​Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Barat Agustus 2019 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
28 Januari 2020
Ekonomi Sumatera Barat meningkat dibandingkan triwulan II 2019 sesuai dengan pola pertumbuhannya. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat tumbuh meningkat hingga 5,02% pada triwulan laporan, lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,80% namun tumbuh lebih lambat dari triwulan II tahun 2018 yang mencapai 5,09%. Pertumbuhan ini didorong oleh peningkatan pola konsumsi masyarakat selama Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) serta pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN). Sementara itu, pertumbuhan cukup tinggi juga tercatat pada sektor konsumsi pemerintah sesuai dengan pola pertumbuhan ekonomi pada triwulan II. Seiring dengan meningkatnya realisasi belanja modal pemerintah dari pemerintah pusat, peningkatan juga terjadi pada sektor Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB). Namun, pertumbuhan ekonomi tertahan oleh kontraksi ekspor yang masih terkontraksi pada triwulan laporan. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), peningkatan kinerja terjadi pada LU perdagangan dan LU transportasi yang didorong oleh perayaan HBKN karena diikuti dengan musim liburan dan tradisi masyarakat Sumatera Barat setiap tahunnya, yaitu Pulang Basamo. Di sisi lain, pertumbuhan ditahan oleh melambatnya LU pertanian, LU industri pengolahan, dan LU konstruksi.
 
Perekonomian Sumatera Barat diprakirakan tumbuh dalam rentang 4,9% - 5,3% (yoy) pada triwulan III 2019. Peningkatan kinerja perekonomian tersebut disebabkan oleh prediksi melonjaknya pertumbuhan ekspor seiring dengan masuknya masa panen tanaman kelapa sawit. Selain itu, perekonomian diyakini masih akan ditopang oleh percepatan realisasi anggaran belanja pemerintah, baik barang/jasa maupun modal. Pertumbuhan impor juga diproyeksikan melambat signifikan setelah usainya masa pulang basamo di triwulan lalu. Dari sisi lapangan usaha, selesainya masa trek kelapa sawit diyakini akan mendorong pertumbuhan sub-LU perkebunan sehingga menopang pertumbuhan LU pertanian secara keseluruhan. Dampak kenaikan bahan baku pengolahan CPO akan berimbas pada peningkatan kinerja industri pengolahan. Sementara, LU konstruksi diprediksi tetap akan tumbuh kuat sejalan dengan realisasi belanja modal pemerintah.
 
Peningkatan tekanan inflasi pada triwulan II 2019 menjadi sebesar 3,61% (yoy) dari triwulan sebelumnya yang hanya 1,94% (yoy) disebabkan oleh melonjaknya harga bahan kebutuhan pokok. Dari produksi, kenaikan inflasi disebabkan oleh terbatasnya pasokan dari dalam maupun luar Sumatera Barat. Hasil panen dari Sumatera Barat banyak diekspor ke daerah lain, terutama dipasok untuk kebutuhan provinsi tetangga. Sementara produksi dari luar Sumbar mengalami gangguan yang disebabkan oleh musim kemarau ekstrim di beberapa wilayah sentra produksi. Di sisi lain, permintaan juga tengah terjadi peningkatan yang signifikan, terutama saat perayaan bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri. Beberapa komoditas utama yang menyumbang inflasi paling tinggi adalah bawang merah, bawang putih dan cabai merah. Ke depannya, laju inflasi di triwulan III diprakirakan akan meningkat seiring dengan prediksi masih terkendalanya produksi terutama di Pulau Jawa akibat kekeringan ekstrim. Meskipun demikian, semakin solidnya koordinasi TPID Provinsi maupun level Kabupaten/Kota dalam pengendalian tingkat inflasi diharapkan dapat menjaga tingkat inflasi pada rentang target yang telah ditetapkan sebesar 3,5% + 1%.
 
Peningkatan aktivitas ekonomi di akhir tahun akan mendorong pertumbuhan PDRB pada level yang lebih tinggi. Upaya mempercepat realisasi anggaran belanja pemerintah guna mencapai target yang ditetapkan akan mendorong peningkatan kinerja konsumsi pemerintah dan PMTB. Perbaikan pertumbuhan kedua komponen tersebut diharapkan dapat ditransmisikan pada kenaikan pendapatan masyarakat yang berdampak pada pertumbuhan konsumsi rumah tangga. Sementara dari sisi lapangan usaha diprediksi digerakkan oleh LU pertanian, LU konstruksi, LU perdagangan dan LU transportasi, serta LU penyediaan akomodasi makan minum. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat diprakirakan melambat dibandingkan tahun 2018, yakni dalam rentang 4,8 – 5,2% (yoy) dengan tendensi bias ke bawah.
 
Laju inflasi di triwulan IV 2019 diprakirakan pada rentang 3,6% - 4,0% (yoy) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya. Tekanan inflasi bahan makanan diperkirakan mereda seiring dengan periode panen komoditas pangan dan hortikultura di dalam maupun luar Sumatera Barat. Sumber inflasi diperkirakan disebabkan oleh tren peningkatan harga emas internasional yang memengaruhi harga jual emas perhiasan domestik, akan meningkatkan inflasi kelompok sandang. Selain itu, tingginya aktivitas pariwisata menjelang libur akhir tahun diprediksi berimbas pada meningkatnya inflasi kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan. Secara agregat, inflasi Sumbar tahun 2019 diprakirakan masih berada dalam kisaran 3,5% + 1% (yoy).
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel