BI 7-Day Reverse Repo Rate Tetap 5,75%: Memperkuat Ketahanan Eksternal, Menjaga Stabilitas - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Agustus 2019

No. 20/ 82 /DKom   

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 Oktober 2018 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,50%. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya untuk menurunkan defisit transaksi berjalan ke dalam batas aman dan mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik sehingga dapat semakin memperkuat ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Bank Indonesia juga terus menempuh strategi operasi moneter yang diarahkan untuk menjaga kecukupan likuiditas baik di pasar Rupiah maupun pasar valas serta secara efektif memberlakukan transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) mulai 1 November 2018. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan memperkuat ketahanan eksternal, termasuk untuk mendorong ekspor dan menurunkan impor sehingga defisit transaksi berjalan dapat menurun dengan prakiraan kisaran 2,5% PDB pada 2019. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan perekonomian seperti defisit transaksi berjalan, nilai tukar, stabilitas sistem keuangan, dan inflasi untuk menempuh langkah lanjutan guna memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Sesuai perkiraan, pertumbuhan ekonomi global lebih rendah dari proyeksi semula disertai ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Di satu sisi, ekonomi AS diprakirakan makin kuat didukung permintaan domestik yang kemudian menyebabkan ekspektasi inflasi AS tetap tinggi dan akan direspons the Fed dengan tetap menaikkan suku bunga kebijakannya. Namun di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Eropa dan negara-negara emerging markets, termasuk Tiongkok, diprakirakan lebih rendah dari proyeksi semula, yang pada gilirannya menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi secara global. Penurunan proyeksi ekonomi dunia juga dipengaruhi ketegangan hubungan dagang antara AS dan negara lain yang kemudian menurunkan volume perdagangan dunia. Harga komoditas ekspor Indonesia tumbuh lebih lambat, di tengah harga minyak dunia yang terus meningkat. Sementara itu, ketidakpastian di pasar keuangan global yang masih tinggi juga mendorong investor global menempatkan dananya di aset-aset yang dianggap aman, khususnya di AS. Berbagai perkembangan tersebut pada gilirannya mengakibatkan dolar AS terus menguat dan akhirnya membuat tren pelemahan banyak mata uang negara berkembang berlanjut sampai dengan pertengahan Oktober 2018.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III 2018 tidak sekuat perkiraan terutama dipengaruhi penurunan ekspor neto. Konsumsi tetap baik didukung daya beli yang terjaga dan belanja terkait pemilu serta keyakinan konsumen yang tetap tinggi. Investasi masih tumbuh cukup tinggi ditopang baik investasi bangunan, terkait proyek infrastruktur dan properti, maupun investasi nonbangunan. Namun, kenaikan pertumbuhan ekspor tidak sekuat proyeksi, di tengah impor yang tumbuh tinggi. Pertumbuhan ekspor lebih terbatas disebabkan kinerja ekspor komoditas andalan, seperti pertanian dan pertambangan, yang tidak sekuat prakiraan. Sementara itu, impor tumbuh tinggi sejalan dengan permintaan domestik, meskipun pertumbuhan impor bulanan telah menunjukkan perlambatan. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi 2018 diprakirakan berada pada kisaran bawah 5,0-5,4%.

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat surplus pada September 2018. Surplus neraca perdagangan tercatat 0,23 miliar dolar AS, membaik dibandingkan dengan kinerja neraca perdagangan bulan sebelumnya yang mencatat defisit 0,94 miliar dolar AS. Perbaikan tersebut ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat dan defisit neraca perdagangan migas yang menurun. Perbaikan neraca perdagangan nonmigas dipengaruhi oleh penurunan impor nonmigas, terutama karena turunnya impor barang modal dan bahan baku. Dengan perkembangan tersebut, secara kumulatif Januari-September 2018, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit 3,78 miliar dolar AS. Sementara itu, posisi cadangan devisa cukup tinggi sebesar 114,8 miliar dolar AS pada akhir September 2018, atau setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, prospek neraca perdagangan dan transaksi berjalan diharapkan terus membaik sejalan dengan berbagai upaya Pemerintah bersama Bank Indonesia untuk menurunkan defisit transaksi berjalan.

Nilai tukar Rupiah masih mengalami depresiasi namun dengan volatilitas yang terjaga. Tekanan depresiasi Rupiah pada September 2018 dan kemudian berlanjut pada Oktober 2018 sejalan dengan pergerakan mata uang negara peers. Rupiah secara rata-rata melemah sebesar 2,07% pada September 2018 dan sedikit melemah pada Oktober 2018. Dengan perkembangan ini, maka secara year to date (ytd) sampai dengan 22 Oktober 2018, Rupiah terdepresiasi 10,65% atau masih lebih rendah dari pelemahan yang terjadi di Brasil, India, Afrika Selatan, dan Turki. Ke depan, Bank Indonesia terus melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar, didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga volatilitas Rupiah serta kecukupan likuiditas di pasar sehingga tidak menimbulkan risiko terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Inflasi masih terkendali pada level yang rendah dan stabil. Indeks Harga Konsumen mengalami deflasi sebesar 0,18% (mtm) pada September 2018, lebih dalam dibandingkan dengan deflasi bulan lalu sebesar 0,05% (mtm). Deflasi tersebut terutama bersumber dari deflasi kelompok volatile food, sedangkan inflasi inti melambat dan inflasi kelompok administered prices tercatat stabil. Dengan perkembangan tersebut, inflasi secara tahunan mencapai 2,88% (yoy), menurun dari 3,20% (yoy) pada bulan sebelumnya. Kelompok volatile food mencatat deflasi seiring berlanjutnya koreksi harga beberapa komoditas pangan. Sementara itu, inflasi inti melambat dari 0,30% (mtm) pada bulan Agustus 2018 menjadi 0,28% (mtm) pada September 2018. Terkendalinya inflasi inti hingga September 2018 tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar. Ke depan, inflasi diprakirakan tetap berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5±1% (yoy). Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dalam pengendalian inflasi sehingga inflasi tetap terjaga pada level yang rendah dan stabil.

Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga disertai intermediasi perbankan yang meningkat dan risiko kredit yang terkelola dengan baik. Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tetap tinggi mencapai 22,8% dan rasio likuiditas (AL/DPK) masih aman yaitu sebesar 18,3% pada Agustus 2018. Selain itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yaitu sebesar 2,7% (gross) atau 1,3% (net). Pertumbuhan kredit pada Agustus 2018 tercatat sebesar 12,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 11,3% (yoy). Adapun pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Agustus 2018 sebesar 6,9% (yoy), stabil dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya 6,9% (yoy). Sementara pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, penerbitan saham (IPO dan rights issue), obligasi korporasi, Medium Term Notes (MTN), dan Negotiable Certificate of Deposit (NCD) selama Januari s.d. Agustus 2018 tercatat sebesar Rp146,1 triliun (gross), turun dibandingkan dengan periode yang sama 2017 sebesar Rp183,7 triliun (gross). Dengan perkembangan tersebut, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2018 masih berada dalam kisaran proyeksi 10-12% (yoy), sementara pertumbuhan DPK diprakirakan akan mengalami perlambatan, berada di batas bawah kisaran 8,0-10,0% (yoy).

Stabilitas sistem pembayaran dan pengelolaan uang Rupiah secara umum terjaga dengan baik. Setelmen transaksi nontunai, baik nilai besar maupun ritel, dan transaksi tunai pada September 2018 tetap tumbuh positif. Rata-rata harian pertumbuhan nominal transaksi nontunai nilai besar yang diselesaikan melalui Bank Indonesia Real Time Gross Settlement (RTGS) meningkat 0,72% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan transaksi nontunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) tercatat 6,9% (yoy). Transaksi ritel melalui ATM, Debit, Kartu Kredit dan Uang Elektronik tercatat tumbuh 9,4% (yoy) pada Agustus 2018. Berbagai perkembangan transaksi tersebut didukung tetap terjaganya ketersediaan sistem pembayaran dan kelancaran operasional pada tingkat pelayanan yang tinggi, baik di Sistem Pembayaran Bank Indonesia (SPBI) maupun di industri sistem pembayaran. Dari sisi pembayaran tunai, posisi Uang Yang Diedarkan (UYD) meningkat 10,7% (yoy), sejalan dengan kebutuhan transaksi kegiatan ekonomi.

Jakarta, 23 Oktober 2018
DEPARTEMEN KOMUNIKASI

 

Agusman
Direktur Eksekutif

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel