Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional BI DIY Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
25 September 2020

Memasuki tahun 2018, perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) semakin solid dengan tren pertumbuhan yang terus meningkat. Pada Triwulan I 2018, ekonomi DIY tumbuh sebesar 5,36% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 5,25% (yoy) dan periode yang sama tahun sebelumnya (5,16%; yoy). Tren peningkatan pertumbuhan ekonomi DIY yang terus berlanjut tidak terlepas dari akselerasi pembangunan infrastruktur melalui sisi investasi yang tumbuh meningkat. Selain itu, konsumsi yang tetap terjaga, khususnya konsumsi pemerintah yang mengalami peningkatan sejalan dengan pencairan dana desa tahap I serta penyaluran bantuan sosial memberikan kontribusi positi​f terhadap perekonomian DIY. Kinerja ekspor mengalami peningkatan seiring dengan masih tingginya permintaan dari negara mitra dagang di tengah momentum perbaikan ekonomi global. Di sisi lain, impor juga cenderung meningkat untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dalam aktivitas produksi.

Dari sisi lapangan usaha, momentum menjelang masuknya bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri direspon positif oleh kinerja lapangan-lapangan usaha utama di DIY yang tumbuh membaik. Tingginya permintaan produk pariwisata menjelang high season pada Triwulan II 2018, khususnya produk makanan dan minuman mendorong peningkatan kinerja industri pengolahan pada triwulan laporan. Mudahnya penggunaan telepon pintar yang dapat digunakan untuk mengakses berbagai layanan, khususnya layanan transportasi yang meningkat seiring persiapan arus mudik berdampak positif terhadap pertumbuhan lapangan usaha informasi dan komunikasi serta transportasi dan pergudangan. Pelaksanaan meeting, incentives, conference and exhibition (MICE) pada awal tahun turut menopang kinerja lapangan usaha penyediaan akomodasi dan makan minum yang mampu tumbuh di tengah masa low season. Sementara itu, pembangunan infrastruktur yang merupakan proyek multiyears dan telah dimulai di awal tahun terus berlanjut di awal tahun turut mendorong akselerasi lapangan usaha konstruksi yang tumbuh signifikan sebesar 7,38% (yoy).

Realisasi pendapatan Pemerintah Daerah pada Triwulan I 2018 tercatat sebesar Rp3.537 miliar, meningkat 9,17% (yoy). Peningkatan tersebut bersumber baik dari pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan, maupun lain-lain pendapatan daerah yang sah. Dana perimbangan merupakan komponen utama pendapatan daerah dengan porsi 62,32% dari total pendapatan daerah. Sementara itu, realisasi belanja daerah tercatat sebesar Rp1.747 miliar, tumbuh 7,09% (yoy). Peningkatan realisasi belanja pemerintah didorong oleh beberapa program pemerintah yang memasuki pencairan tahap I. Secara keseluruhan, pada Triwulan I 2018 terjadi surplus anggaran sebesar Rp1.789 miliar.

Inflasi DIY pada triwulan laporan relatif terkendali di level 3,29% (yoy), yang merupakan capaian inflasi terendah dalam 5 tahun terakhir. Inflasi tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan pencapaian nasional sebesar 3,40% (yoy). Terkendalinya inflasi pada triwulan awal 2018 dipengaruhi oleh rendahnya inflasi administered prices dan terjaganya inflasi inti. Sementara itu, inflasi volatile food tercatat mengalami peningkatan yang dipengaruhi oleh kenaikan kelompok bahan makanan. Ke depan, inflasi Triwulan II 2018 diperkirakan akan cenderung meningkat mengikuti pola siklikalnya.

Stabilitas keuangan daerah di DIY relatif terjaga. Hal ini tercermin dari indikator ketahanan sektor korporasi, rumah tangga, maupun kinerja perbankan yang masih baik. Penyaluran kredit kepada korporasi di sektor utama meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. Peningkatan penyaluran kredit tersebut masih diimbangi dengan kualitas kredit yang terjaga dengan NPL sebesar 2,98%. Dari sektor rumah tangga, kontribusi konsumsi rumah tangga masih besar terhadap perekonomian DIY. Melihat pola konsumsi dari rumah tangga DIY, kerentanan pada sektor rumah tangga masih cukup rendah. Di sisi lain, intermediasi perbankan DIY mengalami perbaikan di tengah fase konsolidasi perbankan dan korporasi. Hal tersebut tercermin dari indikator Loan to Deposit (LDR) yang meningkat menjadi 62,92%. Berdasarkan jenis penggunaan, kredit untuk keperluan konsumsi menjadi motor penggerak pertumbuhan kredit perbankan.

Perkembangan transaksi pembayaran non tunai melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) cenderung menurun pada Triwulan I 2018. Sedangkan dari sisi pembayaran tunai, transaksi masih mengalami kecenderungan net inflow terjadi seiring dengan normalnya permintaan uang tunai dari masyarakat dalam pemenuhan transaksi ekonomi di DIY pasca libur Natal dan Tahun Baru. Perkembangan transaksi layanan keuangan digital di DIY menunjukkan perkembangan yang positif, hal itu tercermin dari peningkatan jumlah agen penyedia layanan keuangan digital (LKD) yang juga diikuti dengan peningkatan jumlah transaksi.

Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan masyarakat DIY masih relatif terjaga. Pada Februari 2018 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) tercatat sebesar 72,21%, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 3,06%. Angka TPAK tersebut masih lebih tinggi dari rata-rata TPAK selama 5 tahun terakhir (2013 – 2017), yang tercatat 71,14. Peningkatan penyerapan tenaga kerja tertinggi terjadi pada industri pengolahan sejalan dengan peningkatan kinerja lapangan usaha tersebut pada triwulan laporan yang didorong perbaikan penjualan baik domestik maupun ekspor. Sejalan dengan sektor ketenagakerjaan, kesejahteraan masyarakat juga masih terjaga, yang tercermin dari penurunan Garis Kemiskinan. Tingkat kemiskinan di DIY pada September 2017 tercatat sebesar 2,36%, lebih rendah dibandingkan pada September 2016 yang tercatat sebesar 13,10%.

Ke depan, kinerja perekonomian DIY Triwulan III 2018 diperkirakan meningkat terbatas dibandingkan triwulan sebelumnya. Dari sisi permintaan, meningkatnya pertumbuhan ekonomi DIY Triwulan III 2018 masih ditopang oleh peningkatan konsumsi, baik itu konsumsi rumah tangga maupun konsumsi pemerintah, dan investasi. Sedangkan dari sisi lapangan usaha, perbaikan kinerja industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, informasi dan komunikasi akan mendorong pertumbuhan ekonomi DIY satu triwulan ke depan. Secara keseluruhan, kinerja perekonomian DIY pada triwulan laporan maupun prospek perekonomian ke depan diperkirakan mendorong pertumbuhan ekonomi DIY tahun 2018 hingga berada pada rentang 5,2 – 5,6% (yoy). Upaya pencapaian target pertumbuhan tersebut tidak terlepas dari inflasi yang terjaga pada kisaran 3,5±1% (yoy). Inflasi DIY pada Triwulan III 2018 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan Triwulan II 2018 seiring pulihnya konsumsi masyarakat yang kembali stabil paska libur sekolah dan Hari Raya. Hal ini mendorong capaian inflasi pada tahun 2018 yang diperkirakan berada dalam kisaran target 3,5±1% (yoy), serta lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya akibat rendahnya gejolak inflasi administered prices serta terjaganya inflasi volatile food inflasi inti.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel