Pernyataan Gubernur Bank Indonesia: BI Mempertahankan BI Rate di 8,25% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Mei 2019
No.9/36/PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada hari Senin, 8 Oktober 2007 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 8,25%. Pengambilan keputusan hari ini didasarkan pada evaluasi yang menyeluruh mengenai prospek pencapaian target inflasi untuk tahun 2007 dan 2008 masing-masing sebesar 6±1% dan 5±1%, proyeksi dan perkembangan perekonomian, serta identifikasi terhadap faktor-faktor risiko yang ada.

Keputusan untuk mempertahankan BI Rate ini merupakan upaya untuk mengkonsolidasikan capaian kredibilitas (credibility gain) yang telah diperoleh selama ini pada upaya pemeliharaan stabilitas ekonomi makro dan sistem perbankan. Capaian tersebut, jika terus dipertahankan, akan menopang kesinambungan ekspansi ekonomi.

Secara umum, perkembangan perekonomian Indonesia sampai dengan triwulan III-2007 masih terjaga, meski sempat mendapat tekanan dari krisis subprime mortgage di AS. "Perekonomian nasional terbukti memiliki daya tahan terhadap guncangan subprime mortgage di pasar keuangan global", demikian Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah. Resiliensi tersebut, yang diiringi oleh kebijakan moneter yang berhati-hati menyebabkan guncangan tersebut tidak berdampak permanen pada keseimbangan nilai tukar rupiah, sehingga stabilitas makroekonomi  tetap terjaga. Ke depan, masih cukup besarnya ketidakpastian mengenai proses penyesuaian di pasar keuangan global terhadap krisis subprime mortgage, menuntut konsistensi kehati-hatian kebijakan moneter.

Dari sisi domestik, inflasi yang meningkat pada September 2007 lebih disebabkan oleh peningkatan harga komoditas pangan internasional. Sementara itu, peningkatan inflasi pada kelompok inti disebabkan meningkatnya ekspektasi inflasi masyarakat terkait dengan kenaikan harga menjelang hari raya keagamaan. Inflasi di triwulan III-2007 tercatat lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Secara tahunan inflasi IHK dan inflasi inti di triwulan III-2007 tercatat sebesar 6,95% dan 6,03%. Meski terkait dengan faktor musiman, Bank Indonesia akan tetap mencermati perkembangannya. "Upaya bersama dalam memelihara kestabilan makroekonomi di masa yang akan datang, dengan perbaikan pada struktur pasar distribusi barang-barang kebutuhan pokok menjadi penting peranannya untuk menjaga sasaran inflasi tahun 2007 dan 2008", demikian tambah Burhanuddin.

Ekspansi perekonomian masih berlanjut di triwulan III/2007 dan berpotensi tumbuh mencapai 6,3%. Perkembangan tersebut terutama didukung oleh peningkatan konsumsi pemerintah dan kinerja ekspor yang cukup baik seiring dengan kondisi permintaan dan harga komoditi di pasar global. Sementara itu, sejak September 2007 arus modal finansial mulai kembali masuk ke Indonesia. Meski pada triwulan III-2007 nilai tukar rupiah secara rata-rata melemah menjadi Rp 9.250 atau terdepresiasi 3,2% dibanding triwulan II-2007 sebesar Rp 8.968, namun dengan mulai meredanya gejolak di pasar keuangan global, cadangan devisa yang memadai, dan kebijakan moneter yang konsisten, telah mulai mengembalikan nilai tukar rupiah pada keseimbangan awalnya.

Kinerja NPI secara total diperkirakan akan tetap kuat seiring dengan transaksi berjalan yang mencatat surplus lebih besar dari proyeksi awal. Lebih dari pada itu, perolehan devisa hasil remitansi bersih TKI di luar negeri yang mengalir secara berkelanjutan turut memperkuat posisi NPI. Posisi NPI yang cukup baik ini menopang kecukupan cadangan devisa, yang pada akhir triwulan III-2007 tercatat sebesar 52,8 miliar dollar AS atau setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Dari sisi perbankan, ketahanan sistem perbankan yang tetap kokoh ditengah guncangan menambah keyakinan pelaku pasar terhadap kualitas pengendalian ekonomi makro di Indonesia.  Kinerja perbankan dan sistem keuangan terus membaik dengan pelaksanaan fungsi intermediasi yang meningkat. Kredit pada semua kelompok bank  meningkat dan secara total pada bulan Agustus 2007 tumbuh Rp 21,2 triliun. Dengan demikian, secara tahunan kredit telah tumbuh sebesar 21,79% (yoy), dan diperkirakan target pertumbuhan kredit selama tahun 2007 sebesar 22% (yoy) dapat tercapai dengan pertumbuhan kredit rata-rata Rp 17,6 T per bulan. Sejalan dengan peningkatan kredit tersebut dan lebih rendahnya pertumbuhan DPK (Agustus 2007, tumbuh Rp 13,4 triliun), rasio LDR perbankan naik menjadi 67,3% atau angka tertinggi setelah krisis.

Kedepan, beberapa risiko dapat menimbulkan potensi perlambatan pada perekonomian domestik dan peningkatan inflasi.  Dari sisi eksternal, faktor risiko antara lain berupa perlambatan ekonomi di AS, berlanjutnya peningkatan harga minyak, kelapa sawit (CPO), dan komoditas lain, serta masih tingginya ketidakpastian terkait dengan proses penyesuaian global terhadap gejolak sub prime mortgage. Dari sisi domestik, tekanan inflasi yang bersumber dari kemungkinan berlanjutnya kelangkaan minyak tanah dan bahan makanan lain, perlu diupayakan turun. Permintaan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi yang terus membaik.  Guna merespon kenaikan tersebut, perlu diupayakan peningkatan kapasitas produksi melalui penyelesaian berbagai hambatan struktural, meningkatkan realisasi kredit untuk proyek-proyek besar Pemerintah dan memaksimalkan pemanfaatan ruang fiskal.

Dalam kaitan ini, Bank Indonesia akan terus melakukan upaya  koordinasi  secara intensif dengan Pemerintah untuk secara bersama mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan.  Selain itu, Bank Indonesia akan tetap melaksanakan kebijakan moneter secara terukur dan berhati-hati dengan terus mencermati dinamika yang berkembang dan berbagai data perekonomian terbaru. Bank Indonesia memandang, tingkat BI-Rate pada 8,25% masih mampu memberikan stimulus bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan sejalan dengan masih tersedianya ruang gerak bagi bank untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut. Di bidang perbankan, upaya peningkatan fungsi intermediasi perbankan dan monitoring implementasi program konsolidasi perbankan akan terus diintensifkan Selain itu, upaya-upaya peningkatan efisiensi perbankan nasional juga perlu terus diprioritaskan.

Jakarta, 8 Oktober 2007
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Budi Mulya
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel