​Laporan Perekonomian Provinsi DI Yogyakarta Agustus 2019​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
22 Januari 2020

Kinerja perekonomian DIY pada triwulan II 2019 mengalami perlambatan. Ekonomi DIY tumbuh 6,80% (yoy), lebih rendah dibanding triwulan I 2019 yang tumbuh 7,51% (yoy), namun masih lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional (5,05% yoy) dan Jawa (5,68% yoy). Perlambatan pertumbuhan ekonomi tersebut dipicu oleh melambatnya kinerja investasi, utamanya yang bersumber dari investasi bangunan. Hal ini dikarenakan beberapa proyek pembangunan infrastruktur strategis sudah selesai dan sebagian telah memasuki tahap akhir penyelesaian. Selain itu, faktor Pilpres dan Pileg pada bulan April ditengarai juga turut menjadi faktor penahan investasi, karena investor cenderung wait and see melihat perkembangan dinamika politik domestik. Namun, beberapa momen penting di triwulan II seperti Pemilu, Ramadan, dan Hari Raya Idulfitri, serta libur anak sekolah telah mendongkrak konsumsi RT, sehingga mampu menahan pertumbuhan ekonomi DIY tidak turun lebih dalam.

Dari sisi lapangan usaha (LU), LU konstruksi memberikan andil (yoy) terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi DIY pada triwulan laporan, walaupun pertumbuhannya melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Perlambatan LU juga terjadi pada industri pengolahan karena berkurangnya working day seiring dengan Ramadan dan perayaan Idulfitri. Di sisi lain, momentum Pemilu, Ramadan, Hari Raya IdulfItri dan libur anak sekolah membawa berkah bagi LU penyediaan akomodasi, makanan dan minuman, sehingga pada triwulan laporan LU tersebut mencatat kinerja lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya.

Perlambatan ekonomi yang terjadi pada triwulan II 2019 juga sedikit diiringi tekanan inflasi. Pada triwulan II inflasi sedikit meningkat menjadi 3,11% (yoy), namun masih on track pada sasaran yang ditetapkan yakni 3,5±1% (yoy). Peningkatan inflasi lebih disebabkan oleh pola siklikal, yakni meningkatnya permintaan pada momen Ramadan dan Idulfitri, terutama terhadap komoditas bahan makanan dan transportasi. Namun demikian peningkatan tersebut bersifat temporer dan diperkirakan kembali stabil di triwulan III 2019. Bank Indonesia bersama TPID DIY akan memperkuat koordinasi dan terus berupaya menjaga stabilitas harga, guna memastikan inflasi 2019 tetap terkendali, di tengah tantangan kemarau panjang yang berpotensi dapat berdampak terhadap kontinuitas ketersediaan pasokan bahan pangan.

Pertumbuhan ekonomi DIY yang masih relatif solid turut memastikan tetap terjaganya stabilitas keuangan daerah. Hal ini tercermin dari kinerja sektor korporasi yang masih kuat, meski gejolak ekonomi global mulai berdampak pada korporasi. Kemampuan korporasi DIY dalam menghasilkan laba (rentabilitas) maupun likuiditas masih cukup baik. Dari sektor rumah tangga terlihat daya beli masyarakat juga masih terjaga baik. Sementara itu, kinerja perbankan di DIY sampai dengan Juni 2019 terus mengalami tekanan, terutama dari aspek penghimpunan DPK dan penyaluran kredit. Namun demikian perbankan tetap mampu menjaga kualitas kreditnya, sebagaimana tercermin dari rasio NPL gross yang masih relatif terjaga (2,69%). Seiring dengan kecenderungan menurunnya suku bunga acuan (BI7DRRR), kedepan diharapkan ekspansi kredit perbankan dapat meningkat sehingga mendorong pertumbuhan ekonomi DIY.

Kelancaran Sistem Pembayaran tunai maupun nontunai tetap terjaga baik. Dari sisi pembayaran tunai, pada triwulan II 2019 transaksi mengalami kecenderungan net outflow. Hal ini mengindikasikan meningkatnya transaksi tunai sebagai dampak dari meningkatnya wisatawan domestik pada saat musim libur sekolah dan perayaan Idulfitri. Sementara itu perkembangan transaksi pembayaran nontunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Real Time Gross Settlement (RTGS) tetap lancar dan juga mengalami peningkatan dibanding triwulan sebelumnya. Selain menjaga kelancaran sistem pembayaran SKNBI dan RTGS, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia juga mendorong proses transformasi ke arah ekonomi digital. Sedangkan untuk mendukung implementasi elektronifikasi di DIY, Bank Indonesia terus berkoordinasi secara intens dengan otoritas terkait khususnya dalam penyaluran bantuan sosial nontunai (BPNT), transaksi keuangan Pemda, dan integrasi moda transportasi. Di sisi lain tahap persiapan implementasi QRIS (QR Code Indonesian Standard) yang telah diluncurkan pada tanggal 17 Agustus 2019 akan dioptimalkan dan juga disosialisasikan secara masif agar masyarakat teredukasi dengan baik dan siap bertransformasi ke arah digital payment.

Terakselerasinya pertumbuhan ekonomi DIY terutama dalam satu tahun terakhir (2018) telah berdampak pada perbaikan kesejahteraan masyarakat dan mendorong turunnya angka kemiskinan DIY. Jumlah penduduk miskin di DIY pada Maret 2019 tercatat sebanyak 448.47 ribu orang, menurun 0,11% (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perbaikan angka kemiskinan DIY tidak terlepas dari naiknya pendapatan masyarakat sebagai dampak positif dari terbukanya kesempatan kerja. Masifnya pembangunan infrastruktur di DIY telah menambah penyerapan tenaga kerja di beberapa lapangan usaha utama. Pada Maret 2019, jumlah penduduk yang bekerja tercatat sebanyak 2.138 ribu orang, meningkat 2,97% (yoy) dibanding tahun sebelumnya. Berdasarkan jenis pekerjaan, tenaga kerja di sektor formal mengalami peningkatan, sehingga memberikan dampak pada perbaikan penghasilan yang lebih berkesinambungan.

Bank Indonesia memperkirakan, perekonomian DIY pada 2019 tumbuh pada kisaran 6,8-7,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan 2018 yakni 6,20% (yoy). Pertumbuhan ekonomi terutama akan ditopang dari konsumsi dan investasi. Dari sisi lapangan usaha, sektor-sektor yang diperkirakan cukup prospektif di 2019 adalah lapangan usaha konstruksi, industri pengolahan serta penyediaan akomodasi dan makan minum. Namun di sisi lain pertumbuhan ekonomi tersebut diperkirakan sedikit meningkatkan tekanan inflasi DIY 2019, yang diperkirakan berada pada kisaran 2,9-3,3% (yoy). Perkiraan inflasi tersebut lebih tinggi dibanding realisasi inflasi 2018 yang tercatat 2,66% (yoy). Namun demikian masih tetap berada pada target sasaran inflasi nasional 2019 yakni 3,5±1% (yoy).​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel