Perekonomian Semakin Terkonsolidasi, Stabilitas Makroekonomi Tetap Terjaga BI Rate turun 25 bps menjadi 8,25% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Mei 2019

No.9/24/PSHM/Humas


Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia bulan Juli 2007 memutuskan untuk menurunkan BI rate sebesar 25 bps menjadi 8,25%. Keputusan hari ini diambil setelah melakukan evaluasi menyeluruh tentang  perkembangan dan prospek perekonomian yang semakin baik , serta prospek  inflasi untuk tahun 2007 dan 2008  yang mengarah kepada pencapaian sasarannya yaitu masing-masing sebesar 6 ±1% dan 5± 1%.

 

Secara umum, perekonomian Indonesia sampai dengan Triwulan II-2007 berada pada jalur yang tepat, dengan ekspansi perekonomian yang terus berlanjut. Inflasi tetap terkendali dan cenderung menurun. Stabilitas di pasar keuangan tetap terjaga sejalan dengan membaiknya kinerja perbankan. Kinerja Neraca Pembayaran Indonesia lebih baik dari perkiraan sebelumnya, yang ditandai dengan surplus dan posisi cadangan devisa yang terus meningkat, serta nilai tukar rupiah yang menguat. Berbagai hal tersebut diprakirakan akan mendukung pencapaian pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berimbang di tahun 2007 dan 2008.

 

Perekonomian yang semakin terkonsolidasi dan stabilitas makroekonomi yang tetap terjaga memberi ruang yang lebih luas bagi penerapan kebijakan pembangunan berkelanjutan untuk  memperkuat pondasi ketahanan perekonomian nasional. Seiring dengan otonomi daerah dan menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015, pondasi ketahanan ekonomi nasional akan dapat lebih kuat apabila didukung oleh kebijakan-kebijakan pembangunan di daerah yang memprioritaskan kualitas sumber daya manusia, ketahanan pangan dan energi, serta perbaikan tata kelola dan fungsi ekonomi pemerintahan daerah. Kedepan, Bank Indonesia melihat pentingnya  koordinasi yang erat antara seluruh pemangku kebijakan di daerah, termasuk Kantor-Kantor Bank Indonesia, untuk bekerja sama membangun perekonomian daerah. Selain itu, untuk memantapkan ekspektasi pelaku pasar terhadap kesinambungan stabilitas makroekonomi, Bank Indonesia juga melihat perlunya percepatan upaya pendalaman dan diversifikasi instrumen di pasar keuangan, termasuk  pasar keuangan syariah. 

 

Pemantauan dan analisis Bank Indonesia menunjukkan bahwa tekanan inflasi semakin rendah dalam beberapa periode terakhir. Secara tahunan, inflasi IHK dan inflasi inti pada triwulan II-2007 tercatat masing-masing 5,77% dan 5,4%. Lebih rendahnya inflasi pada periode tersebut terutama didorong oleh deflasi kelompok volatile food, ditengah kenaikan harga beberapa komoditas akibat peningkatan harga internasional. Inflasi inti masih berada dalam tren menurun. Kondisi tersebut sejalan dengan tekanan faktor eksternal yang relatif minimal seiring dengan apresiasi nilai tukar dan rendahnya imported inflation. Selain itu, penurunan inflasi inti juga ditopang oleh kondisi permintaan yang  masih dapat dipenuhi oleh sisi penawaran serta ekspektasi inflasi yang relatif stabil. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia akan senantiasa mencermati potensi risiko inflasi ke depan yang bersumber dari koreksi pasar finansial.

 

Angka sementara Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada Triwulan II-2007 (proyeksi) mencatat surplus sebesar USD 3,7 miliar, atau lebih tinggi dari perkiraan awal USD1,1 miliar. Dengan realisasi NPI yang lebih baik dari perkiraan tersebut, pada akhir Juni 2007 posisi cadangan devisa mencapai USD 51 miliar atau setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran ULN Pemerintah. Terkait dengan hal itu, penguatan nilai tukar rupiah terus berlanjut dalam triwulan II-2007. Pada akhir Juni 2007, nilai tukar rupiah secara rata-rata mencapai Rp8.968 per USD, atau terapresiasi 1,5% dari triwulan sebelumnya yang mencapai Rp9.102 per USD. Apresiasi Rupiah tersebut juga ditopang oleh perkembangan positif faktor fundamental sebagaimana tercermin pada membaiknya kinerja NPI, imbal hasil rupiah yang masih menarik, serta faktor risiko yang terjaga.

 

Ke depan, akselerasi pertumbuhan ekonomi selama 2007-2008 diperkirakan akan terus berlanjut dan lebih baik dari proyeksi sebelumnya. Lebih optimisnya perkiraan pertumbuhan didukung oleh kinerja konsumsi dan ekspor yang lebih baik. Sementara itu, penurunan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia diharapkan dapat membuka peluang bagi dunia usaha untuk dapat memperoleh pembiayaan yang murah. Proyeksi inflasi IHK 2007 dan 2008 diprakirakan akan berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan. Hal ini disebabkan oleh menurunnya tekanan terhadap inflasi IHK bersamaan dengan lebih rendahnya tekanan inflasi dari kelompok inti dan kelompok volatile food.   Namun perlu dicermati pula realisasi keuangan Pemerintah yang masih belum sesuai dengan harapan, dan berbagai kendala yang masih dihadapi dalam implementasi proyek infrastuktur sehingga menurunkan optimisme atas pertumbuhan investasi di triwulan II-2007.

 

Sementara itu, stabilitas sistem keuangan Indonesia berada dalam kondisi yang tetap terjaga. Kedepan, ketahanan sistem keuangan pada triwulan berikutnya diperkirakan tetap baik.  Terkait dengan hal ini, pada tanggal 29 Juni 2007 yang lalu, Pemerintah dan Bank Indonesia telah meresmikan pembentukan Forum Stabilitas Sistem Keuangan, yang bertujuan untuk meningkatkan kooordinasi dan kerjasama antar instansi dalam rangka proses monitoring dan pemeliharaan stabilitas sistem keuangan yang lebih intensif.

 

Perbankan terus memperlihatkan berbagai kemajuan terutama pada kinerja keuangan. Meskipun intermediasi perbankan masih belum cukup menggembirakan, namun pada bulan  Mei 2007  kredit dan dana pihak ketiga (DPK)   terus meningkat mencapai Rp118,02 T (15,8% yoy) dan Rp145,31 T (12,5% yoy). Sementara itu, total asset juga mengalami peningkatan, yaitu sebesar   Rp205,94 T (y-o-y) sehingga  menjadi Rp1.720,90 T.

 

Bank Indonesia akan tetap melaksanakan kebijakan moneter secara terukur dan hati-hati dalam mencermati dinamika perekonomian. Bank Indonesia juga akan senantiasa mendukung upaya Pemerintah didalam menggerakkan ekonomi domestik, khususnya dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa seperti  pengangguran dan kemiskinan.

 

 

Jakarta, 5 Juli 2007

Direktorat Perencanaaan Strategis

dan Hubungan Masyarakat

 

Budi Mulya

Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel