BI Rate Tetap 7,50% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

No. 16/64/DKom

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 11 September 2014 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,50%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing tetap pada level 7,50% dan 5,75%. Kebijakan tersebut konsisten dengan upaya untuk mengarahkan inflasi menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014 dan 4±1% pada 2015, serta menurunkan defisit transaksi berjalan ke tingkat yang lebih sehat. Bank Indonesia menilai proses penyesuaian struktur perekonomian ke arah yang lebih seimbang masih terus berlangsung dengan ditopang stabilitas makro ekonomi yang tetap terjaga. Ke depan, masih terdapat sejumlah risiko dari eksternal dan domestik yang perlu diwaspadai yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi makro dan stabilitas sistem keuangan. Untuk itu, Bank Indonesia akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter dan makroprudensial serta kebijakan untuk memperkuat struktur perekonomian domestik. Bank Indonesia juga akan meningkatkan koordinasi kebijakan dengan Pemerintah dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan agar proses penyesuaian ekonomi dapat berjalan baik dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi yang  sustainable ke depan.

Di sisi global, asesmen Bank Indonesia menunjukkan bahwa perekonomian dunia terus mengalami pemulihan. Perekonomian AS terus tumbuh didukung oleh kegiatan produksi manufaktur dan konsumsi yang dalam tren meningkat, walaupun secara struktural masih lemah termasuk tingkat partisipasi tenaga kerja dan produktivitas yang masih menurun. Sehubungan dengan itu, normalisasi kebijakan moneter the Fed diperkirakan akan berlangsung secara gradual, meskipun terdapat kemungkinan kenaikan Fed Fund Rate dapat terjadi pada triwulan II atau III tahun 2015. Di sisi lain, perekonomian Eropa menunjukkan perlambatan, tercermin dari permintaan domestik yang masih relatif lemah dan menurunnya ekspor akibat ketegangan geopolitik Ukraina-Rusia. Penurunan suku bunga dan stimulus kebijakan moneter oleh ECB diperkirakan akan membantu perbaikan ekonomi di Uni Eropa dan menambah ekses likuiditas di pasar keuangan global. Di negara berkembang, pertumbuhan ekonomi diprakirakan masih relatif terbatas sehingga mendorong berlanjutnya penurunan harga komoditas. Di tengah pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang relatif stabil, perekonomian India menunjukkan perbaikan sementara sejumlah bank sentral di Asia Tenggara menaikkan suku bunga kebijakan untuk pengendalian inflasi di negaranya. Ke depan, Bank Indonesia terus mewaspadai sejumlah risiko global dan regional ini agar tidak mengganggu stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Di sisi domestik, pertumbuhan ekonomi masih mengalami moderasi. Meskipun masih tumbuh cukup tinggi, konsumsi rumah tangga berada dalam tren melambat. Pelemahan ini terindikasi, antara lain, dari penurunan indeks penjualan eceran dan penjualan kendaraan bermotor. Di sisi lain, konsumsi pemerintah diperkirakan membaik pada triwulan III dan IV ini sejalan dengan pola serapan anggaran, meskipun dengan tingkat yang cenderung lebih rendah terkait penghematan anggaran. Kinerja investasi juga diperkirakan mulai membaik, meskipun masih terbatas. Kondisi tersebut, antara lain dipengaruhi oleh masih terbatasnya perbaikan ekspor seiring dengan masih lemahnya pertumbuhan negara-negara emerging markets. Sejalan dengan moderasi permintaan domestik, impor juga masih menurun. Secara keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan diperkirakan masih sesuai dengan prakiraan sebelumnya dalam kisaran 5,1%-5,5% dengan kecenderungan menuju batas bawah.

Neraca perdagangan mencatat surplus terutama berasal dari besarnya surplus neraca nonmigas. Neraca perdagangan Indonesia pada Juli 2014 tercatat surplus 0,13 miliar dolar AS setelah pada bulan sebelumnya mengalami defisit sebesar 0,29 miliar dolar AS. Kinerja neraca perdagangan tersebut didorong oleh membaiknya surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat menjadi 1,73 miliar dolar AS dan melampaui defisit neraca perdagangan migas sebesar 1,60 miliar dolar AS. Ke depan, kinerja neraca perdagangan non-migas diperkirakan akan didukung oleh peningkatan aktivitas ekspor seiring dengan perbaikan ekonomi global dan mulai kembalinya ekspor mineral, meskipun defisit neraca migas diperkirakan masih berlanjut. Sementara itu, dari neraca finansial, aliran masuk modal asing tetap besar didorong oleh persepsi positif terhadap prospek ekonomi domestik yang semakin sehat. Hingga Agustus 2014, aliran masuk portofolio asing ke pasar keuangan Indonesia telah mencapai 14,4 miliar dolar AS. Dengan perkembangan tersebut, cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2014 meningkat menjadi 111,2 miliar dolar AS, setara 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Rupiah melemah terbatas dengan volatilitas yang terjaga. Rupiah secara rata-rata melemah 0,24% (mtm) dari bulan sebelumnya menjadi Rp11.710 per dolar AS. Secara point to point (ptp), rupiah terdepresiasi sebesar 1,03% dan ditutup pada level Rp11.698 per dolar AS. Pelemahan rupiah tersebut dipengaruhi oleh faktor sentimen, baik yang bersumber dari eksternal maupun domestik. Faktor eskternal terkait dengan dinamika geopolitik, perkembangan ekonomi Tiongkok serta terkait dengan kemungkinan normalisasi kebijakan The Fed yang lebih cepat dari perkiraan semula. Sementara itu, faktor sentimen domestik terkait dengan perilaku investor yang menunggu rencana kebijakan pemerintah ke depan, termasuk kebijakan terkait dengan subsidi energi. Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan nilai fundamentalnya.

Inflasi pada Agustus 2014 menurun seiring dengan meredanya tekanan harga pasca Idul fitri. Indeks Harga Konsumen (IHK) pada bulan Agustus mencatat inflasi sebesar 0,47% (mtm) atau 3,99% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,93% (mtm) atau 4,53% (yoy). Penurunan inflasi tersebut ditopang oleh menurunnya inflasi volatile food dan adminsitered prices, serta terkendalinya inflasi inti. Inflasi inti masih terkendali dan sedikit menurun mencapai 4,47% (yoy), sejalan dengan terjaganya ekspektasi inflasi. Bank Indonesia menilai inflasi sampai dengan Agustus 2014 masih sejalan dengan pencapaian sasaran inflasi 4,5±1% pada 2014 dan 4,0±1% pada 2015. Ke depan, Bank Indonesia tetap mewaspadai berbagai risiko yang dapat mengganggu pencapaian sasaran inflasi, khususnya yang bersumber dari kemungkinan kenaikan administered prices, dan akan memperkuat langkah-langkah koordinasi pengendalian inflasi.

Stabilitas sistem keuangan masih solid ditopang oleh ketahanan sistem perbankan dan relatif terjaganya kinerja pasar keuangan. Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengan risiko kredit, likuiditas dan pasar yang cukup terjaga, serta dukungan modal yang kuat. Pada Juli 2014, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tinggi sebesar 19,18%, jauh di atas ketentuan minimum 8%, sedangkan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah dan stabil di kisaran 2,00%. Sementara itu, pertumbuhan kredit kepada sektor swasta melambat menjadi 15,0% (yoy) dari bulan sebelumnya sebesar 16,6% (yoy), sejalan dengan proses penyesuaian dalam perekonomian. Kondisi likuiditas baik dalam perekonomian maupun perbankan relatif terjaga. Hal itu tercermin pada pertumbuhan M2 dan Dana Pihak Ketiga (DPK), yang masing-masing mencapai 11,0 % (yoy) dan 10,4% (yoy) pada Juli 2014, serta menurunnya suku bunga pasar uang akibat masuknya uang kartal ke sistem perbankan. Ke depan, kondisi likuiditas perbankan diprakirakan akan tetap memadai seiring dengan mulai ekspansinya keuangan pemerintah dalam paruh kedua tahun 2014. Sementara itu, perbaikan kinerja pasar modal pada Agustus 2014 juga membaik, tercermin pada IHSG yang berada dalam tren meningkat. Bank Indonesia terus mencermati risiko yang bersumber dari peningkatan utang luar negeri korporasi.

Jakarta, 11 September 2014
Departemen Komunikasi

Tirta Segara
Direktur Eksekutif

 

Laporan lengkap mengenai perkembangan ekonomi makro dan kebijakan moneter yang dibahas pada RDG September 2014 dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter September 2014

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel