BI Rate Naik 25 bps menjadi 7,50% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Mei 2019
No. 15/44/DKom
 
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 12 November 2013 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 7,50%, dengan suku bunga Lending Facility dan suku bunga Deposit Facility masing-masing naik menjadi 7,50% dan 5,75%. Kebijakan ditempuh dengan mempertimbangkan masih besarnya defisit transaksi berjalan di tengah risiko ketidakpastian global yang masih tinggi. Dengan demikian, keputusan ini diambil untuk memastikan bahwa defisit transaksi bejalan menurun ke tingkat yang lebih sehat dan inflasi tetap terkendali menuju ke sasaran 4,5±1% pada 2014 sehingga tetap dapat mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Ke depan, Bank Indonesia mencermati sejumlah risiko dalam perekonomian global dan nasional serta akan mengoptimalkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial. Bank Indonesia juga akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah khususnya dalam pengendalian inflasi dan defisit transaksi berjalan, termasuk kebijakan-kebijakan untuk memperbaiki kondisi struktural ekonomi.
 
Perkembangan ekonomi global pada Oktober 2013 cenderung membaik, namun masih dibayangi risiko ketidakpastian yang tinggi. Perkembangan positif ekonomi global terutama dipengaruhi sentimen positif pasar keuangan global terhadap penundaan pembahasan debt ceiling AS dan penundaan tapering off the Fed. Sementara prospek pertumbuhan ekonomi global masih sesuai perkiraan sebelumnya. Namun demikian, Bank Indonesia mencermati perkembangan ekonomi global masih diliputi oleh ketidakpastian. Pola pertumbuhan ekonomi dunia cenderung bergeser dengan melambatnya ekonomi negara berkembang dan menguatnya ekonomi negara maju. Selain itu, siklus harga komoditas dunia yang tinggi diperkirakan akan berakhir sehingga dapat menghambat upaya pemulihan ekonomi nasional. Kedua kecenderungan ini akan berpengaruh terhadap kinerja eksternal ekonomi Indonesia.
 
Pertumbuhan ekonomi triwulan III 2013 melambat sesuai dengan prakiraan sebelumnya. Perekonomian Indonesia pada triwulan III-2013 tumbuh 5,6% (yoy), lebih lambat dari triwulan II 2013 sebesar 5,8% (yoy). Perlambatan ekonomi terutama tercatat pada sisi investasi dengan menurunnya investasi bangunan dan rendahnya pertumbuhan investasi non-bangunan. Kinerja ekspor secara riil mengalami perbaikan meskipun diikuti dengan impor total yang meningkat. Sementara itu, konsumsi baik konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah menunjukkan peningkatan. Bank Indonesia menilai bahwa perlambatan ekonomi tidak terlepas dari pengaruh kebijakan stabilisasi yang dilakukan Pemerintah dan Bank Indonesia guna membawa pertumbuhan ekonomi ke arah yang lebih sehat dan seimbang. Dengan perkembangan hingga triwulan III-2013, Bank Indonesia masih memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2013 dalam kisaran proyeksi sebelumnya di 5,5-5,9% dan meningkat pada kisaran 5,8-6,2% di tahun 2014.
 
Di sisi eksternal, perkembangan Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan III-2103 masih mengalami tekanan defisit. Defisit Neraca Transaksi Berjalan diperkirakan menurun menjadi US$ 8,4 miliar pada triwulan III-2013 dibandingkan dengan hampir US$10,0 miliar pada triwulan sebelumnya. Perbaikan terutama tercatat pada surplus neraca perdagangan komoditas non-migas (fob) dengan menurunnya impor non-migas sejalan dengan melambatnya permintaan dalam negeri. Selain itu, defisit neraca jasa dan neraca pendapatan juga mengecil. Namun demikian, defisit pada neraca perdagangan migas meningkat dengan menurunnya produksi dalam negeri dan masih tingginya impor migas untuk konsumsi dalam negeri. Sementara surplus pada Neraca Transaksi Modal dan Finansial berkurang sebagai dampak dari aliran masuk investasi portfolio asing yang menurun akibat ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi. Sementara itu, Penanaman Modal Asing Langsung (Foreign Direct Investment) tercatat meningkat. Dengan perkembangan tersebut, Cadangan Devisa Indonesia pada akhir Oktober 2013 mencapai US$97,0 miliar, meningkat US$1,3 miliar dari posisi akhir September 2013 sebesar US$95,7 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan 5,5 bulan impor atau setara dengan 5,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah. Bank Indonesia memandang jumlah tersebut cukup aman untuk mendukung ketahanan sektor eksternal dan berada di atas standar kecukupan internasional.
 
Nilai tukar rupiah pada bulan Oktober 2013 cukup stabil dan bergerak sesuai dengan fundamentalnya. Nilai tukar rupiah secara point to point menguat sebesar 2,73% (mtm) menjadi Rp11.273 per dolar AS, namun secara rata-rata melemah 0,14% (mtm) menjadi Rp11.343 per dolar AS. Perkembangan ini dipengaruhi kondisi pasar keuangan global pada Oktober 2013 yang cukup baik serta penurunan ekspektasi inflasi domestik, yang pada gilirannya mendorong masuknya aliran modal asing ke instrumen pasar keuangan domestik, khususnya SBI dan SUN. Nilai tukar yang stabil juga dipengaruhi terkendalinya permintaan impor non-migas sejalan moderasi pertumbuhan ekonomi. Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamentalnya.
 
Tekanan inflasi yang mereda masih berlanjut di bulan Oktober 2013. IHK Oktober 2013 tercatat sebesar 0,09% (mtm) atau 8,32% (yoy), sehingga memperkuat indikasi inflasi telah kembali ke pola normal bulanannya. Meredanya tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok bahan pangan, sementara inflasi administered prices dan inflasi inti cukup stabil. Inflasi inti yang stabil (4,73%, yoy) antara lain dipengaruhi meredanya tekanan eksternal sejalan dengan harga pangan global yang masih dalam tren menurun. Dampak pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap inflasi juga tercatat relatif kecil. Dengan meredanya tekanan inflasi tersebut maka inflasi keseluruhan tahun 2013 diprakirakan akan sedikit berada di bawah 9,0% dan menurun dalam kisaran target 4,5±1% pada tahun 2014.
 
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga dengan dukungan ketahanan industri perbankan yang tetap solid. Rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) pada bulan September 2013 tetap tinggi mencapai 18,0%, jauh di atas ketentuan minimum 8%, sedangkan rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) tetap terjaga rendah sebesar 1,86%. Sementara itu, pertumbuhan kredit tercatat 23,1% (yoy) pada bulan September 2013, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Agustus 2013 sebesar 22,2% (yoy). Namun demikian, kenaikan pertumbuhan kredit tersebut lebih dipengaruhi dampak revaluasi pelemahan nilai tukar rupiah. Bila dalam perhitungan kurs tetap maka pertumbuhan kredit dalam tren menurun yakni dari 20,2% (yoy) pada Agustus 2013 menjadi 19,9% (yoy) pada September 2013. Bank Indonesia menilai tren perlambatan pertumbuhan kredit tersebut sejalan pengaruh perlambatan ekonomi domestik dan diperkirakan akan tumbuh pada kisaran 18-20% untuk keseluruhan tahun 2013.
 
Laporan lengkap mengenai perkembangan ekonomi makro dan kebijakan moneter yang dibahas pada RDG November 2013 dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di Website Bank Indonesia.
 
Jakarta, 12 November 2013
Departemen Komunikasi
 
Difi A. Johansyah
Direktur Eksekutif
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel