BI dan Pemerintah Sepakati Langkah Untuk Jaga Inflasi 2016 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

No. 17/ 96 /DKom

Bank Indonesia bersama Pemerintah menyepakati enam langkah strategis untuk menjaga inflasi 2016 agar berada dalam kisaran 4%±1%. Langkah strategis ini juga menentukan upaya membawa inflasi dalam tren yang menurun ke depannya, sesuai dengan target yang ditetapkan. Kesepakatan tersebut disampaikan usai rapat yang diselenggarakan pada 23 Desember 2015 di Jakarta, dihadiri oleh Gubernur Bank Indonesia Agus D.W. Martowardojo, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Keuangan Bambang P.S. Brodjonegoro, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Direktur Utama Perum BULOG Djarot Kusumayakti, Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Syarkawi Rauf, Kepala Badan Ketahanan Pangan Gardjita Budi, serta pejabat eselon I dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dan Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Keenam langkah yang disepakati oleh BI dan Pemerintah tersebut adalah mengimplementasikan arah (roadmap) pengendalian Inflasi sebagai acuan program Tim Pengendali Inflasi (TPI) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID); mengaktifkan sekretariat pengendalian inflasi yang berkedudukan di Kementerian Koordinator Perekonomian untuk mempermudah koordinasi Pusat dan Daerah yang membutuhkan dukungan Pemerintah Pusat; melibatkan KPPU dan penegak hukum untuk mengatasi permasalahan struktur pasar komoditas pangan; menyelenggarakan Rakornas VII TPID tahun 2016 pada bulan Agustus 2016, setelah penetapan Kepala Daerah baru untuk mendapatkan komitmen dari Kepala Daerah dalam upaya stabilisasi harga; melakukan extra effort dalam pengendalian inflasi komoditas pangan sebagai antisipasi tantangan inflasi harga yang diatur Pemerintah (administered prices) tahun 2016; memperkuat bauran kebijakan Bank Indonesia untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi, khususnya pencapaian target inflasi 2016.

Rapat koordinasi diawali dengan mengevaluasi pencapaian inflasi 2015, yang diyakini akan terkendali di bawah 3%. Rendahnya inflasi 2015 tersebut tidak terlepas dari dukungan koordinasi kebijakan pengendalian inflasi di tingkat pusat dan daerah, antara Bank Indonesia dengan Pemerintah. Untuk memperkuat pengendalian inflasi di tahun 2016, khususnya yang berasal dari sisi administered prices dan bahan makanan bergejolak (volatile food), diperlukan sinkronisasi kebijakan yang lebih kuat, baik pada tingkat pusat maupun daerah. Kebijakan dimaksud didukung oleh suatu roadmap pengendalian inflasi yang komprehensif serta komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kebijakan (stakeholders).

Koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah yang semakin baik berperan penting dalam mengendalikan Inflasi 2015. Inflasi kelompok volatile food tercatat cukup rendah seiring dengan terjaganya kecukupan pasokan bahan pangan. Kondisi tersebut didukung koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah, antara lain, melalui TPI dan TPID dalam mendorong peningkatan produksi dan memperbaiki distribusi, serta meminimalkan berbagai distorsi harga bahan pangan. Sejalan dengan itu, kelompok administered prices diperkirakan mengalami inflasi yang rendah, bahkan berpotensi deflasi, ditopang oleh menurunnya harga energi dunia di tengah reformasi subsidi berupa penyesuaian harga BBM dan LPG 12 Kg, serta penyesuaian tarif listrik. Rendahnya inflasi administered prices tersebut juga ditopang oleh langkah Pemerintah untuk menurunkan harga solar dan memberikan diskon tarif listrik industri golongan tertentu melalui paket kebijakan ekonomi III. Sementara itu, inflasi inti tetap terkendali, didukung oleh ekspektasi inflasi yang terjaga, dampak passthrough pelemahan nilai tukar yang terbatas dan tekanan permintaan domestik yang relatif lemah. Hal tersebut tidak terlepas dari peran kebijakan Bank Indonesia dalam mengelola permintaan domestik, menjaga stabilitas nilai tukar, dan mengarahkan ekspektasi inflasi.

Penguatan koordinasi Bank Indonesia dan Pemerintah diperlukan untuk memastikan tetap terkendalinya inflasi 2016, terutama dari administered prices dan volatile food. Kebijakan terkait administered prices, termasuk tarif listrik, dapat berpotensi mendorong kenaikan inflasi. Sementara itu, tekanan inflasi volatile food diperkirakan dapat berasal dari terbatasnya pasokan sejumlah bahan pangan, termasuk beras. Hal ini, antara lain, disebabkan dampak El Nino yang diperkirakan berpengaruh terhadap produksi di sektor pertanian. Menghadapi tantangan tersebut, diperlukan sinkronisasi kebijakan yang didukung dengan komitmen yang kuat dari berbagai pihak, baik di pusat maupun daerah.

Jakarta, 23 Desember 2015
Departemen Komunikasi

Tirta Segara
Direktur Eksekutif

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel