BI Rate Tetap Pada Level 6,5% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Agustus 2019

No. 12 / 48 / PSHM / Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 4 November 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada tingkat 6,50%. Evaluasi terhadap kinerja dan prospek perekonomian secara umum menunjukkan perbaikan, dengan pertumbuhan ekonomi pada Triwulan III-2010 yang diperkirakan lebih tinggi dari Triwulan II-2010 dan tekanan inflasi khususnya dari sisi volatile foods dan administered prices yang menurun. Dewan Gubernur memandang level BI Rate saat ini masih konsisten dengan pencapaian sasaran inflasi dan tetap kondusif untuk menjaga stabilitas keuangan serta mendorong intermediasi perbankan yang diperlukan bagi sisi penawaran untuk dapat merespon akselerasi di sisi permintaan secara memadai. Ditengah masih derasnya arus modal masuk dan kondisi ekses likuiditas yang cukup besar, Dewan Gubernur menegaskan bahwa pengelolaan likuiditas perekonomian merupakan hal yang lebih penting. Implementasi kebijakan menaikkan rasio Giro Wajib minimum (GWM) primer per 1 November 2010 telah berjalan dengan baik tanpa menimbulkan gejolak pada likuiditas perbankan. Ke depan, Bank Indonesia akan memperkuat manajemen likuiditas dan efektifitas kebijakan moneter melalui penerapan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial untuk pengelolaan aliran masuk modal asing, stabilisasi nilai tukar Rupiah, dan memastikan pengendalian inflasi sesuai sasaran yang ditetapkan yaitu 5% ± 1% pada tahun 2011.

Dewan Gubernur mencatat bahwa proses pemulihan ekonomi global yang terjadi belum berimbang dan masih diliputi ketidakpastian. Pemulihan perekonomian di negara maju cenderung melambat, sementara di negara emerging markets cenderung mengalami moderasi pertumbuhan ekonomi. Hal ini akan berpotensi menurunkan permintaan eksternal terhadap ekspor dari negara-negara emerging economies, termasuk Indonesia, meskipun dengan kecenderungan harga komoditas global yang meningkat. Sementara itu, aliran masuk modal asing ke emerging economies, termasuk Indonesia, terus berlanjut didorong baik oleh tingginya ekses likuiditas global dan langkah lanjutan kebijakan moneter akomodatif di negara maju sebagai "push factors", maupun oleh kuatnya fundamental ekonomi, tingginya imbal hasil dan membaiknya persepsi risiko di emerging economies sebagai "pull factors".

Di sisi domestik, Dewan Gubernur menilai bahwa akselerasi pertumbuhan ekonomi masih terus berlanjut didorong oleh konsumsi dan perbaikan investasi. Kuatnya konsumsi dalam negeri didukung oleh berbagai faktor antara lain daya beli yang membaik, dukungan pembiayaan yang meningkat, serta kepercayaan konsumen dan dunia usaha yang membaik. Sementara itu, perbaikan investasi terus berlanjut sejalan dengan implementasi berbagai kebijakan yang mendukung kegiatan investasi, perbaikan persepsi pasar terhadap perekonomian, dan peningkatan pembiayaan serta penurunan harga impor barang modal. Sementara itu, ekspor tetap tumbuh tinggi meskipun sedikit melambat dibandingkan periode sebelumnya didukung oleh masih kuatnya pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang menjadi mitra dagang, khususnya Cina dan India. Selain itu, harga komoditas yang cenderung meningkat juga turut mendukung peningkatan ekspor.

Ekspor yang tetap kuat dan aliran modal asing yang masih tinggi berdampak positif pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Ekspor yang masih tumbuh tinggi mendorong terjadinya surplus pada transaksi berjalan. Sementara itu, aliran modal asing yang terus meningkat seiring dengan menguatnya keyakinan investor internasional terhadap membaiknya prospek perekonomian domestik menyebabkan surplus pada transaksi modal dan finansial. Dengan perkembangan ini, cadangan devisa Indonesia sampai dengan akhir Oktober 2010 mencapai USD91,799 miliar atau setara dengan 6,93 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Di sisi harga, tekanan inflasi Oktober 2010 mencatat penurunan terutama akibat deflasi pada kelompok volatile food. Inflasi IHK bulan Oktober tercatat sebesar 0,06% (mtm) atau sebesar 5,67% (yoy). Rendahnya inflasi IHK Oktober tersebut didukung oleh terkoreksinya harga beberapa komoditas bahan pangan dan tarif angkutan paska Hari Raya Idul Fitri. Sementara itu, tekanan inflasi dari kelompok administered prices memberikan tekanan yang rendah sejalan dengan minimalnya kebijakan penyesuaian harga oleh pemerintah. Tekanan inflasi kelompok inti mencatat peningkatan terutama berasal dari pengaruh kenaikan harga internasional khususnya komoditi emas dan gula pasir. Bank Indonesia memandang masih terdapat potensi risiko peningkatan tekanan inflasi ke depan yang antara lain bersumber dari kecenderungan berlanjutnya peningkatan harga komoditas di pasar internasional, berlanjutnya anomali cuaca yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi komoditas pokok, serta peningkatan permintaan di akhir tahun. Berdasarkan berbagai perkembangan tersebut, Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk menjaga inflasi pada kisaran target yang ditetapkan yakni sebesar 5%±1% untuk 2010 dan 2011 serta 4,5%±1% untuk 2012.

Industri perbankan menunjukkan perkembangan yang semakin baik dan disertai oleh stabilitas sistem perbankan yang tetap terjaga. Ketahanan sektor keuangan hingga Oktober 2010 tetap terjaga dengan cukup baik, didukung oleh kondisi makroekonomi yang kondusif. Hal ini tercermin dari rasio kecukupan modal (CAR) dan profitabilitas perbankan yang secara umum masih tinggi, rasio kredit bermasalah (NPL) yang terjaga dibawah 5%, dan kondisi likuiditas perbankan yang terkendali. Intermediasi perbankan juga semakin membaik tercermin dari pertumbuhan kredit yang hingga akhir Oktober 2010 mencapai 21,9% (yoy). Perkembangan pertumbuhan kredit perbankan tersebut masih sesuai dengan Rencana Bisnis Bank (RBB) dimana pertumbuhan kredit diperkirakan dapat mencapai kisaran 22%-24%. Sementara itu pertumbuhan kredit (ytd) untuk seluruh sektor sudah positif.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2010 yang memuat perkembangan makroekonomi dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di website Bank Indonesia.

Jakarta, 4 November 2010
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Difi A. Johansyah
Kepala Biro

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel