Penerapan BPM6: Perubahan pada Komponen Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 November 2019
Bank Indonesia akan menerapkan the Balance of Payments and International Investment Position Manual edisi ke-6 (BPM6) yang diterbitkan oleh the International Monetary Fund (IMF) pada Statistik Neraca Pembayaran Indonesia (mulai Agustus 2014) dan Statistik Posisi Investasi Internasional Indonesia (mulai September 2014). Berikut kami sajikan secara detil dampak perpindahan dari BPM5 ke BPM6 masing-masing terhadap komponen transaksi berjalan dan transaksi finansial di NPI serta komponen PII Indonesia.
 
A. Transaksi Berjalan
Perubahan pada transaksi berjalan terutama berupa reklasifikasi dan perubahan nama beberapa komponen standar. Perubahan tersebut sebagian besar mempengaruhi neraca perdagangan barang dan jasa, antara lain berupa:
 
1.     Jasa manufaktur
 
Jasa manufaktur mencakup kegiatan seperti pemrosesan, perakitan, dan pengepakan atas barang input yang dilakukan oleh perusahaan bukan pemilik barang tersebut berdasarkan kontrak dan atas pekerjaannya perusahaan tersebut mendapatkan fee dari pemilik barang.
Pada BPM5, barang input yang mengalami pemrosesan oleh pihak yang bukan pemilik barang tersebut dianggap berpindah kepemilikan (imputed change of ownerships) dari pemilik kepada pihak pemroses barang. Transaksi dicatat secara gross sebagai bagian dari ekspor dan impor barang dalam kelompok ‘goods for processing’.
Pencatatan atas barang input yang dikirim untuk diproses di Indonesia (inward processing) mencakup dua transaksi, yaitu sebagai impor pada saat barang masuk ke Indonesia untuk diproses dan sebagai ekspor pada saat barang tersebut dikirim kembali ke luar negeri setelah selesai diproses. Sebaliknya, barang input yang dikirim untuk diproses di luar negeri (outward processing) dicatat sebagai ekspor pada saat barang tersebut dikirim ke luar negeri untuk diproses dan kemudian sebagai impor pada saat barang tersebut masuk kembali ke Indonesia setelah selesai diproses di luar negeri.
Dalam BPM6, transaksi imputasi perpindahan kepemilikan barang input tersebut ditiadakan sehingga tidak ada transaksi ekspor dan impor barang yang dicatat dalam NPI. Sebaliknya, penyediaan jasa pemrosesan barang dicatat sebagai ‘jasa manufaktur’ dalam kelompok jasa, yaitu sebesar fee yang diterima/dibayar.
Pada NPI saat ini baru teridentifikasi kegiatan inward processing, yaitu Indonesia sebagai penyedia jasa manufaktur. Penerapan BPM6 pada item jasa manufaktur ini mengakibatkan:
·       ekspor dan impor barang secara gross lebih rendah
·       ekspor jasa meningkat sebesar fee yang diterima untuk pemrosesan, yaitu sebesar neto impor dan ekspor barang untuk diproses yang dianggap merepresentasikan fee yg diterima.
 
Perbandingan data NPI terkait perubahan metodologi pencatatan transaksi jasa manufaktur dapat dilihat pada tabel berikut:
 
Tabel 1. Perbandingan Pencatatan Jasa Manufaktur BPM5 dan BPM6
 
bpm6 1.png 
 
2.     Financial Intermediation Services Indirectly Measured (FISIM)
 
Perubahan pada neraca perdagangan jasa juga dipengaruhi perluasan cakupan jasa keuangan dengan memasukkan perhitungan financial intermediation services indirectly measured (FISIM).
 
Jasa keuangan meliputi jasa yang disediakan oleh lembaga perantara dan penunjang keuangan (financial intermediaries and auxiliaries), kecuali asuransi dan dana pension, dengan mengenakan:
 
·         Explicit charges (misalnya  biaya transfer atau biaya administrasi);
·         Marjin transaksi jual/beli;
·         Biaya manajemen aset yang dikurangkan dari pendapatan yang dihasilkan; atau
·         Kompensasi secara tidak langsung (FISIM) melalui marjin antara aktual bunga dengan reference rate.
 
Di dalam aktual bunga (interest) terdapat unsur pendapatan (income) maupun service charges. Dalam prakteknya, lembaga keuangan memberikan bunga yang lebih rendah kepada penyimpan dana (depositor) dibandingkan bunga yang mereka bebankan kepada peminjam dana (debitor).
Secara konvensi, FISIM hanya muncul dari instrumen pinjaman (loans) dan simpanan (deposits):
·         Untuk pinjaman: FISIM adalah selisih antara aktual bunga yang diterima bank dengan bunga yang harus dibayar debitor jika reference rate diterapkan;
·         Untuk simpanan: FISIM adalah selisih antara aktual bunga yang dibayarkan bank dengan bunga yang akan diterima depositor jika reference rate diterapkan.
 
Pada NPI, pencatatan FISIM merupakan realokasi nilai FISIM tersebut dari neraca pendapatan investasi ke neraca jasa, tanpa mengubah total nilai transaksi. Saat ini, nilai neto FISIM Indonesia diestimasikan defisit.  Oleh karenanya, penerapan BPM6 dengan merealokasi FISIM dari komponen neraca pendapatan menjadi komponen neraca jasa mengakibatkan penurunan defisit neraca pendapatan (neraca pendapatan membaik) dan pada saat yang sama menambah defisit neraca jasa.
 
B.    Transaksi Finansial
 
Perubahan utama pada transaksi finansial berupa format penyajian data investasi langsung (direct investment). Pada BPM5, data investasi langsung disajikan berdasarkan arah investasi, yaitu investasi langsung Indonesia ke luar negeri dan investasi langsung asing di Indonesia, atau biasa dikenal sebagai PMA. Mengacu pada dasar penyajian ini, data total transaksi investasi langsung untuk masing-masing arah investasi tercatat secara net aset dan kewajiban, yaitu:
 
1.     investasi langsung Indonesia di luar negeri, terdiri dari:
a.     modal ekuitas
§  tagihan dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali kepada anak perusahaan di luar negeri, dikurangi
§  kewajiban dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali dari anak perusahaan di luar negeri
b.     modal lainnya
§  tagihan dalam bentuk net pemberian inter-company loans kepada anak perusahaan di luar negeri, dikurangi
§  kewajiban dalam bentuk net penarikan inter-company loans dari anak perusahaan di luar negeri.
 
2.     investasi langsung asing di Indonesia, terdiri dari:
a.     modal ekuitas
§  kewajiban dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali dari induk perusahaan di luar negeri, dikurangi
§  tagihan dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali kepada induk perusahaan di luar negeri
b.     modal lainnya
§  kewajiban dalam bentuk net penarikan inter-company loans dari induk perusahaan di luar negeri, dikurangi
§  tagihan dalam bentuk net pemberian inter-company loans kepada induk perusahaan di luar negeri.
 
Sementara itu, BPM6 menyaratkan pencatatan transaksi investasi langsung dilakukan secara gross aset-kewajiban, yaitu:
1.     investasi langsung - aset, terdiri dari:
a.     modal ekuitas
§  tagihan dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali kepada anak perusahaan di luar negeri, ditambah
§  tagihan dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali kepada induk perusahaan di luar negeri
b.     modal lainnya
§  tagihan dalam bentuk net pemberian inter-company loans kepada anak perusahaan di luar negeri, ditambah
§  tagihan dalam bentuk net pemberian inter-company loans kepada induk perusahaan di luar negeri.
2.     investasi langsung - kewajiban, terdiri dari:
a.     modal ekuitas
§  kewajiban dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali dari induk perusahaan di luar negeri, ditambah
§  kewajiban dalam bentuk setoran modal ekuitas dan laba yang ditanamkan kembali dari anak perusahaan di luar negeri
b.     modal lainnya
§  kewajiban dalam bentuk net penarikan inter-company loans dari induk perusahaan di luar negeri, ditambah
 
§  kewajiban dalam bentuk net penarikan inter-company loans dari anak perusahaan di luar negeri.
Dengan perubahan klasifikasi pencatatan tersebut, nilai transaksi investasi langsung aset dan investasi langsung kewajiban di NPI secara gross masing-masing akan berbeda dengan jumlah investasi langsung Indonesia di luar negeri dan investasi langsung asing di Indonesia, namun nilai net investasi langsung BPM6 tetap sama dengan net investasi langsung NPI BPM5. Untuk keperluan analisis, data investasi langsung berdasarkan arah investasi akan tetap dimunculkan sebagai ‘memo item’. Perbandingan penyajian data investasi langsung di NPI antara BPM5 dengan BPM6 dapat dilihat pada lampiran Tabel 6.
 
C.    Posisi Investasi Internasional (PII) Indonesia
 
Statistik PII Indonesia adalah catatan sistematis yang menunjukkan nilai dan komposisi aset finansial dan nilai kewajiban finansial Indonesia kepada bukan penduduk pada satu waktu tertentu.  Aset finansial dapat berupa tagihan kepada bukan penduduk atau emas yang dimiliki sebagai bagian dari cadangan devisa. Net PII merupakan selisih antara nilai aset dan kewajiban finansial tersebut, dan untuk Indonesia, net PII bernilai negatif karena jumlah kewajiban finansial lebih besar daripada jumlah aset finansial.
 
Statistik PII berhubungan erat dengan statistik NPI, yaitu pada transaksi finansial termasuk cadangan devisa. Statistik PII dapat dipandang sebagai neraca rekonsiliasi yang menggambarkan posisi aset finansial luar negeri (AFLN) dan kewajiban finansial luar negeri (KFLN) Indonesia dalam dua waktu tertentu yang berurutan disertai dengan komponen perubahannya, yaitu perubahan yang dicatat dalam transaksi finansial NPI dan perubahan lainnya (perubahan harga, perubahan nilai tukar, dan adjustment lainnya). Dengan kata lain, transaksi finansial NPI adalah salah satu penyebab bertambah atau berkurangnya PII Indonesia pada suatu periode tertentu. Hubungan antara NPI dan PIII dapat dilihat pada bagan berikut:
 
Grafik 1. Hubungan antara Statistik NPI dan PIII
 
bpm6 2.png
 
Sejalan dengan perubahan pada transaksi finansial NPI, perubahan utama pada Statistik PII Indonesia terkait dengan perubahan penyajian data posisi investasi langsung dari semula berdasarkan arah investasi, yaitu investasi langsung Indonesia ke luar negeri dan investasi langsung asing di Indonesia menjadi berdasarkan aset/kewajiban. Data posisi investasi langsung - aset dan investasi langsung - kewajiban akan berbeda dengan data investasi langsung Indonesia ke luar negeri dan investasi langsung asing di Indonesia pada PII berdasarkan BPM5, namun posisi net investasi langsung akan tetap sama.
 
Perubahan format penyajian data publikasi NPI dan PII Indonesia dapat dilihat pada beberapa tabel berikut. Pertanyaan lebih lanjut dapat disampaikan melalui email bnp@bi.go.id atau telepon kepada Sdri. Pujiastuti (+6221 2981 8328), Sdr. Bayu D. Atmanto (+6221 2981 6688), atau Sdr. Andy J. Prasetyo (+6221 2981 4182).
 
 
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel