Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional BI DIY Agustus 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
23 Januari 2020

​​​Sesuai ekpektasi, kinerja perekonomian DIY pada Triwulan II 2018 makin solid dengan mencatat pertumbuhan tertinggi selama 4 tahun terakhir, yaitu sebesar 5,90% (yoy). Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,38% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mampu tumbuh 5,21% (yoy). Selain itu, kinerja perekonomian DIY juga lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi Jawa maupun nasional secara agregat, yang tumbuh masing-masing sebesar 5,69% (yoy) dan 5,27% (yoy). Pertumbuhan ekonomi DIY yang makin kokoh ini ditopang oleh akselerasi kinerja investasi seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur yang makin gencar dilaksanakan menjelang tahun 2019. Konsumsi juga tetap terjaga, khususnya konsumsi pemerintah mengalami peningkatan sejalan dengan pencairan Dana Desa Tahap II serta pembayaran tunjangan hari raya (THR) atau gaji ke-14 pegawai yang turut berkontribusi positif terhadap perekonomian DIY. Kinerja investasi dan konsumsi pemerintah secara bersama-sama mampu memberikan andil (yoy) terhadap pertumbuhan ekonomi DIY mencapai 3,40%, lebih tinggi dibanding andil konsumsi rumah tangga yang tercatat sebesar 3,12%.

Pertumbuhan kinerja investasi ditopang oleh pembangunan infrastruktur strategis di DIY, antara lain bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA), Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), revitalisasi pedestrian malioboro serta pelebaran jalan Imogiri menuju Dlingo yang masih terus berlanjut. Gencarnya pembangunan sejumlah proyek strategis di DIY tersebut mampu mendorong investasi tumbuh sebesar 9,87% (yoy), atau meningkat dibanding triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,75% (yoy). Selain itu, pertumbuhan konsumsi pemerintah yang mencapai 6,57% (yoy) pada Triwulan II 2018, lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 5,50% (yoy), turut mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi DIY. Pencairan Dana Desa Tahap II, pembayaran tunjangan hari raya (THR) atau gaji ke-14 serta pembayaran uang muka untuk pembangunan proyek seiring dengan semakin mudahnya birokrasi menjadi faktor pendorong pertumbuhan konsumsi pemerintah. Konsumsi rumah tangga relatif terjaga dengan tumbuh tetap tinggi sebesar 5,11% (yoy), meskipun melambat dibanding pertumbuhan triwulan sebelumnya yang membukukan 5,76% (yoy). Terjaganya daya beli masyarakat seiring dengan terkendalinya inflasi pada triwulan laporan yaitu sebesar 2,69% (yoy), lebih rendah dari inflasi nasional maupun rata-rata inflasi DIY 3 (tiga) tahun sebelumnya, yaitu sebesar 3,12% (yoy) dan 3,31% (yoy). Dari sisi lapangan usaha, akselerasi perekonomian DIY didorong oleh pertumbuhan kinerja lapangan usaha konstruksi, informasi dan komunikasi serta perdagangan yang meningkat sesuai pola siklikalnya pada momentum Hari Raya Idul Fitri.

Pertumbuhan ekonomi DIY yang makin solid juga didukung oleh terjaganya stabilitas keuangan daerah di DIY. Kinerja perbankan terindikasi mengalami perbaikan yang tercermin dari peningkatan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) maupun kredit. Penghimpunan DPK tumbuh sebesar 9,56% (yoy) pada Triwulan II 2018, meningkat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,75% (yoy). Sementara itu, penyaluran kredit oleh perbankan tumbuh meningkat dari 10,15% (yoy) pada Triwulan I 2018 menjadi 10,26% (yoy) pada Triwulan II 2018. Sementara itu, peningkatan permintaan domestik terhadap pembiayaan perbankan mencerminkan adanya peningkatan aktivitas perekonomian sektor riil. Hal tersebut terindikasi pula melalui peningkatan transaksi dan arus dana yang terjadi melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di DIY. Volume dan rata-rata harian nominal transaksi ritel melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) di DIY mengalami peningkatan pada Triwulan II 2018 yang didorong oleh peningkatan aktivitas bisnis serta peningkatan realisasi anggaran pemerintah daerah. Selain itu, arus uang di DIY pada Triwulan II 2018 berada pada posisi net outflow yang mengindikasikan masih tingginya permintaan uang tunai oleh perbankan dalam memenuhi peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat pada Ramadhan dan Idul Fitri 2018.

Tren peningkatan kinerja perekonomian DIY yang masih terus berlanjut turut berdampak terhadap perbaikan indikator kemiskinan di DIY. Pada Maret 2018, tingkat kemiskinan DIY tercatat lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Persentase penduduk miskin di DIY pada Maret 2018 terhitung sebesar 12,13% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 13,02%. Di sisi lain, tingkat ketimpangan yang tercermin dari angka rasio gini masih menjadi permasalahan yang perlu untuk segera dibenahi. Angka rasio gini DIY pada Maret 2018 tercatat sebesar 0,441, meningkat dibanding periode sebelumnya dan masih lebih tinggi dibanding angka rasio gini nasional yaitu sebesar 0.389.

Ke depan, seiring dengan makin digenjotnya penyelesaian pembangunan infrastruktur serta kinerja konsumsi yang diperkirakan masih akan meningkat sebagai trickle down effect peningkatan aktivitas pariwisata di DIY, Bank Indonesia meyakini perekonomian DIY pada tahun 2018 akan tumbuh meningkat dibanding pertumbuhan pada tahun 2017. Pencapaian tersebut tentunya tidak lepas dari dukungan inflasi yang terkendali yang sampai dengan akhir 2018 diperkirakan berada pada sasaran 3,5%±1, serta stabilitas keuangan daerah yang terjaga.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel