Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah (24 Juli 2020) - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 September 2020

Mencermati kondisi perekonomian Indonesia khususnya sebagai dampak penyebaran COVID-19, Bank Indonesia menyampaikan perkembangan indikator stabilitas nilai Rupiah secara periodik. Indikator dimaksud adalah nilai tukar dan inflasi, sebagai berikut :

A.   Perkembangan Nilai Tukar 20-23 Juli 2020

Pada akhir hari Kamis, 23 Juli 2020 

1.    Rupiah ditutup pada level Rp14.550 per dolar AS.

2.    Yield SBN (Surat Berharga Negara) 10 tahun turun ke level 6,86%.

3.    DXY[1] melemah ke level 94,69.

4.    Yield UST (US Treasury) Note[2] 10 tahun turun ke level 0,577%.

Pada pagi hari Jumat, 24 Juli 2020

1.    Rupiah dibuka  pada level  Rp14.500 per dolar AS.

2.    Yield SBN 10 tahun turun  di 6,83%.

Aliran Modal Asing (Minggu IV Juli 2020)

1.   Premi CDS (Credit Default Swaps)[3] Indonesia 5 tahun turun ke 112,9 bps per 23 Juli 2020 dari 124,7 bps per 17 Juli 2020.

2.   Berdasarkan data transaksi 20-23 Juli 2020, nonresiden di pasar keuangan domestik beli neto Rp5,17 triliun, dengan beli neto di pasar SBN sebesar Rp5,40 triliun dan jual neto di pasar saham sebesar Rp0,23 triliun.

3. Berdasarkan data setelmen selama 2020 (ytd), nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp143,77 triliun.

B.   Inflasi berada pada level yang rendah dan terkendali

1.  Berdasarkan Survei Pemantauan Harga pada minggu IV Juli 2020, bulan Juli 2020 diperkirakan mengalami deflasi sebesar 0,03% (mtm).  Dengan perkembangan tersebut, perkiraan inflasi Juli 2020 secara tahun kalender sebesar 1,06% (ytd), dan secara tahunan sebesar 1,61% (yoy).

2.  Penyumbang utama deflasi pada periode laporan antara lain berasal dari bawang merah sebesar -0,10% (mtm), daging ayam ras sebesar -0,03% (mtm), bawang putih sebesar     -0,03% (mtm), gula pasir sebesar -0,02% (mtm), jeruk sebesar -0,02 (mtm) serta cabai merah, kelapa, daging sapi, dan angkutan udara masing-masing sebesar -0,01% (mtm). Sementara itu, komoditas utama penyumbang inflasi, yaitu  telur ayam ras sebesar 0,05% (mtm), emas perhiasan sebesar 0,04% (mtm), dan rokok kretek filter sebesar 0,01% (mtm).

Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran COVID-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu, serta langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan.

 

Jakarta, 24 Juli  2020
Kepala Departemen Komunikasi
Onny Widjanarko
Direktur Eksekutif
 

Informasi tentang Bank Indonesia
Telp. 021-131, Email : bicara@bi.go.id



[1] DXY atau Indeks Dolar adalah indeks yang menunjukkan pergerakan dolar terhadap 6 mata uang negara utama lainnya (EUR, JPY, GBP, CAD, SEK, CHF).
[2] UST atau US Treasury Note merupakan surat utang negara yang dikeluarkan pemerintah AS dengan tenor 1-10 tahun.
[3]
CDS atau Credit Default Swaps merupakan indikator yang sering digunakan dalam mengukur risiko suatu negara.

 

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel