Pernyataan Gubernur Bank Indonesia BI Rate Turun Sebesar 25 bps Menjadi 9,25% - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
19 Juli 2019
No. 9/ 8 /PSHM/Humas

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada hari ini, Selasa, 6 Februari 2007, memutuskan untuk menurunkan kembali BI Rate, sebesar 25 bps dari 9,50% menjadi 9,25 %. Keputusan tersebut diambil setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi makroekonomi Indonesia hingga akhir Januari 2007, prospek ekonomi moneter ke depan dan berbagai faktor risiko yang dihadapi, serta pencapaian sasaran inflasi  6+1% dan 5%+1% untuk tahun 2007 dan 2008. "Dari beberapa faktor risiko kedepan yang dipertimbangkan dalam RDG menunjukkan bahwa ruang bagi penurunan BI Rate, walaupun masih ada, akan semakin menyempit dan terbatas", demikian Gubernur Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah.

RDG menilai bahwa sampai dengan Januari 2007 perekonomian nasional masih konsisten dengan perkiraan yang ditetapkan pada awal tahun dan masih berpeluang untuk tumbuh lebih tinggi. Peningkatan kegiatan perekonomian terlihat antara lain dari adanya tanda-tanda awal kenaikan minat investasi, perbaikan persepsi bisnis, peningkatan impor barang modal, peningkatan penjualan dan penurunan inventori.  Namun, respon sisi penawaran tampak masih terkendala baik untuk peningkatan kapasitas (karena adanya masalah infrastruktur, energi dan iklim investasi) maupun untuk peningkatan efisiensi dan produktifitas (karena biaya tinggi dalam perekonomian, rendahnya kualitas tenaga kerja dan semakin menurunnya usia produktif kapital).

Masih tingginya berbagai risiko mikro struktural yang menyelimuti perekonomian di sektor riil membuat jendela peluang (the window of opportunity) bagi pemutus kebijakan publik mulai mengecil, sementara ruang untuk menurunkan BI Rate semakin terbatas. "Oleh karena itu, upaya memelihara momentum pemulihan ekonomi dengan mempercepat realisasi perbaikan iklim investasi dan penurunan biaya tinggi serta distorsi struktural lainnya dalam perekonomian menjadi penting di semester I/2007. Bank Indonesia juga akan lebih berhati-hati dalam mengelola waktu dan  besaran perubahan BI Rate agar stabilitas harga dan nilai tukar yang ada saat ini yang merupakan prasyarat dasar bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tetap terjaga", demikian tambah Burhanuddin. 

Sampai dengan Januari 2007, stabilitas harga dan nilai tukar rupiah tetap terjaga. Laju inflasi pada bulan Januari 2007 tercatat sebesar 6,26 % (yoy) atau menurun dari lajunya di akhir tahun 2006 yang sebesar 6,6% (yoy). Sementara itu, laju inflasi inti tidak banyak berbeda dari lajunya pada bulan Desember 2006 dan tercatat sebesar 6,03% (yoy) pada bulan Januari 2007.  Nilai tukar Rupiah secara rata-rata cenderung menguat pada posisi Rp 9.070/US Dollar dengan volatilitas yang rendah. Masih kuatnya aliran modal masuk untuk portfolio placement mendukung tren apresiasi nilai tukar tersebut. 

RDG mencermati beberapa faktor risiko kedepan yang perlu dipertimbangkan yaitu : Pertama, masih terdapat berbagai permasalahan yang berpotensi melanggengkan kekakuan di sisi penawaran pada tahun 2007, yang terutama bersumber pada ekonomi biaya tinggi, kesimpangsiuran dan inkonsistensi regulasi, berbagai pungutan yang dirasa sangat membebani pengusaha, dan masih rendahnya tingkat kepastian hukum. Selain itu, RDG juga melihat bahwa kemampuan untuk mempercepat belanja pembangunan di daerah cenderung masih rendah.  Semua permasalahan ini dibaca sebagai tingkat risiko-mikro struktural yang tinggi dalam perekonomian oleh para pengusaha sektor riil sehingga mempengaruhi minat mereka untuk memperluas kapasitas usaha melalui investasi. Dampak dari kekakuan di sisi penawaran tersebut menyebabkan perekonomian di sektor riil tidak mampu menyerap ekses likuiditas di pasar keuangan. Selain itu, stimulus sisi permintaan serta kebijakan penambahan likuiditas dalam perekonomian akan cenderung menyebabkan perekonomian menjadi memanas (overheating) dan inflatoir, sehingga dapat meruntuhkan stabilitas makroekonomi yang merupakan modal dasar pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.   

Berbagai upaya yang telah dilakukan BI untuk mendorong kredit perbankan, sudah menunjukkan beberapa hasil yang menggembirakan seperti yang tercermin pada pertumbuhan kredit yang cukup tinggi di bulan-bulan akhir 2006. Kedepan, keberhasilan pencapaian target pertumbuhan kredit sebesar 18% di 2007 selain ditentukan oleh berbagai kebijakan pelonggaran ketentuan kehati-hatian perbankan oleh Bank Indonesia, akan sangat ditentukan pula oleh tingkat risiko mikro-struktural dalam perekonomian. Walaupun masih dapat berlanjut, ruang pelonggaran ini semakin menyempit.

Kedua, banjir besar yang sempat melumpuhkan kegiatan ekonomi di ibu-kota pada musim penghujan kali ini, kemungkinan akan mempunyai dampak awal (first round effect) yang  cukup signifikan pada harga-harga. "BI akan mencermati dampak lanjutan (second-round effect) pada ekspektasi inflasi  di bulan-bulan kedepan dan dampak  banjir di ibu kota terhadap kegiatan ekonomi di sektor riil", tambah Burhanuddin.

Ketiga, RDG juga melihat bahwa proyeksi inflasi Bank Indonesia dua tahun kedepan yaitu 2007 dan 2008 menunjukkan laju inflasi IHK cenderung berada di batas atas target inflasi. Sementara itu, perkembangan laju inflasi inti sampai saat ini yang merupakan prediktor dini inflasi IHK dalam jangka menengah-panjang juga menunjukkan kecenderungan angka yang masih persisten cukup tinggi.

Sementara itu, secara umum kondisi industri perbankan selama tahun 2006 terus membaik, tercermin dari perkembangan positif berbagai indikator utama kinerja perbankan. Total aset selama tahun 2006 naik sebesar Rp 223,7 triliun atau 15,2%.  Rasio kecukupan modal (CAR) perbankan meningkat menjadi 20,5% dari 19,5%. Di sisi lain, masih ada permasalahan utama yang dihadapi industri perbankan yaitu pelaksanaan fungsi intermediasi yang masih belum optimal dan upaya penurunan kredit bermasalah. Dari kenaikan aset sebesar Rp 223,7 triliun pada 2006, hanya sebesar Rp 102,8 triliun yang ditanamkan dalam bentuk kredit, sedangkan Rp 110,3 triliun ditanamkan dalam bentuk surat berharga (SBI+ FASBI). NPL pada periode yang sama turun signifikan menjadi 7,0% (gross) dan 3,6% (net) dari posisi Desember 2005 sebesar 8,3% (gross) dan 4,8% (net).

Jakarta, 6 Februari 2007
Direktorat Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat


Budi Mulya
Direktur

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel