Tinjauan Kebijakan Moneter - Mei 2010 - Bank Sentral Republik Indonesia
Sign In
26 Agustus 2019

I. STATEMENT KEBIJAKAN MONETER

Pemulihan ekonomi global terus berlanjut dan semakin kuat. Perekonomian AS, Jepang dan negara Asia lainnya terus menunjukkan kinerja yang kian membaik. Proses pemulihan ekonomi global berjalan lebih baik dari yang diperkirakan semula. Pada triwulan I 2010, China mencatat pertumbuhan tahunan sebesar 11,3%, yang merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 3 tahun terakhir. Hal ini juga didukung oleh asesmen terbaru IMF (WEO April) yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2010 sebesar 4,2%, lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,9%. Optimisme pertumbuhan ekonomi yang membaik serta aktivitas perekonomian dunia yang meningkat, mendorong peningkatan volume perdagangan dunia. Sejalan dengan itu, harga komoditas global berada dalam tren yang meningkat sehingga mendorong kenaikan inflasi global meskipun masih pada level yang rendah. Namun demikian, pemulihan ekonomi global masih dibayangi oleh risiko terkait dengan krisis utang di Yunani, Portugal, dan Spanyol yang dapat menyebabkan sentimen negatif di pasar keuangan dunia.

Seiring dengan perkembangan ekonomi global, kinerja perekonomian domestik juga kian membaik. Kinerja ekonomi domestik tersebut ditopang oleh pertumbuhan ekspor dan investasi yang meningkat serta konsumsi yang tetap kuat. Membaiknya aktivitas perekonomian global dan meningkatnya harga komoditas mendorong kinerja ekspor tumbuh lebih tinggi. Kontribusi total ekspor Indonesia ke dunia mengalami peningkatan pada tahun 2010 dari 0,92% menjadi 1%. Kegiatan investasi yang meningkat tercermin dari perkembangan beberapa indikator investasi seperti impor barang modal, impor bahan baku dan konsumsi semen. Di samping itu, berbagai penyempurnaan peraturan dan inisiasi program Pemerintah di bidang infrastruktur mendorong iklim investasi ke arah yang lebih kondusif. Kondisi ekonomi domestik yang membaik juga didukung perkembangan yang positif di berbagai sektor ekonomi antara lain sektor perdagangan, hotel dan restoran (PHR), sektor pertanian serta sektor pengangkutan dan komunikasi. Kinerja sektor perdagangan yang membaik selain didorong oleh ekspor dan impor yang meningkat juga didukung oleh kinerja di sektor-sektor lain seperti pertanian dan industri pengolahan. Sementara itu, sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian serta berbagai inovasi dan perbaikan layanan komunikasi mendorong sektor transportasi dan komunikasi tetap tumbuh pada level yang tinggi.

Dari sisi harga, tekanan inflasi masih rendah dan terkendali. Perkembangan harga pada April 2010 dipengaruhi oleh faktor nonfundamental dari kelompok volatile food. Sementara itu, tekanan  inflasi pada kelompok inti dan administered prices tercatat masih cukup rendah. Dengan perkembangan tersebut, inflasi April tercatat sebesar 0,15% (mtm) atau 3,91% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan deflasi 0,14% (mtm) pada Maret 2010.  Inflasi kelompok volatile food didorong terutama oleh peningkatan harga beberapa komoditas aneka bumbu dan sayur seperti cabe merah, tomat, bawang merah, bawang putih dan  beberapa jenis sayuran. Peningkatan harga tersebut diperkirakan bersifat sementara karena gangguan pasokan dan distribusi akibat kurang kondusifnya cuaca di beberapa sentra produksi. Sementara itu, tekanan inflasi dari kelompok administered prices relatif masih rendah. Tekanan inflasi dari sisi inflasi inti juga belum menunjukkan tekanan yang berarti sejalan dengan tren apresiasi rupiah. Tekanan inflasi dari sisi eksternal juga masih minimal terkait dengan perkembangan harga komoditas global yang walaupun meningkat namun masih relatif rendah. Tekanan inflasi dari interaksi permintaan dan penawaran diperkirakan masih rendah didukung kemampuan yang cukup dari sisi penawaran dalam merespons peningkatan permintaan. Dari sisi ekspektasi, ekspektasi inflasi masih cukup terjaga dan cenderung menurun. Rendahnya realisasi inflasi dalam beberapa bulan terakhir dan tren apresiasi rupiah mendukung terjaganya ekspektasi inflasi.

Kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan akan tetap solid didukung oleh kinerja ekspor yang membaik. Kinerja ekonomi negara mitra dagang yang kian membaik akan meningkatkan kinerja ekspor Indonesia. Selain komoditas berbasis sumber daya alam (SDA) seperti batubara, tembaga, karet dan crude palm oil (CPO), ekspor Indonesia juga didukung oleh komoditas manufaktur yang mulai meningkat. Membaiknya kinerja ekspor juga didukung oleh perkembangan harga komoditas. Indeks harga ekspor Indonesia (IHKEI) masih dalam tren yang meningkat sejak triwulan II 2009. Di sisi lain, impor juga mengalami kenaikan sejalan dengan akselerasi permintaan domestik dan ekspor. Dari  sisi neraca transaksi modal dan finansial (TMF), persepsi positif terhadap ekonomi Indonesia memengaruhi besarnya aliran masuk modal ke Indonesia. Kekhawatiran pasar terhadap krisis fiskal di Yunani membuat investor global mengalirkan dananya ke kawasan Asia yang mengalami proses pemulihan ekonomi lebih cepat. Dari sisi foreign direct investment (FDI), kinerja ekonomi domestik yang cukup baik dan proses pemulihan ekonomi global yang lebih cepat mendorong masuknya FDI. Optimisme kian membaiknya aktivitas ekonomi domestik akan memicu peningkatan modal ekuitas dan pendapatan yang diinvestasikan kembali (reinvested earning), terutama di sektor non-migas. Dengan berbagai perkembangan tersebut di atas, cadangan devisa pada 30 April 2010 mencapai 78,6 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 6,2 bulan impor dan utang luar negeri Pemerintah.

Sejalan dengan kinerja NPI yang solid, nilai tukar rupiah cenderung menguat. Tren penguatan rupiah berlanjut sejalan dengan semakin derasnya aliran modal asing ke kawasan Asia. Tingginya imbal hasil investasi di kawasan Asia memberi daya tarik tersendiri bagi investor asing mengalirkan dananya di pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia. Sementara itu dari sisi domestik, terjaganya fundamental ekonomi mampu menjaga persepsi investor. Terjaganya persepsi investor tercermin dari stabilnya indikator risiko investasi di Indonesia sehingga minat investor asing berinvestasi di Indonesia tetap tinggi. Selama bulan April, rupiah menguat rata-rata sebesar 1,5% ke level Rp9.027 per dolar AS dan di akhir bulan rupiah ditutup pada level Rp9.012 per dolar AS, atau menguat 0,87% dari penutupan bulan sebelumnya. Tren penguatan rupiah saat ini diikuti dengan volatilitas yang terjaga. Volatilitas nilai tukar rupiah pada April 2010 menurun menjadi 0,23% dari 0,45% pada bulan lalu.

Kondisi sektor keuangan membaik seiring dengan kondisi ekonomi domestik dan global yang semakin membaik. Tingginya likuiditas perbankan menyebabkan rata-rata tertimbang suku bunga PUAB O/N bergerak menuju batas bawah koridor. Sementara itu, derasnya arus masuk modal asing menyebabkan kinerja pasar keuangan domestik terus membaik tercermin dari IHSG yang meningkat dan yield SUN yang menurun. IHSG pada akhir bulan April tercatat meningkat mencapai 2.971, lebih tinggi dari posisi bulan Maret 2010 sebesar 2.777. Hal tersebut didorong oleh meningkatnya optimisme investor terkait dengan kinerja ekonomi Indonesia yang membaik dan didukung oleh tingkat inflasi yang relatif terjaga. Pada April 2010 volume perdagangan saham mencapai Rp5,3 triliun, meningkat dibandingkan dengan Maret 2010 yang mencatat volume perdagangan sebesar Rp4,7 triliun per hari. Perkembangan kinerja IHSG hingga April 2010 tersebut masih mendudukkan Bursa Efek Indonesia sebagai bursa terbaik ketiga di Asia di bawah Vietnam dan Singapura. Di pasar surat berharga negara (SBN), investor masih menunjukkan optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia ke depan. Optimisme ini terlihat dari perkembangan yield SUN berbagai tenor yang bergerak turun.

Di sisi mikro perbankan, kondisi perbankan nasional tetap stabil. Hal itu tercermin dari masih terjaganya rasio kecukupan modal (CAR) per Maret 2010 sebesar 19,1%. Sementara itu, rasio gross non-performing loan (NPL) tetap terkendali pada 3,8% dengan rasio net NPL sebesar 1%. Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) pada Maret 2010 tumbuh sebesar 11,9% (yoy), lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang mencapai 9,3% (yoy). Fungsi perbankan sebagai lembaga intermediasi juga membaik.

Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 5 Mei 2010 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 6,5% dengan koridor suku bunga sebagaimana ditetapkan sebelumnya. Dewan Gubernur Bank Indonesia memandang bahwa tingkat BI Rate 6,5% masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2010 sebesar 5%±1% dan masih kondusif bagi proses pemulihan perekonomian dan berlangsungnya intermediasi perbankan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel