Laporan Kebijakan Moneter Triwulan II 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
18 November 2018
​​
BI 7-Day Reverse Repo Rate Naik 25 bps Menjadi 5,50%: Menjaga Stabilitas, Memperkuat Ketahanan Ekonomi
 
No. 20/66/DKom
Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,75%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 6,25%. Keputusan tersebut konsisten dengan upaya untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman. Bank Indonesia menghargai dan mendukung keseriusan dan langkah-langkah konkrit Pemerintah untuk menurunkan defisit transaksi berjalan dengan mendorong ekspor dan menurunkan impor, termasuk penundaan proyek-proyek Pemerintah yang memiliki kandungan impor tinggi. Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait untuk menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan eksternal dalam kondisi ketidakpastian perekonomian global yang masih tinggi. Ke depan, Bank Indonesia akan terus mencermati perkembangan dan prospek perekonomian domestik maupun global, untuk memperkuat respons bauran kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
 
Kebijakan suku bunga tersebut didukung penguatan strategi operasi moneter dengan memperkuat konvergensi suku bunga pasar uang antar bank dengan suku bunga kebijakan moneter (BI 7DRR) untuk memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter. Bank Indonesia juga melanjutkan langkah-langkah akselerasi pendalaman pasar keuangan. Di pasar uang, keberhasilan implementasi IndONIA sebagai suku bunga acuan pasar uang akan diikuti dengan pengembangan instrumen OIS (Overnight Index Swap) dan IRS (Interest Rate Swap) sehingga mampu mendukung pembentukan struktur suku bunga pasar yang lebih efisien. Di pasar valas, Bank Indonesia meningkatkan efektivitas penyediaan swap valas baik dalam rangka operasi moneter maupun dalam rangka hedging dengan tingkat harga yang lebih murah. Berbagai kebijakan tersebut diyakini akan memperkuat alternatif instrumen pengelolaan likuiditas di pasar dan mendukung stabilitas nilai tukar tukar Rupiah.
 
Ketidakpastian ekonomi global meningkat di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak merata.  Ekonomi AS diprakirakan tetap tumbuh kuat didukung akselerasi konsumsi dan investasi. Sementara itu, ekonomi Eropa, Jepang dan Tiongkok masih cenderung menurun. Dengan perkembangan tersebut, the Fed diprakirakan tetap melanjutkan rencana kenaikan Fed Fund Rate (FFR) secara gradual, sementara European Central Bank (ECB) dan Bank of Japan ( BOJ) cenderung masih menahan kenaikan suku bunga. Di samping kenaikan suku bunga FFR, meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dipicu oleh ketegangan perdagangan antara AS dan sejumlah negara, yang mendorong kebijakan balasan yang lebih luas, termasuk melalui pelemahan mata uang di tengah berlanjutnya penguatan dolar AS secara global. Ketidakpastian ekonomi global semakin tinggi dengan munculnya risiko rambatan dari gejolak ekonomi di Turki yang disebabkan oleh kerentanan ekonomi domestik, persepsi negatif terhadap kebijakan otoritas, serta meningkatnya ketegangan hubungan Turki dengan AS. Bank Indonesia terus mewaspadai risiko dari sisi eksternal tersebut, termasuk kemungkinan dampak rambatan dari Turki, meskipun diyakini bahwa ketahanan ekonomi Indonesia cukup kuat didukung oleh indikator fundamental ekonomi yang sehat dan komitmen kebijakan yang kuat.
 
Perekonomian Indonesia meningkat cukup tinggi terutama didorong oleh permintaan domestik dari konsumsi swasta dan Pemerintah. PDB tumbuh 5,27% (yoy) pada triwulan II 2018 atau tertinggi sejak 2013. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tercatat 5,14% (yoy) didukung oleh perbaikan pendapatan dan keyakinan konsumen serta terjaganya inflasi. Selain itu, konsumsi yang terkait dengan penyelenggaraan Pilkada serentak juga mencatat pertumbuhan yang tinggi. Belanja Pemerintah juga membaik sehingga memberikan dorongan terhadap kuatnya permintaan domestik. Sementara itu, investasi tetap tumbuh tinggi, meskipun melambat dipengaruhi berkurangnya hari kerja pada Juni 2018. Meningkatnya pertumbuhan permintaan domestik kemudian berdampak pada tingginya pertumbuhan impor, di tengah kinerja ekspor yang relatif terbatas. Secara spasial, pertumbuhan ekonomi terutama di topang oleh membaiknya ekonomi Sumatera, Kalimantan, dan Papua, serta masih kuatnya ekonomi Jawa, Sulawesi dan Maluku. Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan cukup kuat ditopang oleh peningkatan investasi dan konsumsi, di tengah perbaikan ekspor yang masih terbatas. Investasi bangunan dan nonbangunan tetap kuat didukung pembangunan infrastruktur dan investasi di sektor manufaktur. Sementara itu, konsumsi diperkirakan tetap terjaga dengan adanya penyelenggaraan berbagai kegiatan, termasuk Pemilu. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan 2018 tetap dalam kisaran 5,0-5,4% dan akan meningkat menjadi 5,1-5,5% pada tahun 2019.
 
Sejalan dengan peningkatan aktivitas ekonomi domestik, defisit transaksi berjalan meningkat pada triwulan II 2018. Defisit transaksi berjalan tercatat 8,0 miliar dolar AS (3,0% PDB) pada triwulan II 2018, lebih tinggi dibandingkan dengan defisit triwulan sebelumnya sebesar 5,7 miliar dolar AS (2,2% PDB). Sampai dengan semester I 2018, defisit transaksi berjalan masih berada dalam batas yang aman, yaitu 2,6% PDB. Peningkatan defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh tingginya kenaikan impor baik bahan baku, barang modal dan barang konsumsi sejalan dengan meningkatnya aktivitas ekonomi domestik, yang melebihi dari kenaikan ekspor. Sementara itu, surplus transaksi modal dan finansial meningkat pada triwulan II 2018 dengan mencatat surplus 4,0 miliar dolar AS, lebih besar dari 2,4 miliar dolar AS pada triwulan sebelumnya. Posisi cadangan devisa Indonesia cukup tinggi pada akhir Juli 2018 sebesar 118,3 miliar dolar AS atau setara dengan pembiayaan 6,9 bulan impor atau 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Ke depan, kinerja Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diprakirakan akan tetap baik dengan defisit transaksi berjalan yang dalam batas yang aman dan dapat menopang ketahanan sektor eksternal. Di samping pengendalian sisi permintaan termasuk melalui kebijakan moneter, penurunan defisit transaksi berjalan juga didukung oleh langkah-langkah Pemerintah dalam mendorong ekspor dan pariwisata serta untuk mengendalikan impor, termasuk penundaan proyek-proyek yang mempunyai kandungan impor yang tinggi.
 
Nilai tukar Rupiah masih mengalami tekanan depresiasi dengan volatilitas yang menurun. Secara point to point, Rupiah melemah sebesar 3,94% pada triwulan II 2018 dan 0,62% pada Juli 2018. Perkembangan Rupiah pada bulan Juli tersebut disertai dengan volatilitas yang menurun, meskipun dolar AS terus mengalami penguatan secara luas. Secara year to date (ytd) Rupiah terdepresiasi 7,04% atau lebih rendah dari India, Brazil, Afrika Selatan, dan Rusia. Sementara itu, aliran modal asing telah kembali masuk ke pasar keuangan domestik pada semua jenis aset. Ke depan, Bank Indonesia terus mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya, serta menjaga bekerjanya mekanisme pasar dan didukung upaya-upaya pengembangan pasar keuangan. Kebijakan tetap ditopang oleh strategi intervensi ganda dan strategi operasi moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang Rupiah dan valas. Kebijakan Bank Indonesia dalam meningkatkan efektivitas penyediaan swap valas dengan tingkat harga yang lebih murah mampu meningkatkan minat peserta lelang di berbagai tenor dan menurunkan premi swap pasar, misalnya dari 4,85% menjadi 4,62% untuk tenor 1 bulan dan dari 5,18% menjadi 4,96% untuk tenor 1 tahun.
 
Inflasi tetap terkendali pada level yang rendah dan stabil didukung koreksi harga pascalebaran. Inflasi IHK tercatat 0,28% (mtm) pada Juli 2018, melambat dibandingkan dengan 0,59% (mtm) pada Juni 2018 sejalan dengan pola musiman berakhirnya perayaan Idul Fitri. Perlambatan inflasi IHK terutama didorong oleh deflasi kelompok administered prices. Dengan perkembangan tersebut, sampai dengan bulan Juli, inflasi IHK tercatat 3,18% (yoy), relatif stabil dibandingkan inflasi bulan sebelumnya sebesar 3,12% (yoy). Kelompok administered prices mencatat deflasi seiring dengan koreksi subkelompok transpor pasca Idul Fitri terutama didorong oleh penurunan tarif angkutan udara dan angkutan antarkota. Inflasi volatile food tetap terkendali ditopang koreksi harga beberapa komoditas pangan. Sementara itu, inflasi inti tetap terjaga di tengah kenaikan inflasi kelompok jasa. Inflasi inti tercatat 0,41% (mtm), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,24% (mtm). Komoditas utama penyumbang inflasi kelompok inti adalah tarif pulsa ponsel dan pengaruh musiman dari uang sekolah. Terkendalinya inflasi inti tersebut tidak terlepas dari konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi, termasuk dalam menjaga pergerakan nilai tukar sesuai fundamentalnya. Ke depan, inflasi diperkirakan tetap berada pada sasaran inflasi 2018, yaitu 3,5%±1% (yoy). Bank Indonesia dan Pemerintah akan terus memperkuat koordinasi kebijakan dalam pengendalian inflasi sehingga inflasi tetap terjaga pada level yang rendah dan stabil.
 
Stabilitas sistem keuangan tetap terjaga pada triwulan II 2018 disertai intermediasi perbankan yang membaik dan risiko kredit yang terjaga. Stabilitas sistem keuangan yang terjaga tercermin pada rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan yang tinggi mencapai 22,0% dan rasio likuiditas (AL/DPK) yang masih aman yaitu sebesar 19,4% pada Juni 2018. Selain itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yaitu sebesar 2,7% (gross) atau 1,2% (net). Stabilitas sistem keuangan yang terjaga berkontribusi positif pada perbaikan fungsi intermediasi perbankan. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Juni 2018 tercatat 7,0% (yoy), naik dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya yang mencapai 6,5% (yoy). Pertumbuhan kredit pada Juni 2018 tercatat sebesar 10,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 10,3% (yoy). Dari nonbank, pembiayaan ekonomi melalui pasar modal, melalui penerbitan saham (IPO dan rights issue), obligasi korporasi, Medium Term Notes (MTN), dan Negotiable Certificate of Deposit (NCD) selama Januari s.d. Juni 2018 tercatat sebesar Rp129,9 triliun (gross). Dengan perbaikan ekonomi dan kemajuan konsolidasi korporasi dan perbankan secara keseluruhan, Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit akan lebih baik pada 2018 yaitu dalam kisaran 10-12% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan DPK diperkirakan sedikit lebih rendah yaitu dalam kisaran 8,0-10,0% (yoy).
 
Aktivitas ekonomi dan keuangan yang membaik didukung oleh sistem pembayaran yang aman, efisien, lancar, dan andal. Setelmen transaksi non tunai, baik nilai besar maupun ritel, dan transaksi tunai mengalami peningkatan pada triwulan II-2018. Rata-rata harian nominal transaksi non tunai nilai besar yang diselesaikan melalui BI-RTGS meningkat sebesar 13,7% (yoy), transaksi non tunai melalui SKNBI meningkat sebesar 3,1%, dan transaksi ritel ATM, Debit, Kartu Kredit dan Uang Elektronik meningkat 9,6% (yoy). Peningkatan transaksi tersebut didukung dengan layanan dan system availability  Sistem Pembayaran Bank Indonesia yang aman. Adapun di sisi pembayaran tunai, posisi uang yang diedarkan (UYD) meningkat 1,2% (yoy) pada triwulan II 2018 sejalan dengan peningkatan kebutuhan transaksi masyarakat, termasuk jenis pecahan dan kualitasnya.
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel