BI Rate Tetap 7,50% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Agustus 2019

No. 16/73/DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 7 Oktober 2014 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 7,50% dan 5,75%. Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014 dan 4±1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat. Meskipun stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan tetap terjaga, Bank Indonesia mewaspadai sejumlah risiko yang berasal dari domestik dan eskternal, seperti dampak rambatan dari normalisasi kebijakan the Fed dan kemungkinan kebijakan administered prices Pemerintah. Sejalan dengan itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk memastikan tetap terjaganya stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan untuk mendukung kesinambungan perekonomian. Bank Indonesia juga akan meningkatkan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan agar proses penyesuaian ekonomi dapat berjalan baik sehingga kesinambungan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Di sisi global, pemulihan ekonomi dunia terus berlanjut meskipun masih berjalan tidak seimbang. Perekonomian AS terus tumbuh didukung oleh peningkatan kegiatan produksi manufaktur, penjualan eceran, tingkat keyakinan konsumen, serta membaiknya indikator tenaga kerja. Sejalan dengan hal tersebut, normalisasi kebijakan moneter the Fed diperkirakan akan berlangsung lebih awal yaitu pada triwulan II 2015 dengan kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate yang lebih tinggi dari perkiraan semula. Perkembangan ini telah mendorong penguatan dolar AS dan tekanan pada pasar keuangan di emerging markets. Di sisi lain, perekonomian Eropa dan Jepang menunjukkan ke arah perlambatan sehingga mendorong masih berlanjutnya kebijakan moneter akomodatif oleh bank-bank sentralnya. Pertumbuhan ekonomi di negara berkembang diprakirakan juga masih relatif terbatas. Aktivitas ekonomi Tiongkok cenderung melambat, terindikasi dari indikator penjualan eceran, mobil, dan perumahan. Melambatnya permintaan dari negara berkembang ini mendorong berlanjutnya penurunan harga komoditas.

Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi masih mengalami moderasi. Meski masih tumbuh cukup tinggi, konsumsi swasta cenderung melambat pascapelaksanaan Pemilu 2014, tercermin pada indikator penjualan eceran yang tumbuh terbatas. Konsumsi pemerintah juga belum meningkat tinggi sesuai pola musimannya terkait dengan penghematan anggaran untuk pengendalian defisit fiskal. Sementara itu, di tengah membaiknya pertumbuhan investasi bangunan pada akhir tahun, kinerja investasi nonbangunan sedikit melemah seiring dengan masih menurunnya impor barang modal. Meski membaik, peningkatan ekspor belum setinggi perkiraan sebelumnya seiring masih menurunnya harga komoditas dunia dan melemahnya volume perdagangan negara emerging markets. Sejalan dengan itu, impor masih mencatat penurunan. Secara keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan diperkirakan akan cenderung menuju batas bawah kisaran prakiraan sebelumnya yaitu 5,1-5,5%.

Surplus neraca perdagangan nonmigas pada Agustus 2014 terus berlanjut, meski menyusut dibandingkan surplus pada bulan sebelumnya. Berkurangnya surplus nonmigas tersebut dipengaruhi oleh kenaikan impor nonmigas yang melampaui kenaikan ekspor nonmigas. Sementara itu, kinerja neraca perdagangan migas Agustus 2014 mengalami perbaikan, disebabkan oleh kenaikan ekspor migas, terutama ekspor minyak mentah. Secara keseluruhan, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2014 tercatat defisit 0,31 miliar dolar AS setelah pada bulan sebelumnya mengalami surplus sebesar 0,05 miliar dolar AS. Bank Indonesia memandang perkembangan neraca perdagangan Agustus 2014 ini masih sesuai dengan prakiraan kinerja transaksi berjalan triwulan III 2014. Sementara itu, dari neraca finansial, aliran masuk modal asing masih cukup besar didorong oleh persepsi positif terhadap prospek perekonomian domestik. Secara akumulatif hingga September 2014, aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia telah mencapai 14,6 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2014 menjadi 111,2 miliar dolar AS, setara 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Rupiah mengalami pelemahan pada bulan September 2014 seiring dengan penguatan dolar AS yang memberikan tekanan pada hampir seluruh mata uang dunia. Rupiah secara rata-rata melemah 1,57% (mtm) dari bulan sebelumnya menjadi Rp11.898 per dolar AS. Secara point to point (ptp), rupiah terdepresiasi sebesar 4% dan ditutup pada level Rp12.185 per dolar AS. Pergerakan rupiah tersebut sejalan dengan pergerakan mata uang lain di kawasan. Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor sentimen, baik yang bersumber dari eksternal maupun domestik. Faktor eskternal terkait dengan normalisasi kebijakan Fed, indikasi perlambatan ekonomi Tiongkok dan dinamika geopolitik global. Sementara itu, faktor domestik terkait dengan perilaku investor yang menunggu pembentukan kabinet pemerintahan baru dan program kerja pemerintah ke depan, termasuk kebijakan penyesuaian BBM bersubsidi. Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Inflasi pada September 2014 menurun dibandingkan bulan sebelumnya dan berada di bawah perkiraan. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan September mencatat inflasi sebesar 0,27% (mtm), lebih rendah dari 0,47% (mtm) pada bulan sebelumnya. Selain berada dibawah perkiraan Bank Indonesia, inflasi September tersebut lebih rendah dari rata-rata historis selama 5 tahun terakhir. Penurunan tersebut didukung oleh rendahnya tekanan inflasi volatile food dan terkendalinya inflasi inti. Selain itu, inflasi inti masih terkendali, sejalan dengan menurunnya tekanan eksternal, moderatnya permintaan domestik serta masih terjaganya ekspektasi inflasi. Namun, tekanan inflasi administered prices meningkat terkait penyesuaian harga beberapa komoditas energi, seperti tarif tenaga listrik (TTL) dan LPG 12 kg. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati berbagai risiko inflasi, terutama terkait dengan kemungkinan penyesuaian harga BBM bersubsidi, dan memperkuat koordinasi pengendalian inflasi dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Hal ini dilakukan guna meminimalkan dampak lanjutan yang ditimbulkan dan mengarahkan inflasi pada sasaran inflasi yang ditetapkan.

Stabilitas sistem keuangan masih solid ditopang oleh ketahanan sistem perbankan dan relatif terjaganya kinerja pasar keuangan. Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengan risiko kredit, likuiditas dan pasar yang cukup terjaga, serta dukungan modal yang kuat. Pada Agustus 2014, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tinggi sebesar 19,23%, jauh di atas ketentuan minimum 8%, sedangkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah dan stabil di kisaran 2,00%. Sementara itu, pertumbuhan kredit kepada sektor swasta melambat menjadi 13,4% (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 15,0% (yoy), sejalan dengan proses penyesuaian dalam perekonomian. Di sisi lain, kondisi likuiditas perbankan membaik seiring dengan operasi keuangan pemerintah yang mulai ekspansif. Hal itu tercermin pada pertumbuhan M2 dan Dana Pihak Ketiga (DPK), yang masing-masing mencapai 11,0 % (yoy) dan 11,6% (yoy) pada Agustus 2014. Beberapa bank mulai menurunkan suku bunga simpanan. Sementara itu, kinerja pasar modal pada September 2014 masih relatif baik di tengah tekanan pasar keuangan global. Ke depan, Bank Indonesia terus mencermati risiko yang dapat mengganggu stabilitas sistem keuangan, termasuk peningkatan utang luar negeri korporasi.

Jakarta, 7 Oktober 2014
Departemen Komunikasi

Tirta Segara
Direktur Eksekutif

 

Laporan lengkap mengenai perkembangan ekonomi makro dan kebijakan moneter yang dibahas pada RDG Oktober 2014 dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter Oktober 2014

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel