Laporan Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang tahun 2008 "Bank Indonesia Terus Berupaya Meningkatkan Efisiensi dalam Pelaksanaan Sistem Pembayaran 2008" - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
29 September 2020

Sejalan dengan berkembangnya alat pembayaran, volume dan nilai transaksi melalui alat pembayaran non tunai baik dalam bentuk paper-based, card-based maupun elektronik lainnya dari tahun ke tahun juga hampir selalu menunjukkan trend  peningkatan. Tahun 2008 peningkatan yang cukup signifikan terlihat dari transaksi Alat Pembayaran Dengan Menggunakan Kartu (APMK), khususnya kartu ATM, kartu debet, dan kartu kredit. Di sisi alat  pembayaran elektronik, peningkatan volume terlihat dalam pembayaran antar bank melalui sistem BI-RTGS. Sementara itu, penggunaan alat pembayaran berbasis warkat (paper based) juga menunjukkan peningkatan meskipun dalam jumlah yang kecil.

Seluruh perkembangan sistem pembayaran baik perkembangan dari sisi alat pembayaran, transaksi, maupun penyelenggaraan sistem pembayaran itu sendiri memberikan konsekuensi terhadap tingkat risiko yang harus dikelola  oleh para pelaku sistem pembayaran. Berdasarkan hal tersebut, seluruh bank sentral semakin concern dengan perkembangan sistem pembayaran, termasuk Bank Indonesia dengan pertimbangan, pertama, Bank Indonesia sangat berkepentingan atas  terjaganya stabilitas penyelenggaraan sistem pembayaran yang dikategorikan Sistemically Important Payment Sistem (SIPS), yaitu sistem yang memproses transaksi-transaksi pembayaran yang bernilai besar. Concern Bank Indonesia berkaitan dengan  potensi risiko sistemik dari sistem pembayaran tersebut.

Masih dalam kerangka terjaganya stabilitas penyelenggaraan sistem pembayaran, Bank Indonesia juga berkepentingan atas terjaganya stabilitas penyelenggaraan sistem pembayaran yang dikategorikan Sistem Wide Important Payment Sistem (SWIPS), yaitu sistem yang secara luas digunakan oleh masyarakat umum. Kedua, Bank Indonesia sangat berkepentingan atas terciptanya efisiensi sistem pembayaran baik yang diselenggarakan Bank Indonesia maupun di luar Bank Indonesia. Untuk menunjang hal tersebut, sepanjang tahun 2008 kebijakan yang ditempuh lebih terfokus untuk mewujudkan efisiensi dimaksud. Upaya ini ditempuh antara lain dengan memfasilitasi terwujudnya interoperability atau interkoneksi sistem antar penerbit dalam industri kartu ATM/Debet. Selain itu, pembentukan Self Regulatory Organization (SRO) industri kartu kredit telah pula dilakukan antara lain untuk mempercepat terwujudnya integrasi infrastruktur yang lebih efisien.

Perkembangan sistem pembayaran juga tidak dapat dilepaskan dari peran regulator dalam hal ini Bank Indonesia dalam memberikan kesetaraan akses (equitable access) ke dalam sistem pembayaran. Bank Indonesia memberikan kesempatan yang sama kepada bank maupun lembaga non bank untuk berperan dalam sistem pembayaran guna mendukung terwujudnya iklim usaha yang kondusif yang senantiasa memperhatikan aspek keamanan dan perlindungan konsumen.

Di sisi lain, disadari sepenuhnya bahwa transaksi pembayaran ritel di masyarakat masih banyak yang dilakukan secara tunai dengan menggunakan uang kartal.  Pada kondisi tertentu, pembayaran tunai memang sangat convenient karena mudah dan cepat. Namun demikian, penggunaan uang kartal sebagai alat pembayaran mulai menimbulkan masalah terutama terkait dengan mahalnya biaya cash handling, besarnya risiko pencurian dan perampokan,  serta risiko uang  palsu. Selain itu, bagi pelaku pembayaran, pembayaran menggunakan uang kartal juga mengakibatkan turunnya efisiensi misalnya sebagai akibat dari panjangnya antrian di sentra-sentra pembayaran dan pemborosan lainnya yang diakibatkan oleh waktu tunggu untuk melakukan pembayaran. Namun terlepas dari berbagai kendala alat pembayaran tunai, penggunaan uang kartal di kalangan masyarakat Indonesia masih cukup tinggi.

Perkembangan uang kartal dalam kegiatan transaksi masyarakat sepanjang tahun 2008 cukup signifikan yang dipengaruhi antara lain oleh tekanan inflasi yang terjadi sejak triwulan 2 dan krisis keuangan global  pada awal triwulan 4. Secara tahunan, rata-rata pertumbuhan uang kartal yang diedarkan (UYD) tercatat mencapai pertumbuhan tertinggi selama 10 tahun terakhir.  Sejalan dengan kenaikan permintaan uang kartal, kegiatan pengedaran uang di tahun 2008 berupa aliran uang kartal keluar (outflow) dan aliran uang kartal masuk (inflow) serta pemusnahan uang kartal juga meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.

Menghadapi berbagai dinamika perkembangan ekonomi yang masih dipengaruhi oleh dampak krisis global, Bank Indonesia merespon dengan menetapkan kebijakan di bidang pengedaran uang yang terfokus pada upaya efisiensi dan optimalisasi baik di bidang layanan, operasional kas, serta mendorong peningkatan manajemen pengelolaan uang kartal perbankan dengan tetap memperhatikan misi Bank Indonesia di bidang pengedaran uang, yaitu pemenuhan kebutuhan uang kartal dalam jumlah yang cukup, nominal yang sesuai, layak edar, dan tepat waktu. 


Kebijakan yang terfokus pada upaya efisiensi dan optimalisasi di bidang pengedaran uang tersebut secara eksternal berpengaruh terhadap optimalisasi manajemen likuiditas perbankan dan secara internal berdampak terhadap efisiensi biaya dan optimalisasi sumber daya. Kondisi ini pada gilirannya dapat berperan serta dalam menjaga stabilitas perekonomian dalam menghadapi dampak gejolak krisis keuangan global.

Penjabaran kebijakan pengedaran uang di tahun 2008 dalam mendukung upaya optimalisasi dan efisiensi pengedaran uang mengacu pada tiga pilar pengedaran uang, yaitu 1) ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas, 2) layanan kas prima, dan 3) pengedaran uang yang aman, handal, dan efisien.

Kebijakan dalam rangka mengupayakan ketersediaan uang Rupiah yang berkualitas dilakukan antara lain dengan merencanakan kebutuhan uang Rupiah secara komprehensif yang didukung dengan realisasi pengadaan uang baru yang berkualitas dan tepat waktu, mencabut dan menarik uang kertas Rupiah yang sudah tidak layak edar, serta meningkatkan penanggulangan pengedaran uang palsu.

Upaya yang dilakukan dalam mendukung layanan kas prima sepanjang tahun 2008 meliputi optimalisasi layanan kas oleh satuan kerja kas baik di dalam maupun di luar kantor, pengembangan kerjasama layanan kas tanpa fee, penerapan ketentuan mengenai setoran bayaran bank, implementasi fungsi cash centre serta peningkatan kemampuan kasir. 

Sedangkan terkait dengan strategi yang ditempuh dalam mengupayakan pengedaran uang yang aman, handal, dan efisien meliputi realisasi dan pelaksanaan distribusi uang secara aman, lancar, efisien, dan tepat waktu.  Selain itu dilakukan optimalisasi kinerja sarana pengolahan uang dan pengembangan informasi yang mendukung kelancaran pelaksanaan tugas.

Dalam rangka menjaga konsistensi kebijakan dan acuan pokok dalam pelaksanaan kegiatan pengedaran uang dalam jangka menengah panjang, di tahun 2008 disusun draft awal penyempurnaan blue print Manajemen Pengedaran Uang (MPU) yang meliputi grand design uang, grand design perencanaan kebutuhan uang, grand design pengadaan uang dan pemenuhan bahan uang, grand design penanggulangan uang palsu dan kejahatan mata uang, grand design distribusi uang, grand design pengolahan uang, dan grand design manajemen layanan kas.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel