, kerja keras, dan jalinan koordinasi dari segenap elemen bangsa menjadi penting dalam mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas di tahun 2008”, tambah Burhanuddin. 

Dari sisi moneter, kebijakan moneter Bank Indonesia akan terus diarahkan untuk menciptakan stabilitas makroekonomi guna mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi melalui penerapan Inflation Targeting Framework (ITF) secara konsisten. Di bidang perbankan, Bank Indonesia akan terus melanjutkan program konsolidasi untuk mewujudkan perbankan yang sehat, kuat dan kompetitif.  Disamping itu, upaya meningkatkan fungsi intermediasi perbankan terus dilakukan agar dapat memenuhi kebutuhan pembiayaan bagi dunia usaha secara efektif.

Jakarta, 8 Januari 2008
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Lukman Boenjamin
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel