Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Januari 2020

Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Triwulan I 2017 tumbuh sebesar 5,12% (yoy), didorong oleh membaiknya konsumsi, investasi dan kinerja ekspor. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Triwulan IV 2016 yang tercatat sebesar 4,71% (yoy), dan lebih tinggi dibandingkan Nasional yang tumbuh sebesar 5,01%. Konsumsi rumah tangga tumbuh dari 4,86% (yoy) pada Triwulan IV 2016 menjadi 5,04% (yoy) pada Triwulan I 2017 didorong oleh penguatan daya beli masyarakat seiring dengan perbaikan kondisi ekonomi global dan domestik. Peningkatan konsumsi juga berdampak pada peningkatan ekspor-impor antardaerah. Perbaikan kondisi ekonomi global dan negara mitra dagang mampu mengakselerasi ekspor luar negeri DIY. Sementara itu pelaksanaan PILKADA mampu mendorong tumbuhnya konsumsi LNPRT dan pemerintah. Program pengembangan infrastruktur pemerintah dan membaiknya perekonomian domestik mendorong pertumbuhan investasi baik pemerintah maupun swasta. Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan didorong oleh peningkatan pada lapangan usaha industri dan penyediaan akomodasi & makan minum serta tumbuhnya lapangan usaha informasi dan komunikasi. Peningkatan konsumsi dan penguatan ekonomi domestik yang masih berlanjut mampu meningkatkan pertumbuhan lapangan usaha industri pengolahan. Sementara itu, sejumlah momentum liburan panjang (long weekend) pada awal tahun mendorong peningkatan kunjungan wisatawan. ​

Ditengah peningkatan administered prices, inflasi Daerah Istimewa Yogyakarta Triwulan I 2017 tetap terjaga, seiring dengan penurunan inflasi volatile food. Inflasi IHK DIY Triwulan I 2017 tercatat sebesar 3,40% (yoy), meningkat dibandingkan Triwulan IV 2016 yang tercatat sebesar 2,29% (yoy). Kebijakan Pemerintah dalam melaksanakan program reformasi subdisi energi listrik yang tepat sasaran, penyesuaian biaya perpanjangan STNK, serta peningkatan tarif energi menyebabkan tingginya tekanan pada administered prices. Berlanjutnya tren penurunan inflasi volatile food hingga Triwulan I 2017 terjadi seiring dengan memasukinya musim panen padi, bawang merah dan cabai merah. Walaupun meningkat, inflasi inti relatif stabil dan tercatat sebesar 3,14% (yoy) pada triwulan laporan, lebih besar dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 3,02% (yoy). Peningkatan inflasi inti terutama terjadi pada tarif pulsa ponsel, tukang bukan mandor dan akademi/perguruan tinggi. ​

Stabilitas Keuangan Daerah di DIY relatif terjaga yang tercermin dari penguatan indikator ketahanan sektor korporasi, rumah tangga dan perbankan. Penyaluran kredit korporasi mulai tumbuh meningkat setelah mengalami perlambatan pada triwulan sebelumnya yang diikuti dengan peningkatan Non Performing Loan (NPL) walaupun masih berada di bawah ambang batas 5%. Perbaikan juga ditunjukkan oleh sektor rumah tangga yang tercermin dari peningkatan DPK serta penyaluran kredit rumah tangga yang tumbuh meningkat dengan risiko kredit yang relatif terjaga. Penguatan indikator ketahanan korporasi dan rumah tangga berimplikasi terhadap perbaikan kinerja perbankan. Meskipun demikian, masih perlu menjadi perhatian kemampuan intermediasi bank yang cenderung mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.​​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel