Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara

12/6/2021 12:00 AM
Hits: 1039

Laporan Perekonomian Provinsi Sulawesi Tenggara November 2021

Sulawesi Tenggara
Triwulan

Ekonomi Makro Regional

Pada triwulan III 2021, perekonomian Sulawesi Tenggara melanjutkan pertumbuhan yang positif, meskipun lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya seiring penerapan kebijakan PPKM Mikro level 4.  Capaian pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tenggara tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan nasional. Dari sisi permintaan, pertumbuhan positif yang terjadi pada perekonomian Sulawesi Tenggara didorong oleh peningkatan kinerja investasi sejalan dengan realisasi investasi industri pengolahan nikel serta didorong oleh penurunan kinerja impor. Sementara itu dari sisi penawaran, perbaikan pertumbuhan perekonomian selaras dengan kenaikan kinerja lapangan usaha pertambangan, lapangan usaha konstruksi, dan lapangan usaha perdagangan, meskipun tertahan oleh penurunan yang terjadi pada lapangan usaha pertanian dan lapangan usaha industri pengolahan. Pada periode laporan, perekonomian Sulawesi Tenggara tumbuh sebesar 3,97% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan II 2021 yang tumbuh sebesar 4,26% (yoy). Capaian tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan perekonomian Indonesia yang tumbuh sebesar 3,47% (yoy) pada triwulan II 2021.

 

Keuangan Pemerintah

Pada tahun 2021, secara total anggaran belanja dan transfer pemerintah di Sulawesi Tenggara lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Sampai dengan triwulan III 2021, tingkat realisasi anggaran Pemerintah Daerah (Pemda) lebih tinggi dibandingkan triwulan III 2020. Meningkatnya serapan tersebut berhubungan langsung dengan adanya kebijakan pelonggaran dalam mekanisme pengadaan barang/jasa dan proses pencairan anggaran. Disamping itu, peningkatan realisasi juga di dukung oleh realisasi transfer bagi hasil ke daerah yang dilakukan pada periode laporan. Anggaran belanja dan transfer pemerintah di Sulawesi Tenggara setelah perubahan pada 2021 secara total mencapai Rp32,07 triliun lebih besar 6,99% (yoy) dibandingkan anggaran tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp29,97 triliun.

 

Perkembangan Inflasi Daerah

Pada triwulan III 2021, inflasi IHK provinsi Sulawesi Tenggara  tercatat mengalami peningkatan yang dipicu oleh penurunan pasokan karena pola musiman dan faktor cuaca ekstrim (musim angin muson timur dan peningkatan curah hujan) ditengah peningkatan permintaan selama perayaan HBKN Idul Adha. Hal tersebut menyebabkan peningkatan sejumlah harga bahan pokok terutama ikan segar dan sayuran. Tidak hanya itu, pada periode laporan terjadi peningkatan aktivitas masyarakat selaras dengan adanya perayaan HBKN Idul Adha. Sejalan dengan peningkatan aktivitas masyarakat, indeks pendapatan masyarakat Sulawesi Tenggara berdasarkan indeks Nilai Tukar Petani (NTP) juga tercatat mengalami peningkatan dari 98,6 pada triwulan sebelumnya menjadi 100,2 pada periode laporan, sehingga mendorong membaiknya daya beli masyarakat Sulawesi Tenggara. Faktor-faktor tersebut di atas menyebabkan inflasi pada triwulan III 2021 tercatat sebesar 2,68% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,00% (yoy). Tekanan inflasi pada periode laporan juga lebih tinggi dibandingkan inflasi Nasional dan Regional Sulawesi yang masing-masing tercatat sebesar 1,60% (yoy) dan 1,89% (yoy).

 

Stabilitas Keuangan Daerah

Pada triwulan III 2021, berdasarkan berbagai indikator, stabilitas sistem keuangan terpantau dalam kondisi yang terjaga. Berbagai kebijakan yang diluncurkan oleh Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dalam rangka pemulihan ekonomi nasional ditransmisikan dengan baik sampai di level daerah. Kondisi ekspektasi masyarakat dan pelaku usaha terhadap ekonomi ke depan terpantau optimis dan diharapkan mampu mendorong pemulihan ekonomi lebih cepat. Pada triwulan III 2021, penyaluran kredit di Sulawesi Tenggara tumbuh sebesar 2,76% (yoy) dengan tingkat risiko pada level terjaga yang tercermin dari rasio NPL yang sebesar 1,88%. Kedepannya, langkah yang padu dan nyata dari seluruh otoritas di sistem keuangan dan ekonomi semakin dibutuhkan untuk  dapat mendorong  kinerja  sistem keuangan yang mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap menekankan mitigasi risiko yang baik.

 

Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah

Pada Triwulan III 2021, sistem pembayaran non-tunai sebagai pendukung aktivitas ekonomi dan sistem keuangan terus menunjukkan perkembangan kinerja yang positif. Selain itu perkembangan transaksi digital untuk masyarakat unbankable juga terus tumbuh selaras dengan berbagai upaya digitalisasi yang dilakukan oleh Bank Indonesia bersama dengan pemangku kepentingan lainnya. Berbagai kebijakan telah dilakukan Bank Indonesia untuk mendorong penggunaan transaksi non-tunai yang lebih inklusif, antara lain dengan berbagai sosialisasi dan edukasi terkait QRIS di berbagai kelompok masyarakat serta pendampingan kepada pemda terkait elektronifikasi transaksi. Jumlah merchant QRIS di Sulawesi Tenggara pada triwulan III sebanyak 61.616 ribu jauh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 48.213 merchant. Selanjutnya sebagai kontribusi Bank Indonesia dalam Elektronifikasi Transaksi Pemerintah, hingga bulan September 2021, telah terbentuk 16 TP2DD dari 18 Pemda di Sulawesi Tenggara. Peran TP2DD sangatlah penting sebagai wadah sinergi percepatan penerapan Elektronifikasi Transaksi Pemda serta Ekosistem Keuangan Digital.

 

Kondisi Tenaga Kerja dan Kesejahteraan

Seiring dengan pemulihan kondisi perekonomian dan kegiatan dunia usaha, kondisi ketenagakerjaan di Sulawesi Tenggara mulai menunjukkan perbaikan yang terlhat dari meningkatnya total penyerapan tenaga kerja dan penurunan tingkat pengangguran baik di wilayah perkotaan maupun di wilayah pedesaan. Selain itu dari sisi kesejahteraan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan masyarakat Sulawesi Tenggara berdasarkan Indeks Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat mengalami peningkatan. Peningkatan tersebut selaras dengan membaiknya harga komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan. Kedepan, berdasarkan hasil survei konsumen Bank Indonesia Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa masyarakat dan kondisi kegiatan usaha memiliki optimisme yang lebih baik.

 

Prospek Perekonomian Daerah

Setelah mengalami periode tekanan akibat terjadinya pandemi Covid-19, perekonomian global diyakini mulai memasuki fase pemulihan pada tahun 2021. Perbaikan tersebut sejalan dengan implementasi vaksinasi Covid 19 di banyak negara untuk membangun herd immunity dan mendorong mobilitas serta aktivitas perekonomian, serta berlanjutnya stimulus kebijakan fiskal dan moneter. Meskpiun demikian, peningkatan kasus varian delta Covid-19 dan ancaman varian baru yang dapat mengurangi efektivitas vaksin, serta gangguan rantai pasok dan keterbatasan energi menjadikan ketidakpastian pada periode mendatang. Kedepan, perbaikan perekonomian dunia diperkirakan terus belanjut, namun lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Purchasing Manager's Index (PMI), penjualan eceran dan keyakinan konsumen secara umum melambat, termasuk mulai berkurangnya keterbatasan energi di Tiongkok pada Oktober 2021. Meskipun demikian, volume perdagangan dan harga komoditas dunia diperkirakan akan terus meningkat, sehingga tetap mendukung prospek ekspor negara berkembang. Namun kedepan paska pelonggaran PPKM Mikro dengan kondisi Covid-19 yang lebih terkendali diperkirakan optimisme dunia usaha dan aktivitas ekonomi akan meneruskan perbaikannya hingga 2022 sejalan dengan akselerasi vaksinasi, kinerja ekspor yang tetap kuat, pembukaan sektor-sektor prioritas yang semakin luas, dan stimulus kebijakan yang berlanjut.

Lampiran
Kontak
​Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI ​Provinsi Sulawesi Tenggara
Halaman ini terakhir diperbarui 12/7/2021 10:12 AM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga