BI 7-Day Reverse Repo Rate Tetap 4,75% Menjaga Stabilitas, Mendorong Pemulihan Ekonomi - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Oktober 2020

No. 19/ 46 /DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14-15 Juni 2017 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-day RR Rate) tetap sebesar 4,75%, dengan suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00% dan Lending Facility tetap sebesar 5,50%, berlaku efektif sejak 16 Juni 2017. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya Bank Indonesia menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mendukung keberlanjutan pemulihan ekonomi domestik. Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang bersumber dari global maupun domestik. Dari sisi global, kenaikan lebih lanjut Fed Fund Rate (FFR) dan rencana penurunan besaran neraca bank sentral AS, hasil Pemilu di Inggris, serta potensi menurunnya harga komoditas khususnya minyak dunia merupakan risiko yang tetap perlu diwaspadai. Dari sisi domestik, beberapa risiko yang tetap perlu dicermati adalah dampak penyesuaian administered prices terhadap inflasi serta masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan. Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Bank Indonesia juga terus mempererat koordinasi bersama Pemerintah dalam rangka pengendalian inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran dan mendorong kelanjutan reformasi struktural agar dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

Pertumbuhan ekonomi dunia membaik sesuai perkiraan, namun beberapa risiko tetap perlu dicermati. Prospek ekonomi dunia membaik sejalan dengan perkembangan ekonomi AS, Tiongkok, Eropa, dan Jepang. Perbaikan perekonomian AS ditopang terutama oleh konsumsi dan investasi yang menguat serta indikator ketenagakerjaan yang membaik. Di Tiongkok, ekspansi perekonomian terutama ditopang oleh pertumbuhan investasi pemerintah dan swasta. Di Eropa dan Jepang, pertumbuhan ekonomi membaik didukung oleh meningkatnya kinerja ekspor dan permintaan domestik. Sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dunia, volume perdagangan dunia juga meningkat. Sementara itu, harga komoditas global diperkirakan masih tetap tinggi, namun ke depan berpotensi bias ke bawah terkait pasokan yang berlebih di tengah permintaan yang terbatas. Bank Indonesia memandang bahwa kenaikan FFR tanggal 14 Juni 2017 telah diantisipasi sehingga pasar keuangan Indonesia tetap kondusif didukung oleh persepsi positif terhadap pengelolaan makroekonomi dan kondisi fundamental Indonesia. Ke depan, sejumlah risiko terhadap perekonomian global tetap perlu diwaspadai, antara lain kenaikan FFR lebih lanjut dan rencana penurunan besaran neraca bank sentral AS, serta perkembangan geopolitik di beberapa kawasan.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2017 diperkirakan membaik didukung oleh tumbuhnya ekspor, meningkatnya investasi, dan tetap kuatnya konsumsi Rumah Tangga (RT). Ekspor tumbuh cukup baik sejalan dengan berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan kenaikan harga beberapa komoditas global. Investasi mengalami peningkatan didorong oleh investasi bangunan, baik terkait proyek infrastruktur pemerintah maupun sektor properti swasta, serta perbaikan investasi nonbangunan pada aktivitas sektor berbasis komoditas dan konstruksi. Sementara itu, konsumsi RT diperkirakan tetap kuat didorong oleh penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR). Ke depan, Bank Indonesia memperkirakan perekonomian Indonesia pada 2017 tumbuh dalam kisaran 5,0-5,4% (yoy). Prospek perbaikan ekonomi tersebut terutama ditopang oleh ekspor dan investasi yang terus meningkat, serta konsumsi RT yang tetap kuat.

Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan II 2017 diperkirakan tetap mencatat surplus, ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial. Sementara itu, defisit transaksi berjalan diperkirakan tetap terjaga pada level yang sehat. Besarnya surplus transaksi modal dan finansial didukung oleh perkiraan meningkatnya aliran masuk modal portofolio dan investasi langsung seiring dengan positifnya keyakinan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Persepsi positif investor didukung oleh sovereign credit rating Indonesia menjadi investment grade oleh ketiga lembaga rating utama dunia. Aliran masuk modal asing ke pasar keuangan Indonesia sampai dengan akhir Mei 2017 mencapai 9,0 miliar dolar AS (ytd). Dengan perkembangan tersebut, posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2017 tercatat 124,95 miliar dolar AS, meningkat dari posisi akhir April 2017 sebesar 123,25 miliar dolar AS. Jumlah tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Nilai tukar rupiah bergerak relatif stabil dan cenderung menguat, seiring dengan berlanjutnya aliran masuk modal asing pada Mei 2017. Nilai tukar rupiah, secara bulanan point to point (ptp), tercatat menguat sebesar 0,05% ke level Rp13.323 per dolar AS. Pergerakan rupiah relatif stabil tercermin dari volatilitas rupiah yang rendah. Stabilitas nilai tukar rupiah didukung oleh besarnya aliran masuk modal asing dan semakin dalamnya pasar keuangan Indonesia. Ke depan, aliran masuk modal asing baik dalam bentuk FDI maupun investasi portofolio diperkirakan akan berlanjut seiring dengan kebijakan reformasi struktural pemerintah dan keyakinan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia. Bank Indonesia akan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi untuk mendorong nilai tukar yang sesuai nilai fundamentalnya dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar.

Inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran inflasi 2017 yaitu 4±1%, meskipun meningkat di bulan Mei 2017. Indeks Harga Konsumen (IHK) Mei 2017 mencatat inflasi sebesar 0,39% (mtm) atau 4,33% (yoy), meningkat dibandingkan bulan lalu yang mengalami inflasi sebesar 0,09% (mtm) atau 4,17% (yoy). Inflasi IHK terutama disumbang oleh inflasi komponen volatile food dan administered prices. Peningkatan inflasi volatile food dipengaruhi naiknya permintaan beberapa komoditas seiring dengan datangnya bulan Ramadhan di minggu ke-IV bulan Mei. Sementara itu, inflasi administered prices masih cukup tinggi tercatat 0,69% (mtm), meskipun turun dari bulan sebelumnya yakni 1,27% (mtm). Di sisi lain, inflasi inti cukup rendah sebesar 0,16% (mtm), meskipun sedikit meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 0,13% (mtm). Ke depan, inflasi tetap diarahkan berada pada sasaran inflasi 2017, yaitu 4±1%. Untuk itu, koordinasi kebijakan Pemerintah di pusat dan daerah dengan Bank Indonesia dalam pengendalian inflasi perlu terus diperkuat dalam menghadapi kenaikan harga volatile food selama bulan puasa Ramadhan dan hari raya Idul Fitri.

Stabilitas sistem keuangan tetap kuat didukung oleh ketahanan industri perbankan dan pasar keuangan yang terjaga. Pada April 2017, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan tercatat 22,6%, dan rasio likuiditas (AL/DPK) berada pada level 21,6%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat 3,1% (gross) atau 1,4% (net). Transmisi pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial terus berlanjut meski belum optimal sejalan dengan kehati-hatian bank dalam mengelola risiko kredit. Pertumbuhan kredit April 2017 tercatat 9,5% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya 9,2% (yoy) didorong oleh kredit infrastruktur, konsumsi dan jasa sosial. Di sisi lain, pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada April 2017 tercatat 9,9% (yoy), sedikit menurun dibandingkan dengan bulan sebelumnya 10,0% (yoy). Sejalan dengan perkiraan meningkatnya kegiatan ekonomi dan masih berlanjutnya dampak pelonggaran kebijakan moneter dan makroprudensial yang telah dilakukan sebelumnya, pertumbuhan kredit dan DPK pada tahun 2017 diperkirakan lebih tinggi, masing-masing berada dalam kisaran 10-12% dan 9-11%.

Jakarta, 15 Juni 2017
Departemen Komunikasi
 
Tirta Segara
Direktur Eksekutif

 

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel