Laporan Perekonomian Provinsi Sumatera Barat Mei 2019​​​​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 Januari 2020
Sesuai polanya, pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat triwulan I  2019 melambat dibangkan dengan triwulan IV 2018. Secara tahunan, ekonomi sumbar tumbuh hanya 4,78% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,50% (yoy) namun masih lebih tinggi dari pencapaian pertumbuhan periode yang sama setahun sebelumnya, yakni 4,71% (yoy). Dari sisi pengeluaran, andil konsumsi rumah tangga masih menjadi penggerak utama PDRB. Sementara itu, belanja pemerintah juga tercatat tumbuh cukup tinggi meskipun belum optimal sesuai dengan pola awa tahun. PMTB tercatat meningkat seiring dengan banyaknya realisasi anggaran pembangunan infrastruktur terutama dari pemerintah pusat. Sedangkan komponen ekspor, masih terkontraksi cukup dalam yang disebabkan oleh menurunnya kegiatan pengiriman CPO. Dari sisi Lapangan Usaha (LU), pertumbuhan negatif masih dialami oleh LU industri olahan karena berkurangnya produksi CPO. Selain itu, LU transportasi pergudangan tumbuh jauh dibawah ekspektasi karena dampak naiknya harga tiket angkutan udara. Sementara LU utama lainnya, seperti LU pertanian, LU perdagangan dan LU konstruksi masih tumbuh moderat. 
 
Perbaikan perekonomian berdampak positif terhadap kesejahteraan daerah. Hal tersebut tercermin dari penurunan angka pengangguran terbuka pada Februari 2019 dibandingkan Februari 2018. Selain itu, indikator kesejahteraan masyarakat hingga Februari 2019 juga menunjukan perbaikan. Kondisi ini tercermin dari membaiknya IPM yakni sebesar 71,73 pada Februari 2019, meningkat bila dibandingkan Februari 2018 sebesar 71,24. 
Dari sisi anggaran pemerintah, daya serap belanja pemerintah (kabupaten, kota, provinsi, dan pusat) di Sumatera Barat meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Daya serap belanja pemerintah hingga triwulan I 2019 mencapai 13,02% atau senilai Rp5,47 triliun, lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2018 sebesar 10,13% senilai Rp4,04 triliun. Pangsa terbesar dimiliki oleh realisasi belanja pegawai yang mencapai 57,06%, diikuti oleh belanja barang/jasa mencapai 24,19%, belanja modal sebesar 5,23%, serta pangsa realisasi belanja hibah dan lain-lain sebesar 13,52%. 
Sementara itu, laju IHK terjaga pada level rendah sampai dengan triwulan I 2019 yakni sebesar 1,94% (yoy). Angka realisasi inflasi di triwulan I 2019 tersebut lebih rendah dari realisasi pada triwulan sebelumnya yang mencapai 2,60% (yoy). Faktor utama perlambatan laju inflasi di triwulan awal 2019 ialah cukup dalamnya laju deflasi pada kelompok bahan makanan yakni sebesar 1,21% (yoy) didorong oleh menurunnya harga komoditas cabai merah.
Stabilitas sistem keuangan daerah terjaga. Dana Pihak Ketiga (DPK) pada triwulan I 2019 tumbuh melambat sebesar 4,13% (yoy) atau senilai Rp40,71 triliun. Sementara pertumbuhan kredit/pembiayaan mulai menunjukkan peningkatan senilai Rp55,65 triliun atau tumbuh sebesar 1,75% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2018. Di sisi lain, rasio Non-Performing Loan (NPL) sedikit meningkat pada angka 2,9%.
 
Transaksi non tunai di Sumbar terus menunjukkan tren positif. Transaksi non tunai di Sumbar mengalami peningkatan signifikan. Pada triwulan I 2019, transaksi instrumen uang elektronik dan transaksi yang dilakukan di kanal pembayaran Layanan Keuangan Digital tumbuh. Sementara itu, perkembangan transaksi jual dan beli valuta asing di Sumbar mengalami peningkatan. Jumlah transaksi jual dan beli valuta asing (valas) di Sumbar selama triwulan I 2019 tercatat meningkat, namun tren pertumbuhan transaksi valas pada triwulan ini masih melambat.
 
Perekonomian Sumatera Barat diproyeksikan terakselerasi pada triwulan II 2019 karena meningkatnya aktivitas ekonomi selama masa perayaan Hari Besar Kegamaan Nasional (HBKN). Percepatan pertumbuhan ekonomi tersebut didorong terutama oleh meningkatnya pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah Selain itu, Lapangan Usaha (LU) yang akan meningkat kinerjanya didorong oleh tradisi pulang basamo masyarakat minang pada hari raya Idul Fitri antara lain LU perdagangan, LU transportasi dan pergudangan, serta LU penyediaan akomodasi dan makan minum. Secara keseluruhan, laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan mendatang diproyeksikan meningkat pada rentang 5,2 – 5,6% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan II 2019 diperkirakan meningkat seiring dengan naiknya permintaan selama Ramadhan dan Idul Fitri, namun masih berada dalam rentang target inflasi yakni 3,5% + 1%. Pada triwulan II 2019, laju inflasi diproyeksikan berada pada kisaran 2,5% - 2,9% (yoy) atau meningkat dibandingkan realisasi triwulan I 2019 sebesar 1,94% (yoy).
Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel