BI Rate Tetap 7,50% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 Mei 2019

No. 17/ 17 /DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 17 Maret 2015 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,50% dan Lending Facility pada level 8,00%. Keputusan tersebut sejalan dengan upaya untuk mencapai sasaran inflasi 4±1% pada 2015 dan 2016, serta mengarahkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat dalam kisaran 2,5-3% terhadap PDB dalam jangka menengah. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia juga memperkuat langkah-langkah untuk stabilisasi nilai tukar Rupiah. Bauran kebijakan tetap difokuskan pada upaya menjaga stabilitas makroekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan global. Dalam konteks ini, Bank Indonesia berkomitmen untuk memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial, dan meningkatkan koordinasi dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan, serta mendorong percepatan reformasi struktural. Dalam kaitan ini, Bank Indonesia mendukung langkah-langkah lanjutan yang dilakukan oleh Pemerintah dalam melakukan reformasi struktural dalam rangka memperkuat neraca pembayaran.

Pemulihan ekonomi global masih terus berlangsung, terutama ditopang oleh perekonomian AS yang semakin solid. Pemulihan ekonomi AS didukung oleh konsumsi yang meningkat seiring dengan turunnya harga minyak dan membaiknya kondisi ketenagakerjaan. Konsumsi AS yang membaik tersebut diikuti oleh indikator produksi yang semakin meningkat. Perekonomian AS yang solid semakin menguatkan arah normalisasi kebijakan moneternya, meskipun waktu implementasinya masih diliputi ketidakpastian. Hal ini mendorong penguatan dolar AS terhadap hampir seluruh mata uang dunia serta meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global. Sementara itu, langkah Quantitative Easing dari Bank Sentral Eropa semakin memperlemah mata uang Euro di samping dapat mengimbangi sebagian dari pengaruh kebijakan the Fed terhadap pergerakan arus modal global ke emerging markets. Di sisi lain, perekonomian Tiongkok diperkirakan terus melambat seiring penurunan investasi. Sejalan dengan itu, harga komoditas global, termasuk harga minyak, diperkirakan masih berada pada level yang rendah, meskipun terdapat peningkatan dibandingkan level terendahnya pada bulan Januari 2015.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan mulai membaik dan secara keseluruhan tahun akan lebih tinggi dari tahun 2014. Pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2015 diperkirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, terutama ditopang oleh konsumsi swasta yang meningkat seiring dengan terkendalinya inflasi. Konsumsi pemerintah juga membaik sejalan dengan peningkatan pengeluaran pemerintah. Sementara itu, ekspor diperkirakan masih terkontraksi, walaupun mulai mengalami perbaikan, karena turunnya harga komoditas dan masih lemahnya permintaan dunia. Di sisi lain, investasi diperkirakan masih tumbuh terbatas di triwulan I 2015 namun akan meningkat pada triwulan-triwulan selanjutnya seiring dengan meningkatnya belanja modal pemerintah. Ke depan, pertumbuhan ekonomi pada 2015 diprakirakan akan berada pada kisaran 5,4-5,8%, ditopang terutama oleh pertumbuhan investasi yang meningkat seiring dengan realisasi berbagai proyek infrastruktur dan perbaikan iklim investasi, di samping konsumsi yang tetap kuat dan eskpor yang secara gradual akan membaik.

Neraca perdagangan pada Februari 2015 kembali mencatat surplus, terutama didorong oleh surplus non migas. Pada Februari 2015, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 0,74 miliar dolar AS, relatif stabil dibandingkan pencapaian surplus pada bulan sebelumnya. Pencapaian tersebut terutama ditopang oleh surplus neraca non migas sebesar 0,57 miliar dolar AS. Sementara itu, neraca migas pada Februari 2015 juga mencatat surplus, setelah pada bulan sebelumnya mencatat defisit. Bank Indonesia meyakini surplus neraca perdagangan pada Januari-Februari 2015 ini sesuai dengan prakiraan defisit transaksi berjalan triwulan I 2015 yang jauh lebih rendah dari triwulan IV 2014. Dari neraca finansial, aliran masuk modal asing diperkirakan tetap kuat dipengaruhi prospek ekonomi domestik yang semakin baik. Hingga Februari 2015, aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia telah mencapai 4,3 miliar dolar AS. Dengan perkembangan positif tersebut, cadangan devisa Indonesia pada Februari 2015 meningkat menjadi 115,5 miliar dolar AS, yang setara 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mencatat pelemahan, terutama didorong oleh terus berlanjutnya penguatan dolar AS terhadap semua mata uang dunia. Melemahnya mata uang Euro seiring dengan Quantitative Easing yang ditempuh Bank Sentral Eropa semakin meningkatkan tekanan pelemahan mata uang emerging markets, termasuk Indonesia. Pada Februari 2015, secara rata-rata rupiah melemah 1,38% (mtm) ke level Rp12.757 per dolar. Secara point-to-point rupiah terdepresiasi 1,99% dan ditutup di level Rp12.925 per dolar AS. Bank Indonesia terus meningkatkan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar Rupiah, termasuk intervensi di pasar valas maupun pembelian SBN di pasar sekunder. Ke depan, Bank Indonesia akan tetap konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya.

Tekanan inflasi semakin menurun dan mendukung prospek pencapaian sasaran inflasi 2015 yakni 4,0±1%. Indeks Harga Konsumen (IHK) kembali mencatat deflasi sebesar 0,36% (mtm) atau 6,29% (yoy), terutama karena terjadi deflasi pada komponen kelompok volatile food dan administered prices. Sementara itu, inflasi inti menurun dari bulan lalu sebesar 0,61% (mtm) menjadi 0,34% (mtm) atau 4,96% (yoy). Penurunan tersebut ditopang oleh harga komoditas global yang menurun, permintaan domestik yang moderat, dan ekspektasi inflasi yang terjaga. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati berbagai faktor risiko yang mempengaruhi inflasi, antara lain, perkembangan harga minyak dunia dan kemungkinan penyesuaian adminsistered prices lainnya.

Stabilitas sistem keuangan tetap solid ditopang oleh ketahanan sistem perbankan dan relatif terjaganya kinerja pasar keuangan. Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengan risiko kredit, likuiditas dan pasar yang cukup terjaga, serta dukungan modal yang kuat. Pada Januari 2015, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) mengalami peningkatan menjadi sebesar 20,84%, jauh di atas ketentuan minimum 8%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah dan stabil di kisaran 2,0%. Dari sisi fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit tercatat 11,5% (yoy), relatif stabil dari bulan sebelumnya sebesar 11,6% (yoy) dan diperkirakan akan membaik di bulan-bulan berikutnya. Sementara itu, pertumbuhan DPK pada Januari 2015 tercatat sebesar 14,2%, meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 12,3% (yoy). Di sisi lain, kinerja pasar modal juga membaik, tercermin pada IHSG yang masih berada dalam tren meningkat. Kedepan, sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan kredit dan DPK diperkirakan akan tumbuh masing-masing sebesar 15-17% dan 14-16% pada tahun 2015.

Jakarta, 17 Maret 2015
Departemen Komunikasi

Tirta Segara
Direktur Eksekutif

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel