Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sumatera Barat Mei 2017 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan I 2017 terpantau mengalami perbaikan. Laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan I 2017 tumbuh sebesar 4,91% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2016 sebesar 4,86% (yoy). Setelah berada pada posisi kedelapan di triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sumbar berada di urutan kelima untuk wilayah Sumatera pada periode laporan.Meningkatnya harga dari 2 (dua) komoditas andalan Sumatera Barat yaitu Crude Palm Oil (CPO) dan karet menjadi penopang pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2017. Peningkatan harga kedua komoditas dimaksud menyebabkan meningkatnya pendapatan masyarakat yang mendorong semakin tumbuhnya konsumsi rumah tangga. 

Lambatnya proses administrasi pelaksanaan belanja daerah dan terhambatnya pencairan dana sertifikasi guru karena belum adanya petunjuk teknis masih menjadi faktor utama kurang optimalnya realisasi belanja daerah pada triwulan I 2017. Meskipun anggaran belanja Provinsi Sumatera Barat dan 19 kabupaten/kota mengalami peningkatan pada tahun 2017, realisasi belanja pada triwulan I 2017 justru mengalami penurunan dibandingkan dengan realisasi belanja pada triwulan I 2016. Total realisasi belanja provinsi dan 19 kabupaten/kota pada triwulan I 2017 sebesar Rp2.422 miliar (8,91% dari anggaran 2017) atau lebih kecil dibandingkan realisasi belanja pada triwulan I 2016 yang mencapai Rp2.569 miliar (9,66% dari anggaran 2016). 

Laju inflasi Sumbar pada triwulan I 2017 mereda terutama disebabkan turunnya tekanan pada kelompok bahan makanan. Secara tahunan, laju inflasi Sumatera Barat pada triwulan I 2017 tercatat sebesar 3,82 (yoy) atau lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 4,89% (yoy). Panen komoditas hortikultura yakni cabai merah dan bawang merah serta terjaganya pasokan beras seiring panen dan operasi pasar oleh Bulog, menjadi faktor utama menurunnya tekanan inflasi pada triwulan I 2017. Dengan besaran inflasi tersebut, Provinsi Sumatera Barat tercatat sebagai provinsi dengan laju inflasi tahunan urutan ke-18 tertinggi secara nasional.

Secara umum, stabilitas keuangan daerah di Sumatera Barat terjaga didukung oleh masih terjaganya risiko dari sisi korporasi dan rumah tangga. Secara umum, stabilitas keuangan daerah relatif masih terjaga baik dari korporasi maupun rumah tangga. Kinerja korporasi sedikit tertahan akibat masih lemahnya permintaan masyarakat. Sektor korporasi mengalami pertumbuhan kredit, sedangkan sektor rumah tangga mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan I 2017. Kredit perbankan yang disalurkan untuk sektor rumah tangga pada triwulan I 2017 mencapai Rp22,9 triliun atau tumbuh sebesar 7,1% (yoy), turun dibandingkan triwulan IV 2016 sebesar Rp22,6 triliun atau 8,2% (yoy). Dari sisi risiko kredit, kualitas kredit sektor korporasi perlu terus diwaspadai mengingat NPL yang telah melampaui ambang batas 5% selama beberapa tahun terakhir dan kembali naik menjadi 5,3% (yoy) pada triwulan I 2017. Kenaikan NPL korporasi pada triwulan I 2017 dimaksud juga diikuti dengan kenaikan rasio NPL kredit rumah  tangga dan kredit UMKM.

Transaksi kliring Sumatera Barat kembali mengalami penurunan. Pada triwulan I 2017, volume transaksi kliring kembali mengalami penurunan sebesar 6,47% (yoy) menjadi 90.963 lembar. Penurunan tersebut lebih baik dibandingkan dengan penurunan pada triwulan IV 2016 yang mencapai 8,4% (yoy). Kondisi serupa juga terjadi pada nominal transaksi kliring yang turun di level Rp3,52 triliun atau 9,26% (yoy), meskipun tidak sedalam penurunan pada triwulan sebelumnya yang sebesar 12,08% (yoy).

Sumatera Barat kembali mengalami net inflow. Pada triwulan I 2017, Provinsi Riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Sumatera Selatan tercatat mengalami outflow sedangkan provinsi di wilayah Sumatera lainnya tercatat inflow. Sementara itu, untuk wilayah Sumatera Barat tercatat mengalami net inflow sebesar Rp2,3 triliun pada triwulan I 2017. Secara pertumbuhan, net inflow tersebut mengalami penurunan 4,31% (yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,4 trilun.

Membaiknya perekonomian pada awal tahun 2017 memberikan dampak positif terhadap perbaikan penyerapan tenaga kerja. Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja yang diiringi dengan relatif menurunnya tingkat pengangguran. Penyerapan tenaga kerja (Februari 2017) masih  didominasi sektor pertanian dan perdagangan namun persentasenya cenderung turun dibandingkan tahun sebelumnya karena adanya peralihan tenaga kerja ke sektor lain terutama industri pengolahan dan sektor jasa. Di sisi lain, status pekerja di Sumatera Barat sebagian besar berada di lapangan kerja informal. Masih terbatasnya lapangan pekerjaan di sektor formal menyebabkan pengangguran terdidik masih tinggi.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan rasio gini cenderung membaik di tengah meningkatnya persentase jumlah penduduk miskin. Di sisi lain, perlambatan aktivitas perekonomian pada tahun 2016 berimbas pada penurunan kesejahteraan masyarakat. Meningkatnya jumlah penduduk miskin, persentase penduduk miskin, dan indeks keparahan kemiskinan menjadi indikasi penurunan kesejahteraan daerah. Peningkatan penduduk miskin tersebut terutama terjadi pada masyarakat perdesaan, sementara penduduk miskin masyarakat perkotaan relatif stabil.

Laju pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan II 2017 diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,3 – 5,7% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2017 sebesar 4,91% (yoy). Dari sisi permintaan, perekonomian Sumatera Barat terutama ditopang oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, dan investasi. Faktor utama pendorong kinerja PDRB di triwulan II 2017 antara lain, peningkatan konsumsi seiring pemberian THR dan perayaan Idul Fitri, peningkatan realisasi anggaran pemerintah, realisasi dana desa, serta peningkatan jumlah wisatawan dan pemudik seiring tradisi pulang basamo.Pada triwulan II 2017, laju  inflasi diprakirakan meningkat seiring dengan siklus datangnya Ramadhan dan Lebaran (sisi permintaan) dan mulai berakhirnya panen beras dan cabai (sisi permintaan). Komoditas utama penyumbang inflasi diperkirakan bersumber dari komoditas pangan dan hortikultura seperti beras, cabai merah, bawang merah dan jengkol serta komoditas administered price seperti tiket angkutan udara dan tarif listrik.

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan III 2017 diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,2% - 5,6% (yoy), melambat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan prakiraan sebesar 5,3% - 5,7% (yoy). Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga, walaupun tetap tumbuh tinggi, lebih rendah dibandingkan dengan prakiraan pertumbuhan ekonomi triwulan II 2017 seiring dengan pulang basamo, liburan sekolah dan tahun ajaran baru. Investasi diprakirakan tumbuh tinggi yang ditopang akselerasi belanja modal dan realisasi fisik proyek swasta. Pada triwulan III 2017, laju inflasi secara umum diprakirakan berada dalam rentang 4,7% - 5,1% (yoy) atau menurun dibandingkan triwulan sebelumnya. Penurunan terbesar diperkirakan disumbang oleh kelompok volatile foods dan administered price seiring normalisasi harga berbagai barang dan jasa pasca Ramadhan dan Lebaran

Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumbar di tahun 2017 diprakirakan berada pada kisaran 5,3% - 5,7% (yoy), meningkat dibandingkan tahun 2016. Di sisi permintaan, sumber pertumbuhan utama berasal dari komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga, ekspor dan investasi. Membaiknya konsumsi rumah tangga disebabkan oleh peningkatan harga komoditas dunia, khususnya CPO dan karet yang mendorong perbaikan daya beli dan tingkat pendapatan masyarakat. Aktivitas investasi diprakirakan membaik seiring realisasi investasi Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri dan investasi untuk mendorong kinerja pariwisata di berbagai daerah.

Inflasi tahun 2017 diproyeksikan pada kisaran 4,5% + 1% (yoy). Dari sisi volatile foods, risiko peningkatan harga masih bersumber dari komoditas cabai merah dan beras. Faktor musiman peningkatan permintaan pada saat Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha secara historis menjadi penyebab meningkatnya harga secara signifikan di atas harga normal. Di samping itu, risiko musim kekeringan pada semester II 2017 juga diperkirakan memberikan andil pada kenaikan harga beras dan cabai merah. Pada kelompok administered price, potensi kenaikan harga minyak dunia akan berimplikasi pada kebijakan harga energi strategis ke depan.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel