Stabilitas Ekonomi Makro dan Sistem Keuangan Tetap Terjaga : BI Rate Tetap 8,25% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
19 Juli 2019
No.9/ 38 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 8,25%. Pengambilan keputusan hari ini didasarkan pada pembahasan serta evaluasi yang dilakukan secara menyeluruh mengenai proyeksi dan perkembangan perekonomian, prospek pencapaian target inflasi untuk tahun 2007 dan 2008, serta identifikasi terhadap faktor-faktor risiko yang ada.

Bank Indonesia juga mencermati secara seksama berbagai perkembangan dewasa ini, khususnya terkait dengan meningkatnya harga minyak dunia dan belum berakhirnya dampak dari krisis subprime mortgage di Amerika Serikat, serta melakukan asesmen mengenai dampak perkembangan tersebut terhadap kondisi perekonomian nasional. Hasil asesmen menunjukkan bahwa dampak meningkatnya harga minyak saat ini terhadap ekspansi perekonomian dan inflasi diperkirakan relatif terbatas. Dengan ketahanan perekonomian Indonesia yang semakin tinggi, proses peningkatan pertumbuhan ekonomi diharapkan masih stabil dan tetap berjalan.

Sampai dengan akhir tahun 2007, inflasi diperkirakan masih akan berada pada kisaran sasarannya sebesar 6%±1%. Sedangkan untuk tahun 2008, Bank Indonesia melihat adanya potensi peningkatan beberapa faktor risiko yang dapat memberikan tekanan pada inflasi ke depan. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya yang lebih intensif dari semua pihak didalam mengantisipasi peningkatan risiko kenaikan harga-harga, sehingga target inflasi tahun 2008 sebesar 5%±1% dapat tercapai. Faktor-faktor risiko yang perlu diwaspadai dan dicermati secara seksama tersebut antara lain, peningkatan harga minyak dunia yang terus berlanjut sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga-harga barang, termasuk harga CPO, karet dan komoditas export nonmigas pertanian lain, belum meredanya gejolak pasar keuangan global yang diakibatkan krisis subprime mortgage, serta terus meningkatnya ekspektasi masyarakat akan tingginya inflasi ke depan. Berbagai hal tersebut menjadi pertimbangan Bank Indonesia dalam memutuskan BI Rate pada bulan November 2007.

Secara tahunan tekanan inflasi IHK tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi IHK pada Oktober 2007 tercatat sebesar 6,88%, lebih rendah dibandingkan 6,95% di September 2007. Meski demikian, hal yang patut dicermati adalah meningkatnya inflasi inti dari 6,03% menjadi 6,13%. Peningkatan tersebut disebabkan oleh meningkatnya inflasi dari barang-barang impor yang meningkat harganya seiring dengan pengaruh peningkatan harga komoditas dunia. Selain itu, masih tingginya ekspektasi masyarakat akan inflasi ke depan juga turut memberi tekanan pada inflasi inti. Di sisi lain, tekanan inflasi dari kelompok makanan bergejolak (volatile food) dan harga-harga yang ditentukan Pemerintah (administered prices) relatif lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi nilai tukar rupiah pada Oktober 2007 secara rata-rata terlihat menguat dibandingkan bulan sebelumnya. Apresiasi rupiah tersebut disertai dengan volatilitas yang menurun dan berada dalam level rendah. Rata-rata nilai tukar di Oktober 2007 tercatat Rp 9.101 atau terapresiasi 2,2% dibanding bulan September 2007 sebesar Rp 9.305. Terapresiasinya nilai tukar rupiah lebih disebabkan oleh kuatnya faktor fundamental dan kecenderungan penguatan mata uang global thd USD. Hal ini juga ikut mendorong kenaikan IHSG  mencapai level tertinggi pada Oktober 2007 sebesar 2.638 yang antara lain dipicu oleh arus modal masuk.

Perkembangan perekonomian Indonesia secara umum masih sesuai dengan perkiraan. Pada triwulan III-2007, perekonomian Indonesia diprakirakan tumbuh sebesar 6,3% didorong oleh meningkatnya konsumsi serta ekspor. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2007 secara keseluruhan diperkirakan masih mencatat surplus meskipun tidak sebesar surplus di triwulan II-2007. Surplus NPI tersebut terutama terjadi di sisi neraca transaksi berjalan, sementara neraca modal dan finansial mencatat surplus yang lebih rendah. Dengan kondisi ini, jumlah cadangan devisa pada akhir  Oktober 2007 tercatat sebesar 54,2 miliar dollar AS atau setara dengan 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. 

Dari sisi perbankan, berbagai indikator keuangan dan operasional menunjukkan bahwa ketahanan sistem perbankan masih tetap kokoh. Fungsi intermediasi perbankan terus mengalami peningkatan, ditunjukkan oleh tren penyaluran kredit yang terus meningkat dengan pertumbuhan tahunan sampai saat ini mencapai jumlah sekitar Rp. 957 triliun atau tumbuh sebesar 21,5%. Di sisi lain, Dana Pihak Ketiga perbankan juga terus mengalami kenaikan mencapai jumlah Rp. 1.401 triliun atau tumbuh sekitar 16,42% secara tahunan. NPL perbankan mengalami penurunan yang cukup besar dari 6,31% menjadi 5,35% (gross), dan 2,84% menjadi 2,60% (net). Penurunan ini terjadi seiring dengan langkah-langkah restrukturisasi kredit bermasalah di Bank-Bank BUMN.

Ke depan, Bank Indonesia memprakirakan bahwa dengan langkah-langkah dan strategi kebijakan yang tepat dan terkoordinasi, kita akan mampu bertahan melalui perkembangan global dewasa ini. Kondisi saat ini jauh berbeda dengan kondisi tahun 2005 dimana ketahanan Indonesia di sisi moneter, sistem keuangan, pengelolaan fiskal, sudah jauh lebih baik. Capaian yang telah ada saat ini, stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, kiranya harus terus dimanfaatkan oleh segenap elemen bangsa sebagai pilar penopang pembangunan ekonomi ke depan. Berbagai langkah Pemerintah untuk menjamin kelancaran distribusi barang-barang kebutuhan pokok, meningkatkan efektifitas penyerapan anggaran oleh Pemda dan belanja modal untuk pembangunan infrastruktur, serta langkah-langkah pencegahan penyeludupan BBM akan sangat bermanfaat di dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai saat ini.

Dalam kaitan ini, Bank Indonesia akan tetap melaksanakan kebijakan moneter secara terukur dan hati-hati dengan terus mencermati berbagai dinamika perekonomian. Bank Indonesia memandang, tidak berubahnya BI Rate masih mampu memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan sejalan dengan masih tersedianya ruang gerak bagi bank untuk  menurunkan suku bunga lebih lanjut.

Jakarta, 6 November 2007
Direktorat Perencanaan Strategis
Dan Hubungan Masyarakat


Dyah Virgoana Gandhi
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel