Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi​

3/10/2022 12:00 AM
Hits: 1194

Laporan Perekonomian Provinsi Jambi Februari 2022

Jambi
Triwulan

I.     EKONOMI MAKRO REGIONAL
Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan IV 2021 mengalami pertumbuhan sebesar 3,62% (yoy), tumbuh terdeselerasi dibandingkan triwulan III 2021 yang tercatat mengalami pertumbuhan 5,94% (yoy). Secara triwulanan, pertumbuhan ekonomi tercatat kontraksi sebesar 0,37% (qtq). Dari 17 LU pada sisi produksi, 15 LU tercatat mengalami pertumbuhan, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial menjadi sektor dengan pertumbuhan tertinggi sebesar 20,76% (yoy), didorong oleh program kebijakan pemerintah dalam penanganan COVID-19. Sementara, kontraksi terdalam terjadi pada sektor Jasa Keuangan dan Asuransi yang terkontraksi 2,31% (yoy) dengan pangsa 2,42%.
Perekonomian Provinsi Jambi masih didominasi oleh lapangan usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 30,88%, diikuti oleh Pertambangan dan Penggalian sebesar 15,59%, Perdagangan Besar-Eceran, Reparasi Mobil dan Sepeda Motor sebesar 12,24%, dan Industri Pengolahan sebesar 9,86%. Peranan keempat lapangan usaha tersebut dalam perekonomian Provinsi Jambi mencapai 66,66%. Struktur pertumbuhan tersebut tidak menunjukkan perubahan dibandingkan triwulan sebelumnya mengingat kebergantungan Provinsi Jambi terhadap komoditas perkebunan seperti kelapa sawit dan karet sebagai komoditas utama beserta kegiatan pengolahan turunannya.
Dari sisi pengeluaran, Ekonomi Provinsi Jambi pada triwulan IV-2021 terhadap triwulan IV-2020 (yoy) tumbuh sebesar 3,62%. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yaitu sebesar 18,02% dan diikuti oleh Komponen Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) sebesar 5,15%. Komoditas perkebunan dan pertambangan sebagai sumber ekonomi primer menyumbang sebagian besar kinerja ekspor yang memberikan dampak positif kepada penerimaan masyarakat Provinsi Jambi didorong oleh terjaganya harga global. Pertumbuhan Komponen Pembentukan Modal tetap Bruto (PMTB) dan Pengeluaran Konsumsi LNPRT (PK-LNPRT) masing-masing tumbuh sebesar 4,72% dan 4,19%. Sementara itu, Komponen Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (PK-P) mengalami kontraksi sebesar 3,55%.
Aktivitas permintaan masih didominasi oleh Komponen ekspor (65,84%) namun terkoreksi di sisi impor (41,35%). Komponen lain yang berperan besar terhadap PDRB adalah Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang mencapai hampir separuh PDRB Provinsi Jambi yaitu sebesar 44,02% dan diikuti oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) sebesar 21,89%. Sedangkan peranan Komponen Perubahan Inventori dan Pengeluaran Konsumsi LNPRT relatif kecil masing-masing 1,17% dan 0,57%. Struktur pengeluaran tersebut juga tidak menunjukkan perubahan yang berarti dibandingkan periode sebelumnya.
Selanjutnya, pertumbuhan triwulan I 2022 diprakirakan akan tetap tumbuh namun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan konsumsi diperkirakan akan terjadi sebagaimana pola historis di awal tahun yang disebabkan oleh normalisasi kinerja sektor konsumsi utamnya rumah tangga pasca perayaan Hari Besar Keagamaan dan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru 2022.


II.     KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
Realisasi pendapatan Pemerintah Provinsi Jambi sampai dengan triwulan IV 2021 terealisasi sebesar Rp4,51 triliun atau 102,56% dari target APBD 2021. Realisasi tersebut tumbuh 2,84% (yoy) dibandingkan pendapatan triwulan IV 2020 sebesar Rp4,39 triliun (106,23% dari target APBD 2020) didorong oleh pos pajak kendaraan bermotor yang memberi andil 32,76% dari total pajak daerah di tengah pemberian insentif PPNBM oleh pemerintah. Sementara, belanja daerah dari sisi nominal dan persentase tercatat lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2020 sebagai dampak realisasi akhir tahun yang sempat tertahan akibat pandemi. Hingga triwulan IV 2021, belanja pemerintah Provinsi Jambi mencapai Rp4,39 triliun atau terealisasi sebesar 91,33% dari target APBD 2021. Persentase realisasi anggaran tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan IV 2020 sebesar Rp4,38 triliun dengan serapan 96,11% terhadap pagu tahun 2020.

 

III.     PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Laju inflasi triwulan IV 2021 tercatat 1,66% (yoy), menurun dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 2,04% (yoy) dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional 1,87% (yoy). Inflasi yang rendah pada tahun 2021 tersebut dipengaruhi oleh permintaan domestik yang belum kuat sebagai dampak pandemi Covid-19, pasokan yang memadai, dan sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menjaga kestabilan harga. Perkembangan Indeks Harga Konsumen Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi Kota Jambi sebesar 1,67% (yoy) dan Kabupaten Bungo sebesar 1,65% (yoy).
Tekanan inflasi Kota Jambi terutama dipengaruhi oleh peningkatan inflasi kelompok makanan, minuman dan tembakau. Pada triwulan IV 2021, kelompok ini mengalami inflasi 3,57% (yoy). Inflasi kelompok ini didorong oleh inflasi sub kelompok rokok dan tembakau sebesar 6,13% (yoy). Adapun komoditas utama yang memberikan andil terhadap terjadinya inflasi Kota Jambi pada bulan Desember 2021 antara lain, daging ayam ras, cabai rawit, minyak goreng, bawang merah dan telur ayam. Sejalan dengan Kota Jambi, inflasi Kab. Bungo pada triwulan IV 2021 terutama disumbangkan oleh kelompok makanan, minuman dan tembakau yang mengalami inflasi 1,37% (yoy). Inflasi kelompok ini didorong oleh sub kelompok minuman yang tidak beralkohol yang tercatat inflasi sebesar 7,74% (yoy). Perkembangan ini dipengaruhi oleh ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi bahan pangan yang tetap terjaga yang didukung oleh sinergi kebijakan Bank Indonesia dan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk menjaga stabilitas harga. Meskipun demikian, disparitas harga antar waktu tetap terjadi di awal dan akhir tahun, terutama disebabkan oleh gangguan cuaca di sentra produksi yang memengaruhi jumlah produksi serta distribusinya.
Selanjutnya, inflasi Provinsi Jambi pada triwulan I 2022 diprakirakan meningkat dibanding triwulan sebelumnya. Meningkatnya tekanan inflasi terutama dipengaruhi oleh tingginya permintaan menjelang bulan Ramadhan serta telah dimulainya vaksinasi booster yang meningkatkan setimen positif masyarakat. Meski demikian, inflasi keseluruhan tahun 2022 diperkirakan masih terjaga di  dalam rentang sasaran inflasi nasional 3%+1% seiring dengan pola konsumsi masyarakat yang diprakirakan belum sepenuhnya pulih.


IV.     STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Pertumbuhan kredit korporasi di Provinsi Jambi pada triwulan IV 2021 tercatat sebesar Rp13,45 triliun atau terkontraksi lebih dalam dibandingkan triwulan sebelumnya 13,73% (yoy). Penurunan kredit korporasi masih disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19 yang masih menahan permintaan agregat dan menekan kegiatan usaha. Sektor ekonomi yang menyumbangkan penurunan kredit adalah sektor perdagangan yang tercatat kontraksi sebesar 18,67% (yoy) pada triwulan berjalan. Dari sisi risiko kredit, kredit korporasi menunjukan peningkatan, NPL kredit korporasi tercatat 5,43% (gross) lebih tinggi dari triwulan sebelumnya sebesar 4,54% (gross).
 Adapun sektor yang menunjukan peningkatan Rasio NPL yaitu sektor pertambangan dan perdagangan yang tercatat 7,57% (gross) dan 13,32% (gross) pada triwulan laporan. Dari sisi penghimpunan dana, Pertumbuhan DPK perseorangan Jambi pada triwulan IV 2021 mencapai 11,96% (yoy) atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 14,07% (yoy).


V.     PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Perkembangan aliran uang kartal di Provinsi Jambi pada triwulan IV-2021 menunjukan net outflow sebesar Rp2,18 triliun, meningkat signifikan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mengalami net ouflow sebesar Rp652,59 miliar. Peningkatan outflow ini diindikasi merupakan dampak dari peningkatan kebutuhan masyarakat akan uang tunai sejalan dengan Perayaan Hari Libur Natal dan Tahun Baru 2022 yang mendorong puncak permintaan uang tunai sesuai pola siklikalnya.
Sementara di sisi pembayaran non tunai, nilai dan volume kliring di Provinsi Jambi pada triwulan IV - 2021 terkontraksi masing-masing sebesar sebesar 4,65% (yoy)  dan 20,97% (yoy). Secara triwulanan, nilai dan volume kliring pada triwulan IV - 2021 mengalami kenaikan dibanding triwulan sebelumnya masing-masing sebesar 6,49% (qtq) dan 4,31% (qtq).
Selain penyelenggaraan sistem pembayaran tunai dan nontunai, KPwBI Provinsi Jambi juga melaksanakan edukasi Gerakan Nasional Nontunai (GNNT) secara berkala baik kepada pelajar/mahasiswa, Keluarga Penerima Manfaat (KPM) selaku penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Program Sembako (PS), serta berkoordinasi bersama dengan perbankan, insititusi lainnya dan Pemda dalam rangka penyusunan Roadmap dan Program Kerja Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) serta memfasilitasi pelaksanaan elektronifikasi transaksi keuangan Pemda sebagai upaya mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi nontunai yang mudah, aman, praktis, nyaman, dan efisien. Berbagai upaya juga dilakukan dalam perluasan implementasi QRIS hingga pada 31 Desember 2021, Provinsi Jambi dapat mencapai target implementasi QRIS Merchant di angka 126.632 merchant.


VI.     KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun dari 5,13% (yoy) pada Agustus 2020 menjadi 5,09% (yoy) di Agustus 2021. Hal ini sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk yang bekerja dan didorong oleh pertumbuhan serapan kerja. Namun demikian, peningkatan jumlah penduduk bekerja tersebut belum mampu mendorong TPAK Agustus 2021 yang justru masih terkontraksi menjadi 67,17% dibandingkan Agustus 2020 sebesar 67,79%.
Sementara, indeks Nilai Tukar Petani menunjukkan peningkatan pada triwulan IV 2021 menjadi 136,84 dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 127,26. Perbaikan NTP disebabkan peningkatan indeks yang diterima petani lebih tinggi dibandingkan peningkatan indeks yang dibayar petani. Indeks Harga yang Diterima Petani (It) pada triwulan IV 2021 rata-rata 147,41, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 121,84.
Selain itu, jumlah penduduk miskin Provinsi Jambi pada September 2021 tercatat sebanyak 279,86 ribu orang atau menurun 8,24 ribu orang dibandingkan September 2020 sebesar 288,10 ribu orang. Penurunan angka kemiskinan tersebut merupakan dampak berangsur pulihnya perekonomian daerah pasca pandemi COVID-19 yang menahan sejumlah aktivitas masyarakat hingga kegiatan komersial. Angka kemiskinan Provinsi Jambi pada September 2021 juga menurun dibandingkan Maret 2021, dimana terjadi perbaikan dari sisi persentase maupun jumlah penduduk. Sementara itu, Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga menunjukkan perbaikan pada September 2021.


VII.   PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Pertumbuhan ekonomi Provinsi Jambi tahun 2022 diperkirakan meningkat dibandingkan tahun 2021 didorong oleh berlanjutnya perbaikan ekonomi global dan domestik serta meningkatnya mobilitas dan aktivitas masyarakat di tengah akselerasi perkembangan vaksinasi COVID-19. Perekonomian Provinsi Jambi diproyeksikan akan tumbuh di rentang 3,51% - 4,31% (yoy) ditopang oleh perbaikan kinerja Lapangan Usaha (LU) utama, peningkatan ekspor serta konsumsi Rumah Tangga dan Pemerintah. Berlanjutnya Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) 2022 serta berbagai stimulus fiskal dan moneter turut menopang perbaikan konsumsi masyarakat dan dunia usaha.

Secara sektoral, pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan kinerja di LU utama provinsi. Peningkatan Kinerja LU Pertanian terutama didorong oleh peningkatan produktivitas subsektor perkebunan dan permintaan komoditas perkebunan. Sementara itu, kinerja LU Pertambangan dan Penggalian ditopang oleh peningkatan permintaan komoditas energi primer di pasar global dan domestik di tengah penguatan harga komoditas. Selanjutnya, LU Perdagangan turut mengalami peningkatan yang disebabkan oleh mulai kembali normalnya konsumsi masyarakat serta berlanjutnya insentif fiskal.

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi diprakirakan akan bersumber dari perbaikan seluruh komponen. Perbaikan kinerja LU Pertanian serta berlanjutnya Program PEN sebagai insentif fiskal maupun moneter turut mendorong peningkatan konsumsi rumah tangga. Selanjutnya, berlanjutnya perbaikan ekonomi global turut menopang peningkatan kinerja ekspor daerah. Selain itu, akselerasi perkembangan vaksinasi yang berjalan lancar diprakirakan mendorong peningkatan investasi di tengah peningkatan optimisme pelaku usaha.

Selanjutnya, dari sisi perkembangan harga, laju inflasi Provinsi Jambi pada tahun 2022 diprakirakan meningkat seiring dengan pemulihan perekonomian yang terus berlangsung, namun tetap terjaga pada kisaran sasaran inflasi. Tekanan inflasi tahun 2022 utamanya dipengaruhi oleh tingkat vaksinasi yang semakin masif sehingga mendorong peningkatan mobilitas masyarakat yang akhirnya berdampak pada perbaikan daya beli masyarakat. Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau diprakirakan masih menjadi kelompok yang memiliki kontribusi tertinggi pada inflasi daerah.

 

Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan Provinsi Jambi



Halaman ini terakhir diperbarui 3/10/2022 2:57 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga