Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional DI Yogyakarta November 2017​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Januari 2020

Perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Triwulan III 2017 tumbuh sebesar 5,41% (yoy), meningkat dibandingkan Triwulan II 2017 yang tercatat sebesar 5,16% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan didorong oleh peningkatan hampir seluruh komponen permintaan, yaitu konsumsi, pembentukan modal tetap domestik bruto (investasi) serta peningkatan ekspor-impor. Sementara dari sisi lapangan usaha pertumbuhan didorong oleh penyediaan akomodasi dan makan minum, konstruksi, serta administrasi pemerintahan, pertahanan dan jaminan sosial wajib. Pada Triwulan IV 2017, perekonomian DIY diperkirakan tetap tumbuh meskipun tidak setinggi triwulan sebelumnya. ​

Realisasi pendapatan Pemerintah Daerah pada Triwulan III 2017 tercatat sebesar Rp10.911 miliar, meningkat 15,07% (yoy). Peningkatan tersebut bersumber baik dari pendapatan asli daerah (PAD), dana perimbangan, maupun lain-lain pendapatan daerah yang sah. Dana perimbangan merupakan komponen utama pendapatan daerah dengan porsi 58,34% dari total pendapatan daerah. Sementara itu, realisasi belanja daerah tercatat sebesar Rp8.525 miliar, meningkat 5,02% (yoy). Secara keseluruhan, pada Triwulan III 2017 terjadi surplus anggaran sebesar Rp2.386 miliar. ​

Inflasi DIY pada Triwulan III 2017 terkendali pada level 3,64% (yoy), pencapaian tersebut lebih rendah dibandingkan Nasional 3,72% (yoy) maupun inflasi triwulan sebelumnya (4,29%, yoy). Tingkat inflasi tersebut juga tercatat lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata historis dalam 3 tahun terakhir (2014-2016) sebesar 4,15% (yoy). Rendahnya inflasi kelompok volatile food dan meredanya tekanan inflasi administered prices setelah Lebaran mendorong penurunan inflasi pada triwulan laporan. Sementara itu, inflasi inti tercatat memberikan tekanan inflasi dalam level terbatas seiring dengan berlangsungnya tahun ajaran baru bagi mahasiswa. Ke depan, inflasi Triwulan IV 2017 diperkirakan akan cenderung meningkat meskipun masih dalam rentang sasaran inflasi 4±1% (yoy). ​

Stabilitas keuangan daerah di DIY relatif terjaga. Hal ini tercermin dari indikator ketahanan sektor korporasi, rumah tangga, maupun kinerja perbankan. Meskipun penyaluran kredit korporasi tumbuh melambat, kualitas kredit ke sektor dimaksud menunjukkan perbaikan yang tercermin dari rasio NPL yang turun dari 2,56% pada Triwulan II 2017 menjadi 2,12% pada triwulan laporan. Di sektor rumah tangga, pertumbuhan konsumsi masyarakat yang meningkat dari 5,47% (yoy) menjadi 5,69% (yoy) menunjukkan kenaikan daya beli. Di sisi lain, perlu diwaspadai bahwa peningkatan konsumsi yang sejalan dengan peningkatan kredit konsumsi di sektor perbankan diikuti oleh kenaikan NPL dari 1,09% menjadi 1,21%.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel