Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sumatera Selatan Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
14 Juli 2020

Perekonomian Sumatera Selatan triwulan I 2017 tumbuh positif walaupun sedikit melambat dibandingkan priode sebelumnya. Realisasi pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan di triwulan I 2017 sebesar 5,11% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2016 sebesar 5,15% (yoy). Namun, realisasi pertumbuhan triwulan ini lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2016 sebesar 4,93% (yoy). Dari sisi permintaan, komponen ekspor luar negeri sudah mengalami perbaikan dan tumbuh positif serta menjadi penyumbang utama pertumbuhan. Hal ini terutama didukung oleh perbaikan harga komoditas unggulan Sumatera Selatan seperti karet dan batubara walaupun bersifat sementara serta mulai membaiknya kondisi recovery di negara tujuan utama ekspor Sumatera Selatan. Disisi lain, sesuai dengan pola historisnya, konsumsi pemerintah di triwulan I belum maksimal seiring masih dilakukannya konsolidasi keuangan. Sedangkan peningkatan harga komoditas dunia yang masih bersifat temporer belum mampu meningkatkan konsumi rumah tangga secara signifikan.

Inflasi Sumatera Selatan di triwulan I 2017 tercatat sebesar 3,71% (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi triwulan sebelumnya sebesar 3,58% (yoy). Realisasi inflasi tersebut masih sejalan dengan sasaran inflasi nasional sebesar 4±1% (yoy). Peningkatan ini didorong oleh adanya peningkatan harga pada kelompok administered prices.

Stabilitas keuangan daerah di Sumatera Selatan semakin baik. Hal tersebut tercermin dari indikator stabilitas keuangan daerah Sumatera Selatan baik rumah tangga maupun korporasi. Indikator penyaluran kredit, DPK, maupun aset tumbuh positif.

Ke depan, perekonomian Sumatera Selatan pada tahun 2017 diperkirakan akan terus membaik. Perbaikan harga komoditas unggulan dan membaiknya ekonomi global serta masih berlanjutnya pembangunan infrastruktur yang terus dilakukan masih menjadi sumber pertumbuhan utama pada beberapa periode kedepan. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai adalah tekanan eksternal seperti risiko menurunnya volume perdagangan dunia pasca-referendum keluarnya Inggris dari Uni Eropa, dampak proteksionisme Amerika Serikat, serta pemotongan anggaran yang mengancam kelangsungan pembiayaan pembangunan infrastruktur di daerah.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel