Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​​Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Nusa Tenggara Timur​

12/6/2023 12:00 AM
Hits: 497

Laporan Perekonomian Provinsi Nusa Tenggara Timur November 2023

Nusa Tenggara Timur
Triwulan

EKONOMI MAKRO REGIONAL

Kinerja perekonomian Provinsi NTT pada triwulan III 2023 tercatat tumbuh sebesar 2,08% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,17% (yoy), dan searah dengan kinerja perekonomian Nasional yang melambat dengan pertumbuhan sebesar 4,94% (yoy). Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT ditopang oleh pertumbuhan Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTDB/Investasi) seiring dengan positifnya progres konstruksi Proyek Strategis Nasional (PSN) Bendungan dan dimulainya konstruksi proyek peningkatan Infrastruktur Jalan Daerah (IJD) melalui Dana Inpres. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), kinerja perekonomian bersumber dari kinerja lapangan usaha utama yakni LU Konstruksi yang kembali menunjukkan peningkatan. Terjadinya El Nino dengan intensitas moderat yang berdampak pada lebih panjangnya musim kemarau mendukung progres penyelesaian sejumlah proyek konstruksi di Provinsi NTT. Dari sisi LU Perdagangan Besar dan Eceran, pertumbuhan yang melambat sejalan dengan melambatnya kredit kendaraan bermotor dan penjualan domestik. Sementara itu, LU Pertanian tetap tumbuh meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya seiring dengan pengaruh El Nino yang menekan luas panen padi.

KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH

Realisasi total belanja pemerintah (APBD dan APBN) di Provinsi NTT sampai dengan triwulan III 2023 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Total realisasi belanja tercatat sebesar Rp40,16 triliun, atau tumbuh 4,69% (yoy) dibandingkan triwulan III 2022. Nominal realisasi tersebut mencapai 61,15% dari total anggaran belanja tahun 2023, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 59,45%. Dari segi komponennya, belanja APBN dan APBD kota/kabupaten mampu tumbuh, sedangkan belanja APBD provinsi mengalami kontraksi. Sementara itu, realisasi pendapatan pemerintah sampai dengan triwulan III 2023 juga tercatat tumbuh melambat sebesar 4,92% (yoy), terutama akibat menurunnya pertumbuhan realisasi pendapatan pemerintah kabupaten/kota. Realisasi anggaran pemerintah menjadi salah satu penopang perekonomian Provinsi NTT, sehingga perlu terus didorong agar dapat mengakselerasi pemulihan ekonomi.

PERKEMBANGAN INFLASI

Inflasi gabungan 3 kota IHK di Provinsi NTT pada triwulan III 2023 tercatat sebesar 2,19% (yoy), lebih rendah dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya yang sebesar 4,58% (yoy). Tingkat Inflasi tersebut juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 2,28% (yoy). Tekanan inflasi terutama bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, serta kelompok perumahan, air, listrik, & bahan bakar rumah tangga. Dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau, komoditas penyumbang terbesar antara lain beras, rokok kretek filter dan rokok putih. Sementara itu, pada kelompok perumahan, air, listrik, & bahan bakar rumah tangga, komoditas penyumbang terbesar terdapat pada sub-kelompok kontrak rumah dan sewa rumah.

Prospek inflasi Provinsi NTT secara year-on-year pada triwulan IV 2023 diprakirakan akan sedikit meningkat dibandingkan pada triwulan III 2023, akan tetapi masih di dalam target inflasi nasional yakni 3±1% (yoy). Hal ini terutama didorong oleh meningkatnya permintaan masyarakat terhadap bahan makanan pada momen HBKN Natal dan Tahun Baru. Kemudian, tarif angkutan udara juga dapat menjadi pendorong inflasi di tengah mobilitas masyarakat yang meningkat pada HBKN tersebut. Selain itu, curah hujan yang meningkat di akhir tahun cenderung membatasi produksi hortikultura seperti bawang merah, cabai merah, dan cabai rawit. Sementara itu, secara keseluruhan tahun 2023, inflasi diprakirakan melandai dibandingkan tahun sebelumnya seiring dengan normalisasi pasca kenaikan harga beberapa komoditas di tahun 2022, seperti minyak goreng dan bahan bakar minyak (BBM).

STABILITAS SISTEM KEUANGAN DAERAH

Secara umum, stabilitas sistem keuangan di Provinsi NTT pada triwulan III 2023 masih tetap terjaga disertai pertumbuhan di beberapa sisi dibandingkan triwulan sebelumnya. Hal ini tercermin dari ROA perbankan yang tercatat sebesar 3,43%, lebih baik dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Adapun fungsi intermediasi perbankan tetap tinggi yang ditunjukkan dengan LDR sebesar 133,53%. Selanjutnya, DPK mengalami pertumbuhan sebesar 3,76% (yoy), utamanya dipengaruhi oleh pertumbuhan pada kinerja giro sebesar 16,12% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan DPK juga diiringi dengan penyaluran kredit yang tercatat naik, yaitu sebesar 17,13% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. Lebih lanjut, tingkat risiko sistem keuangan Provinsi NTT masih terjaga dengan rasio NPL (gross) sebesar 1,76% dan masih berada di bawah level 5%.

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Kinerja sistem pembayaran tunai dan nontunai Provinsi Nusa Tenggara Timur mengalami penurunan pada triwulan III 2023. Hal ini ditunjukkan oleh indikator sistem pembayaran tunai yang mengalami penurunan, tercermin dari pertumbuhan inflow  dan outflow uang tunai yang terkontraksi. Lebih lanjut, sistem pembayaran nontunai pada transaksi nilai besar juga menunjukkan kontraksi transaksi namun tidak sedalam pada triwulan III 2023 dibandingkan triwulan sebelumnya. Sistem pembayaran nontunai transaksi ritel juga menunjukkan kontraksi yang tidak sedalam triwulan sebelumnya.

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Pada Agustus 2023, jumlah angkatan kerja di Provinsi NTT sebesar 2,99 juta orang mengalami kontraksi sebesar -0,99 % (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 3,02 juta orang. Hal ini tercermin dari jumlah penduduk yang bekerja mengalami kontraksi sebesar -0,68% (yoy) menjadi 2,90 juta orang pada Agustus 2023 dibandingkan Agustus 2022 sebesar 2,92 juta orang. Sedangkan, jumlah penduduk yang menganggur terindikasi membaik yang turun menjadi 0,09 juta orang pada Agustus 2023 dibandingkan periode Agustus 2022 sebesar 0,11 juta orang (yoy). Kemudian, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mengalami penurunan sebesar 0,40% (yoy) pada Agustus 2023. Sementara itu, rasio kemiskinan di Provinsi NTT pada Maret 2023 tercatat sebesar 19,96%, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Selanjutnya, Nilai Tukar Petani (NTP) pada triwulan III 2023 tercatat menguat menjadi 97,17.

PROSPEK PEREKONOMIAN

Kondisi perekonomian Provinsi NTT pada tahun 2023 diprakirakan tumbuh pada kisaran 3,03% – 3,83% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi tahun 2022. Akselerasi pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT dari sisi pengeluaran ditopang oleh meningkatnya PMTDB/Investasi dan Konsumsi Pemerintah, serta tetap kuatnya Konsumsi Rumah Tangga. Dari sisi LU, pertumbuhan diperkirakan didorong oleh akselerasi aktivitas masyarakat dan kebijakan Pemerintah yang mendukung LU Perdagangan Besar dan Eceran sebagai sumber pertumbuhan utama. LU Konstruksi diprakirakan terakselerasi didorong oleh berlanjutnya PSN, persiapan infrastruktur pendukung ASEAN Summit, maupun peningkatan IJD. Di sisi lain, kinerja LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan diprakirakan tetap tumbuh di tengah fenomena El Nino seiring dengan langkah antisipatif dan preventif Pemerintah dalam menanggulangi fenomena tersebut maupun dampak dari faktor risiko lainnya, seperti: PMK dan ASF. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tahun 2024 diprakirakan kembali meningkat, terutama bersumber dari Konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah yang meningkat seiring dengan optimisme masyarakat yang terjaga di tengah tahun politik. Optimisme peningkatan pertumbuhan ekonomi tahun depan juga ditopang oleh meningkatnya kinerja lapangan usaha utama, yakni LU Pertanian, LU Administrasi Pemerintahan, dan LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta tetap kuatnya kinerja LU Konstruksi.

Inflasi gabungan Provinsi NTT pada tahun 2023 diprakirakan melandai dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dan kembali berada pada rentang sasaran inflasi nasional pada 3,0%±1,0% (yoy). Tekanan inflasi yang melandai sejalan dengan normalisasi inflasi tarif angkutan udara, BBM, maupun tarif angkutan dalam kota setelah high base-effect di tahun 2022, serta tekanan harga komoditas yang mulai melandai menjadi faktor penahan laju inflasi. Selanjutnya, penyebaran virus ASF yang menjangkiti ternak babi di Provinsi NTT menurunkan permintaan masyarakat terhadap komoditas daging babi. Di sisi lain, pemulihan aktivitas dan permintaan masyarakat seiring dengan pencabutan kebijakan pembatasan, peningkatan UMP tahun 2023, pelaksanaan ASEAN Summit dan kegiatan berskala nasional maupun internasional di Labuan Bajo, kebijakan kenaikan cukai rokok tahun 2023, serta faktor risiko El Nino dengan intensitas moderat maupun cuaca ekstrem di tengah peralihan musim dapat menahan produksi komoditas tanaman pangan sehingga mendorong inflasi tahun 2023. Sementara itu, inflasi di tahun 2024 diprakirakan kembali berada pada rentang sasaran 2,5%±1,0% (yoy), terutama dipengaruhi oleh permintaan domestik yang terkendali, berbagai upaya pemangku kepentingan untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan komoditas pangan, serta penguatan sinergi dan koordinasi kebijakan yang erat melalui TPIP – TPID dalam pelaksanaan GNPIP yang terus berlanjut pada tahun 2024.



Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI ​​Provinsi Nusa Tenggara Timur

Halaman ini terakhir diperbarui 12/6/2023 5:43 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga