Bank Indonesia Mempertahankan BI Rate pada level 6,5% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Mei 2019

No. 11 / 29 / PSHM/ Humas

Bank Indonesia pada hari ini memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5%. Keputusan mempertahankan BI Rate tersebut diambil setelah Rapat Dewan Gubernur menyimpulkan bahwa tingkat suku bunga BI Rate sebesar 6,50% masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi pada tahun 2010 sebesar 5% ±1%. Stance kebijakan saat ini juga dipandang masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan intermediasi perbankan. 

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, berdasarkan data perekonomian dan hasil analisa, memperkirakan bahwa perekonomian domestik pada Triwulan III-2009 akan tumbuh sebesar 4,2%, lebih baik dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,9%.  Membaiknya proses pemulihan ekonomi global dan menguatnya keyakinan konsumsi masyarakat mendorong peningkatan ekspor dan konsumsi swasta lebih tinggi dari yang diperkirakan semula.  Membaiknya pertumbuhan ekonomi ini juga sejalan dengan asesmen BI terhadap perekonomian daerah. Wilayah-wilayah penghasil komoditi ekspor CPO, karet, nikel, dan batubara, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua mengalami pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi.  Sementara itu, kegiatan investasi di beberapa wilayah tercatat mulai membaik.

Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia pada 2009 dan 2010 dapat tumbuh lebih tinggi dari yang diperkirakan semula. Pertumbuhan ekonomi 2009 diperkirakan akan mencapai 4,0%-4,5% lebih tinggi dari perkiraan semula 3,5%-4,0%. Sementara itu pertumbuhan ekonomi 2010 diperkirakan mencapai 5,0%-5,5% sejalan dengan akselerasi pertumbuhan ekspor seiring dengan prakiraan pulihnya perekonomian global dan masih kuatnya konsumsi swasta, serta mulai membaiknya investasi.  Beberapa faktor risiko perlu dicermati antara lain bersumber pada masih adanya ketidakpastian proses pemulihan perekonomian global, masih tingginya tingkat pengangguran di negara maju dan masih terdapatnya kecenderungan proteksionisme di beberapa negara pasca krisis global.  Disamping itu, risiko meningkatnya harga minyak dunia perlu terus dicermati.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia juga memandang bahwa stabilitas ekonomi dan moneter tetap terjaga sebagaimana tercermin pada nilai tukar yang stabil dan inflasi yang rendah.  Inflasi pada tahun 2009 diperkirakan mencapai kisaran sasaran 4,5±1%.  Ke depan, inflasi 2010 diperkirakan akan kembali ke pola normalnya dalam kisaran 5±1% seiring dengan kembali menguatnya aktifitas perekonomian domestik dan harga-harga komoditas.

Di sektor keuangan, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga didukung oleh kinerja perbankan yang membaik. Intermediasi perbankan mulai meningkat terutama sejak Agustus 2009. Di sisi mikro, industri perbankan dalam kondisi stabil seperti tercermin dari masih tingginya tingkat kecukupan modal CAR sebesar 17.0% dan terjaganya NPL dibawah 5%. Suku bunga kredit masih terus mengalami penurunan secara bertahap. Likuiditas perbankan juga secara agregat masih mencukupi untuk kegiatan perbankan dalam pembiayaan perekonomian. Kebijakan Bank Indonesia untuk memberlakukan GWM sekunder sebesar 2,5% sejak 24 Oktober 2009 (setelah masa transisi 1 tahun) diharapkan akan memperkuat pengelolaan likuiditas perbankan.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Oktober 2009 yang memuat perkembangan makroekonomi, kebijakan moneter, dan prospek ekonomi 2009 dan 2010 dapat dilihat dalam Laporan Kebijakan Moneter (LKM).

Jakarta, 5 Oktober 2009

Bank Indonesia
Direktorat Perencanaan Strategis dan
Hubungan Masyarakat


Dyah N.K. Makhijani
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel