Laporan Perekonomian Provinsi

BI Icon

​​

12/7/2021 2:00 PM
Hits: 1431

Laporan Perekonomian Provinsi Bengkulu November 2021

Bengkulu
Triwulan

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO DAERAH

Perekonomian Provinsi Bengkulu pada triwulan III 2021 menunjukkan perlambatan sebagai dampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) pada awal triwulan laporan dalam rangka pengendalian kasus COVID-19. Pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada triwulan III 2021 sebesar 2,47% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 6,29% (yoy). Dari sisi penggunaan, perlambatan ekonomi Bengkulu pada triwulan III 2021 terutama bersumber dari penurunan konsumsi Rumah Tangga (RT), konsumsi Pemerintah dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Penurunan konsumsi RT terjadi seiring pemberlakuan kebijakan PPKM pada awal triwulan III 2021. Lebih lanjut, perlambatan konsumsi RT juga turut dipengaruhi normalisasi konsumsi masyarakat sejalan dengan berlalunya momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Ramadhan dan Idul Fitri. Dari sisi lapangan usaha, perlambatan ekonomi terutama bersumber dari LU pertanian, LU perdagangan, LU transportasi dan LU konstruksi, sementara LU industri pengolahan didorong masih tingginya permintaan di tengah berlanjutnya tren peningkatan harga.

Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2021 diprakirakan membaik menjelang momen HBKN Natal dan Tahun Baru (Nataru). Meski demikian, terdapat downside risk yang bersumber dari rencana pengetatan kebijakan PPKM jelang momen HBKN Nataru. Dari sisi penggunaan, akselerasi terjadi pada hampir seluruh komponen kecuali ekspor akibat melemahnya permintaan batu bara dari Tiongkok seiring mulai pulihnya pasokan dari domestik. Dari sisi LU, akselerasi ekonomi didorong seluruh komponen LU utama daerah seperti pertanian, perdagangan dan industri pengolahan.

 

KEUANGAN PEMERINTAH

Kinerja keuangan pemerintah pada triwulan III 2021 tercatat stabil dari sisi pendapatan dan cenderung menguat dari sisi belanja. Realisasi pendapatan Provinsi Bengkulu pada triwulan III 2021 sebesar Rp583.76 miliar atau 19,06% dari pagu anggaran 2021. Realisasi tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan capaian pada tahun lalu sebesar 19,61% dari pagu 2020 yang utamanya didorong oleh menurunnya realisasi pendapatan perimbangan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, realisasi belanja daerah tercatat sebesar Rp527,64 miliar atau 17,29% dari pagu yang ditetapkan. Realisasi tersebut meningkat jika dibandingkan dengan posisi yang sama pada tahun 2020 yaitu sebesar 16,41% dari pagu yang ditetapkan. Peningkatan realisasi belanja transfer menjadi pendorong peningkatan realisasi belanja tertinggi pada triwulan laporan.

Total realisasi belanja APBN Provinsi Bengkulu pada triwulan III 2021 sebesar Rp3.407,12 miliar atau 23,11% dari pagu 2021. Realisasi tersebut menurun jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 28,02% dari pagu yang ditetapkan. Implementasi kebijakan PPKM sebagai upaya mengatasi tingginya kasus COVID-19 varian delta yang masih terjadi pada triwulan III, menyebabkan akivitas / kegiatan investasi pemerintah menurun pada triwulan tersebut.

 

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

Peningkatan tekanan inflasi triwulan III 2021 didorong tingginya tekanan harga pada kelompok makanan, minuman dan tembakau. Beberapa komoditas antara lain daging ayam ras, tempe, daging sapi dan rokok kretek filter menjadi pendorong tingginya tekanan harga pada kelompok tersebut. Selain itu, kenaikan inflasi juga terjadi pada kelompok pendidikan sejalan momen tahun ajaran baru sekolah dan dimulainya kegiatan pembelajaran tatap muka. Namun demikian, peningkatan inflasi masih tertahan deflasi yang terjadi pada kelompok perawatan pribadi atau jasa lainnya. Penurunan harga emas perhiasan domestik mengikuti penurunan harga emas dunia, menjadi salah satu penahan laju inflasi pada periode laporan.

Pada triwulan IV 2021, tekanan inflasi Provinsi Bengkulu diprakirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Peningkatan tekanan inflasi sejalan dengan meningkatnya permintaan komoditas pangan ditengah kecukupan pasokan menjelang HBKN Natal dan Tahun Baru (Nataru). Selain itu, penyesuaian harga aneka rokok secara gradual sejalan kenaikan cukai tembakau pada awal tahun turut mendorong peningkatan tekanan inflasi pada triwulan IV 2021.

 

STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM

Kinerja stabilitas sistem keuangan di Provinsi Bengkulu relatif terjaga pada triwulan laporan, meski perekonomian Provinsi Bengkulu mengalami perlambatan. Penghasilan rumah tangga secara umum menurun sejalan dengan penurunan aktivitas ekonomi seiring berlakunya kebijakan PPKM sepanjang triwulan berjalan. Lebih lanjut, terdapat kecenderungan rumah tangga menahan konsumsinya setelah Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri dan Ramadhan di triwulan II 2021.

Permintaan kredit RT melambat sejalan dengan menurunnya konsumsi RT. Penurunan pertumbuhan kredit bersumber terutama dari penurunan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB). Namun demikian, Non-Performing Loan (NPL) komponen kredit pada triwulan III 2021 masih berada pada level yang terkendali.

Kondisi korporasi di Provinsi Bengkulu relatif menurun pada triwulan laporan akibat penurunan kinerja penjualan domestik. Pertumbuhan penyaluran kredit korporasi pada triwulan laporan terdeselerasi/menurun sejalan dengan menurunnya kinerja penjualan domestik. Hal ini terkonfirmasi dari hasil liaison yang dilakukan kepada beberapa korporasi di Bengkulu yang menyatakan adanya penurunan kinerja penjualan selama periode laporan. Di sisi lain, meningkatnya risiko kredit korporasi perlu terus dicermati seiring meningkatnya NPL pada kredit modal kerja. Lebih lanjut, perlu diwaspadai risiko kredit korporasi yang melebihi batas threshold kewajarannya sebesar 5% yang didorong kenaikan risiko NPL kredit modal kerja.

Kinerja perbankan syariah di Provinsi Bengkulu relatif melambat pada triwulan III 2021 seiring penurunan jumlah pembiayaan. Berdasarkan lapangan usaha, penyaluran pembiayaan syariah menunjukkan penurunan khususnya pada lapangan usaha industri pengolahan. Intermediasi perbankan syariah mengalami penurunan tercermin dari Financing to Deposit Ratio (FDR) pada triwulan laporan tercatat sebesar 154,25% atau menurun dari triwulan sebelumnya sebesar 168,25%.

Aksesibilitas UMKM terhadap pembiayaan terus meningkat, tercermin dari meningkatnya pangsa kredit UMKM terhadap total kredit. Terjaganya pangsa kredit UMKM (35,53% dari total kredit) didorong masih tumbuhnya kredit UMKM. Lebih lanjut, terdapat peningkatan risiko kredit UMKM sebagai mana tercermin dari peningkatan NPL, meski masih berada dalam level yang terjaga di bawah 5%, dari 2,81% menjadi 3,20%.

 

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Pada triwulan III 2021, transaksi bayaran bank (outflow) tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan transaksi setoran bank (inflow). Secara detail, kondisi net outflow pada triwulan III 2021 dibukukan sebesar Rp 660miliar. Kondisi ini menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi masyarakat pada periode laporan. Meski demikian, aktivitas tarikan dan setoran bank mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya.

Transaksi transfer dana pada triwulan III 2021 semakin terbatas sejalan implementasi kebijakan PPKM. Secara nominal, nilai transaksi SKNBI pada triwulan III mengalami peningkatan sebesar 0,58% (qtq) dari Rp277 miliar pada triwulan II menjadi Rp279 miliar pada periode triwulan laporan. Meskipun begitu terjadi penurunan jumlah transaksi kliring yang lebih besar yaitu sebesar 1,01% (qtq) menjadi 6.000 lembar, dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebanyak 6.061 lembar. Berdasarkan laporan dari anggota kliring, penurunan transaksi SKNBI merupakan dampak dari lesunya aktivitas usaha pada triwulan III akibat pemberlakuan PPKM darurat.

Penggunaan transaksi non tunai melalui layanan Real Time Gross Settlement (RTGS) di Bengkulu pada triwulan III 2021 juga mengalami penurunan. Pada triwulan III 2021, jumlah transaksi RTGS mengalami penurunan nominal transaksi sebesar 29,95% (qtq). Penurunan nilai rata-rata transaksi RTGS juga sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu turut mendukung upaya pemerintah dalam elektronifikasi transaksi pemerintah daerah dan penyaluran bantuan sosial non tunai sebagai langkah pemulihan ekonomi nasional. Dalam upaya elektronifikasi transaksi pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Bengkulu telah berhasil menjadi pioneer dalam pembentukan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) di Indonesia. Dengan pembentukan TP2DD diharapkan kedepan seluruh transaksi pemerintah daerah baik penerimaan maupun pengeluaran dapat dilakukan secara non tunai.

 

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Bengkulu menunjukan perbaikan dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. TPT Provinsi Bengkulu tercatat menunjukkan penurunan dari 4,07% pada Agustus 2020 menjadi 3,65% pada Agustus 2021. Jumlah pengangguran Provinsi Bengkulu pada Agustus 2021 tercatat sebanyak 38.745 orang atau menurun -13,05% dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 43.801 orang. Penurunan angka pengangguran sejalan dengan perbaikan aktivitas ekonomi pasca gelombang peningkatan kasus pandemi COVID-19. Keberlanjutan program vaksinasi juga mendorong perbaikan kondisi tingkat pengangguran terbuka di Provinsi Bengkulu. Program vaksinasi mendorong keyakinan para pelaku usaha untuk meningkatkan produktivitas usahanya, sehingga meningkatkan kebutuhan rekrutmen pegawai baru.

Penurunan aktivitas ekonomi selama pandemi COVID-19 mendorong meningkatnya angka kemiskinan di Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data BPS pada periode Maret 2021 persentase penduduk miskin di Provinsi Bengkulu tercatat sebesar 15,22%, atau meningkat dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 15,03%. Persentase penduduk miskin Provinsi Bengkulu menjadi yang tertinggi ketujuh secara nasional. Meningkatnya persentase penduduk miskin di Provinsi Bengkulu terjadi di daerah perkotaan, sementara untuk daerah perdesaan terdapat penurunan tingkat kemiskinan.

 

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Secara keseleruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu tahun 2021 diprakirakan menguat dibandingkan tahun 2020. Berjalannya program vaksinasi, tren peningkatan harga komoditas dan perbaikan ekonomi negara mitra dagang turut mendorong membaiknya perekonomian Bengkulu pada tahun 2021. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2021 diperkirakan akan bersumber dari seluruh komponen utama seperti konsumsi rumah tangga; konsumsi pemerintah; kegiatan ekspor; dan investasi. Dari sisi lapangan usaha, dorongan pertumbuhan ekonomi juga bersumber dari seluruh lapangan usaha utama seperti LU pertanian, kehutanan dan perikanan; dengan didukung oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor; serta lapangan usaha industri pengolahan.

Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu tahun 2022 diprakirakan akan menguat dibandingkan dengan tahun 2021. Tren perbaikan ekonomi global dan nasional diperkirakan akan menjadi faktor pendorong utama membaiknya ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2022. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Bengkulu pada tahun 2022 diperkirakan akan bersumber dari konsumsi rumah tangga serta pemerintah, kegiatan ekspor, dan investasi. Dari sisi lapangan usaha, dorongan pertumbuhan ekonomi akan bersumber dari lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan; dengan didukung oleh lapangan usaha perdagangan besar dan eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor; serta lapangan usaha industri pengolahan.

Pada triwulan IV 2021, tekanan inflasi Provinsi Bengkulu diprakirakan akan meningkat dibandingkan dengan periode triwulan sebelumnya. Peningkatan tekanan inflasi sejalan meningkatnya permintaan komoditas pangan ditengah kecukupan pasokan menjelang HBKN Natal dan Tahun Baru (Nataru). Selain itu, penyesuaian harga aneka rokok secara gradual sejalan kenaikan cukai tembakau pada awal tahun turut mendorong peningkatan tekanan inflasi pada triwulan IV 2021.

Tekanan inflasi di Provinsi Bengkulu pada tahun 2021 diprakirakan meningkat, namun tetap akan mendukung sasaran inflasi nasional 3±1%. Kenaikan tekanan inflasi didorong oleh perbaikan sektor kesehatan, peningkatan mobilitas masyarakat dan permintaan domestik serta kenaikan harga komoditas global. Selanjutnya, sumber kenaikan inflasi lainnya diprakirakan berasal dari harga pangan yang bergejolak dan kenaikan harga cukai rokok yang ditransmisikan sepanjang tahun 2021.

Sumber kenaikan inflasi pada tahun 2022 diprakirakan berasal dari penyesuaian cukai rokok. Penyesuaian tersebut akan ditransmisikan sepanjang tahun secara gradual, melalui kenaikan harga rokok kretek, rokok kretek filter, dan rokok putih. Selanjutnya, sumber kenaikan inflasi lainnya diprakirakan berasal dari harga pangan yang bergejolak.



Lampiran
Kontak
Contact Center BICARA: (62 21) 131, e-mail : bicara@bi.go.id
Jam operasional Senin s.d. Jumat Pkl. 08.00 s.d 16.00 WIB
Informasi Kantor Perwakilan BI ​​Provinsi Bengkulu



Halaman ini terakhir diperbarui 12/7/2021 5:23 PM
Apakah halaman ini bermanfaat?
Terima Kasih! Apakah Anda ingin memberikan rincian lebih detail?

Baca Juga