Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Selatan Agustus 2019​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 Januari 2020
Perekonomian Sumatera Selatan triwulan II 2019 tumbuh sebesar 5,80% (yoy) lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 5,68% (yoy). Kinerja perekonomian Sumatera Selatan tersebut berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat pada level 5,05% (yoy). Selain itu, pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Regional Sumatera sebesar 4,62% (yoy). Meningkatnya capaian pertumbuhan ekonomi di triwulan laporan terutama disebabkan oleh peningkatan konsumsi pemerintah dan kinerja ekspor. Di sisi lain, konsumsi rumah tangga tercatat kontraksi. Dari sisi penawaran, tiga sektor utama Sumatera Selatan yang memberikan kontribusi terbesar pada pertumbuhan ekonomi periode ini adalah sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan dan sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan motor.​​

Angka inflasi ini lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi triwulan sebelumnya yang tercatat 1,66% (yoy). Angka tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi nasional triwulan II 2019 yang sebesar 3,28% (yoy), maupun angka inflasi regional Sumatera yang sebesar 3,64% (yoy).

Stabilitas keuangan daerah di Sumatera Selatan cukup baik dan terjaga, yang tercermin dari indikator stabilitas keuangan daerah Sumatera Selatan, baik rumah tangga maupun korporasi. Sektor rumah tangga dan korporasi masih menunjukkan kondisi yang stabil yang salah satunya tercermin dari nilai NPL yang masih berada di bawah batas indikatif. Penghimpunan DPKdan aset perbankan mengalami peningkatan. Sementara itu, kinerja kredit tumbuh positif meskipun melambat dibandingkan triwulan I 2019.

Perekonomian Sumatera Selatan di tahun 2019 diperkirakan berkisar 5.60%-6.00% (yoy). Sementara itu, perekonomian Sumatera Selatan triwulan IV-2019 diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan triwulan III-2019. Pertumbuhan ini didorong oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga dalam rangka HBKN (Hari Raya Natal) dan masuknya libur Tahun Baru. Dari sisi ekspor, peningkatan diperkirakan terjadi pada komoditas batubara. Sejalan dengan hal tersebut, konsumsi pemerintah dan investasi diperkirakan masih positif. Namun demikian, dari sektor eksternal terdapat beberapa risiko yang dapat mendorong perlambatan ekonomi seperti tekanan eksternal berupa risiko penurunan volume perdagangan dan harga komoditas, seiring mengetatnya regulasi negara tujuan ekspor dan perang dagang yang diperkirakan berdampak pada penurunan volume perdagangan internasional.
 
 
 
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel