Pernyataan Gubernur Bank Indonesia : BI Rate Turun Sebesar 25 bps Menjadi 9,00 % - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Agustus 2019
No. 9/  12  /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari ini,  Selasa, 6 Maret 2007, memutuskan untuk menurunkan kembali BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) atau 0,25%, dari 9,25% menjadi 9,00%. Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan prospek pencapaian sasaran inflasi masing-masing sebesar 6±1% dan 5±1% untuk tahun 2007 dan 2008, serta asesmen mendalam atas perkembangan ekonomi dan keuangan terkini. “Pengambilan keputusan di atas, didasarkan pada prinsip kehati-hatian dan konsistensi arah kebijakan moneter yang ditempuh BI”, demikian Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah.
 
Secara umum, stabilitas makroekonomi pada bulan Februari 2007 masih terkendali. Beberapa indikator ekonomi menunjukkan bahwa akselerasi perekonomian masih berlanjut. Sumber pertumbuhan ekonomi terutama berasal dari ekspor dan perbaikan permintaan domestik, khususnya investasi yang mulai tumbuh. Meski melambat, kinerja ekspor masih tumbuh pada level yang cukup tinggi, yang didukung oleh sektor pertanian dan industri. Survey Bank Indonesia menunjukkan bahwa terdapat peningkatan keyakinan produsen akan membaiknya sentimen kondisi bisnis. Namun dari sisi konsumen, terlihat penurunan keyakinan atas kondisi perekonomian ke depan. Hal ini perlu mendapatkan perhatian dalam langkah-langkah kebijakan ke depan.
 
Meski sempat melemah, secara umum nilai tukar rupiah pada bulan Februari tercatat stabil disertai volatilitas yang menurun. Hal tersebut ditopang oleh lebih baiknya kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), terjaganya faktor risiko dan masih menariknya imbal hasil rupiah. Secara rata-rata nilai tukar sedikit menguat dari Rp9.071/USD menjadi Rp9.067/USD disertai penurunan volatilitas dari 0,50% menjadi 0,25%, meskipun secara point to point sedikit melemah 0,46% dari Rp9.093/USD menjadi Rp9.135/USD. Pelemahan di akhir bulan, terkait dengan faktor global anjloknya pasar modal di Cina, serta meningkatnya tekanan inflasi AS, sehingga The Fed diperkirakan menunda penurunan suku bunga. Kejutan faktor eksternal tersebut sedikit mempengaruhi kondisi pasar keuangan domestik, dimana IHSG dan rupiah mengalami pelemahan. ”Namun demikian, dengan ketahanan stabilitas makroekonomi dan kondisi fundamental yang dapat terus dipelihara, maka diperkirakan kejutan tersebut hanya bersifat sementara, ” demikian Burhanuddin.
 
Sementara itu, inflasi IHK tetap terkendali dan secara keseluruhan Triwulan I-2007 diperkirakan masih sesuai dengan proyeksi meski terdapat gangguan bencana alam. Inflasi IHK Februari 2007 tercatat 0,62% (mtm), kumulatif 1,67% (ytd) atau 6,30% (yoy). Kenaikan harga beras yang terjadi dikompensasi dengan penurunan kelompok makanan lainnya terutama bumbu-bumbu. Kenaikan harga beras diperkirakan lebih bersifat temporer. Sementara itu, tekanan inflasi dari harga-harga barang yang dikendalikan pemerintah (administered prices) dampaknya minimal, karena tidak ada penyesuaian harga barang-barang yang strategis.
 
Di bidang perbankan, secara umum kondisi industri perbankan nasional tetap menunjukkan pertumbuhan yang membaik, seperti tercermin pada perolehan laba dan permodalan. Meskipun terdapat penurunan kredit perbankan pada bulan Januari 2007 sebesar Rp. 15,5 triliun, namun penurunan ini diperkirakan bersifat musiman yang terjadi setiap awal tahun sehingga diperkirakan akan meningkat kembali pada bulan-bulan berikutnya. Penurunan kredit ini diikuti pula dengan penurunan Dana Pihak Ketiga sebesar Rp 7,4 triliun. Begitu pula halnya dengan LDR perbankan yang menjadi sedikit lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu, berada pada angka 63,9%.

Net Interest Income (NII) perbankan terus meningkat mencapai Rp. 7,9 triliun, yang merupakan angka tertinggi sejak krisis 9 tahun lalu. Return on Asset meningkat dari 2,6% menjadi 2,8% seiring dengan meningkatnya NII. Tingkat NPL perbankan pun terus mengalami perbaikan, sejalan dengan diselesaikannya proses restrukturisasi debitur-debitur besar di beberapa bank-bank besar. Posisi NPL secara gross tercatat sebesar 6,8% menurun dari angka akhir tahun 2006 sebesar 7,0%, sedangkan apabila di hitung secara net berada pada angka 3,4% menurun dari 3,6%.

Dari Rencana Bisnis Bank yang telah disampaikan kepada Bank Indonesia, perbankan berencana untuk memperbaiki kinerjanya di dalam melaksanakan fungsi intermediasi. Seiring dengan upaya-upaya perbaikan iklim investasi dan penurunan risiko mikro yang dilakukan oleh Pemerintah dan disesuaikannya beberapa ketentuan yang terkait dengan penyaluran kredit oleh Bank Indonesia, diharapkan kredit perbankan akan dapat tumbuh sesuai dengan target yang direncanakan. Proses penyalurannya pun akan terdistribusi secara lebih merata baik dalam kepada sektor produksi maupun sektor konsumsi, serta sektor UMKM. 

Dalam kaitan ini, Dewan Gubernur berpandangan bahwa penurunan BI Rate yang sudah ditempuh Bank Indonesia sejak pertengahan 2006, akan memberikan manfaat yang optimal pada perekonomian negeri apabila diimbangi oleh upaya memelihara momentum pemulihan ekonomi dengan mempercepat realisasi perbaikan iklim investasi dan penurunan biaya tinggi serta distorsi struktural lainnya dalam perekonomian.
 
Ke depan, akselerasi pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih akan berlanjut meski belum cukup kuat. Penurunan suku bunga yang dilakukan Bank Indonesia telah membuka peluang bagi dunia usaha untuk memperoleh alternatif pembiayaan nonbank yang semakin murah, untuk memenuhi peningkatan permintaan domestik. Bank Indonesia memandang bahwa berbagai indikator daya beli masyarakat sejauh ini terindikasi belum terlalu kuat atau berkelanjutan.
 
Sementara itu, peningkatan permintaan domestik sejauh ini masih dapat direspon oleh dunia usaha dengan meningkatkan utilisasi kapasitas dan meningkatkan kapasitas produksi. Sementara itu dampak banjir Februari 2007 apabila ditangani dengan baik akan berdampak minimal terhadap perekonomian. Menyikapi berbagai kondisi tersebut, Bank Indonesia akan senantiasa menjalankan kebijakan moneter secara lebih terukur dan berhati-hati. Di bidang perbankan, Bank Indonesia akan terus mendorong fungsi intermediasi perbankan melalui implementasi delapan pilar kebijakan yang telah diumumkan di awal tahun guna memberikan dukungan bagi percepatan kebangkitan ekonomi.

Inflasi yang terkendali, nilai tukar yang bergerak dengan volatilitas yang terjaga, dan industri perbankan yang sehat dan kompetitif adalah pilar-pilar penting bagi langkah bersama menuju laju pertumbuhan yang tinggi di 2007. Bagi perekonomian kita, tahun ini adalah tahun yang baik untuk menetapkan strategi dan prioritas-prioritas pembangunan sektoral dan sub-sektoral yang tepat untuk menyumbang pada pertumbuhan dan penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi untuk tahun-tahun berikutnya.  ”Perlu dipahami bahwa kebijakan moneter dan perbankan yang akomodatif bukanlah ’panacea’ bagi seluruh persoalan ekonomi yang kita hadapi saat ini”, tambah Burhanuddin.

Jakarta, 6 Maret 2007
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat


Budi Mulya
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel