KEKR Provinsi Sumatera Barat Periode Februari 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
29 Januari 2020
​​Ekonomi Sumbar tumbuh moderat, dengan realisasi pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2017 sebesar 5,37% (yoy) atau sedikit melambat dibandingkan triwulan III 2017 sebesar 5,39% (yoy). Perlambatan bersumber dari menurunnya kinerja konsumsi pemerintah dan investasi, yang disebabkan oleh faktor menurunnya tingkat realisasi belanja pemerintah baik di sisi penerimaan maupun pengeluaran serta menurunnya porsi dan realisasi belanja modal dalam struktur APBD. Di sisi lapangan usaha (LU), perlambatan bersumber dari LU pertanian, LU perdagangan dan LU industri pengolahan. Tingginya curah hujan dan serangan hama berpengaruh pada penurunan kinerja LU pertanian. Selanjutnya, perilaku sebagian masyarakat yang menahan pembelian kendaraan bermotor berimbas pada melambatnya LU perdagangan. Sementara penurunan kapasitas produksi akibat turunnya permintaan berdampak pada tertahannya LU industri pengolahan untuk tumbuh lebih tinggi. Secara keseluruhan tahun, perekonomian Sumatera Barat tahun 2017 tumbuh 5,29% (yoy) atau sedikit meningkat dibandingkan tahun 2016 sebesar 5,27% (yoy). Sumber penopang pertumbuhan tahun 2017 berasal dari meningkatnya konsumsi rumah tangga, dan ekspor luar negeri. Sedangkan secara lapangan usaha, pertumbuhan terjadi karena adanya perbaikan kinerja pertanian dan perdagangan.

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan I 2018 diprakirakan melambat dalam kisaran 5,1 – 5,5% (yoy). Melambatnya kinerja konsumsi rumah tangga dan masih terbatasnya aktivitas swasta dan pemerintah di awal tahun menahan laju perekonomian pada triwulan I 2018. Sementara itu realisasi belanja modal pemerintah dan investasi sektor swasta yang juga masih rendah di awal tahun berdampak pada tertahannya kinerja investasi. Meningkatnya harga komoditas internasional seperti CPO diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kinerja ekspor dan industri pengolahan.

Kinerja realisasi keuangan pemerintah Provinsi Sumatera Barat triwulan IV 2017 secara umum meningkat. Dana Perimbangan yang naik dibandingkan realisasi pada triwulan IV 2016 menyebabkan realisasi pendapatan Provinsi Sumatera Barat pada triwulan IV 2017 mencapai Rp5.767,50 miliar. Peningkatan juga terjadi pada realisasi belanja triwulan IV 2017 yang mencapai Rp5.755,98 miliar karena meningkatnya biaya belanja pegawai dari pengalihan sumber penggajian sebagian Aparatur Sipil Negara (ASN) dari APBD kabupaten/kota menjadi APBD provinsi. Selain itu peningkatan juga tercatat pada belanja barang/jasa dan modal di 19 kabupaten/kota yang lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya.

Tren rendahnya inflasi di triwulan III 2017 berlanjut ke penghujung tahun 2017. Laju inflasi Sumbar pada triwulan IV 2017 tercatat 2,03% (yoy), dipicu oleh menurunnya tekanan harga dari kelompok administered price dan keberhasilan pengendalian inflasi volatile food. Terjaganya pasokan pangan serta kenaikan harga tarif angkutan udara yang tidak setinggi tahun sebelumnya menjadi faktor penjaga inflasi pada triwulan IV 2017. Mulai terbatasnya pasokan komoditas hortikultura di tengah permintaan yang tinggi berdampak pada meningkatnya tekanan inflasi Sumbar pada triwulan I 2018. Berdasarkan Survei Pemantauan Harga, naiknya harga cabai merah, bawang merah, dan ayam ras memicu naiknya inflasi Sumbar pada triwulan I 2018 yang diprakirakan pada kisaran 2,0% - 2,4% (yoy).

Secara umum, stabilitas keuangan daerah relatif terjaga. Hal tersebut didukung oleh kinerja sektor rumah tangga dan sektor korporasi yang ditopang oleh membaiknya harga komoditas unggulan Sumatera Barat, yakni CPO dan karet hingga triwulan IV 2017 ini. Kenaikan harga dua komoditas ini juga menyebabkan naiknya pendapatan masyarakat Sumatera Barat yang turut mendorong konsumsi rumah tangga sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat. Selain itu, maraknya penyelenggaraan event berskala nasional maupun internasional dan semakin giatnya aktivitas pariwisata di Sumatera Barat ikut serta mendorong pendapatan dan konsumsi masyarakat Sumbar sebagaimana tercermin dalam Survei Konsumen (SK) berupa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK), dan Indeks Kondisi Ekonomi (IKE). Membaiknya kinerja sektor rumah tangga juga berkorelasi positif dengan peningkatan kredit multiguna dan kredit kepemilikan rumah (KPR). Sedangkan kinerja sektor korporasi juga menunjukkan perbaikan pada triwulan IV 2017 akibat membaiknya permintaan domestik dan ekspor. Kredit sektor rumah tangga sedikit mengalami pertumbuhan pada triwulan IV 2017. Kredit perbankan yang disalurkan untuk sektor rumah tangga pada triwulan IV 2017 mencapai Rp24,4 triliun atau tumbuh sebesar 8,07% (yoy), serta ditopang oleh kredit KPR yang tumbuh sebesar 8,72% (yoy). Di sisi lain, pertumbuhan kredit rumah tangga lebih lanjut tertahan oleh  kredit kendaraan bermotor (KKB) yang mengalami kontraksi dibanding triwulan sebelumnya

Transaksi non tunai di Sumatera Barat menunjukkan tren penurunan. Transaksi kliring Sumatera Barat triwulan IV 2017 cenderung lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun-tahun sebelumnya. Namun sebaliknya, transaksi uang elektronik mencatatkan kenaikan signifikan akibat mulai masuknya beberapa penyelenggara baru di Sumatera Barat. Perkembangan juga disebabkan oleh perubahan mekanisme panyaluran bantuan sosial kepada masyarakat Kota Padang menjadi non tunai melalui automatic teller machine atau agen-agen bank yang telah ditunjuk menggunakan kartu. Dari sisi pengelolaan uang rupiah di Sumatera Barat, transaksi tunai masih menjadi pilihan utama masyarakat Sumatera Barat sepanjang tahun 2017 yang berimbas pada tingginya jumlah uang tidak layak edar yang dimusnahkan mencapai 247,55 juta lembar bilyet atau setara Rp8,87 triliun. Pengelolaan uang rupiah, terjadi anomali arus kas (cashflow) perbankan. Karakteristik cashflow di Sumatera Barat pada triwulan IV dalam kurun waktu empat tahun terakhir menunjukkan kondisi net inflow. Namun, berbeda dengan triwulan IV 2017 yang justru mencatat net outflow.

Perbaikan kinerja perekonomian Sumatera Barat ternyata belum sejalan dengan tingkat penyerapan tenaga kerja, tercermin dari menurunnya tingkat partisipasi angkatan kerja yang diiringi oleh peningkatan pengangguran terbuka pada Agustus 2017. Perluasan lapangan kerja tidak dapat mengimbangi melonjaknya angkatan kerja baru. Keterbatasan jumlah industri dan ketidaksesuaian kualitas pencari kerja dengan kualifikasi perusahaan turut menyumbang turunnya angka penyerapan tenaga kerja. Secara sektoral, penyerapan tenaga kerja (Agustus 2017) masih didominasi oleh sektor pertanian dan perdagangan.

Kesejahteraan daerah terpantau membaik pada tahun 2017, tercermin dari menurunnya jumlah penduduk miskin, persentase penduduk miskin, dan indeks keparahan kemiskinan secara merata di perdesaan maupun perkotaan. Peningkatan harga internasional (CPO dan karet) yang terjadi sejak akhir tahun 2016 berimbas pada meningkatknya pendapatan masyarakat yang sebagian besar mata pencahariannya bergantung pada dua komoditas tersebut. Selain itu, kualitas hidup masyarakat Sumatera Barat juga relatif meningkat dengan membaiknya IPM, diikuti oleh perbaikan pada indeks ketimpangan atau ketidakmerataan ekonomi penduduk di Sumatera Barat. Angka rasio gini Sumatera Barat terpantau cukup baik, yakni berada pada urutan terendah ke-2 (tiga) di Sumatera atau ke-5 (lima) secara nasional.

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan II 2018 diprakirakan tumbuh pada kisaran 5,2% - 5,6% (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya dengan prakiraan sebesar 5,1% - 5,5% (yoy) disebabkan faktor siklikal perayaan keagamaan Idul Fitri dan perhelatan Pilkada di empat daerah Sumbar. Di sisi permintaan, kondisi ini berdampak pada akselerasi konsumsi rumah tangga, sementara di sisi lapangan usaha (LU) berdampak positif pada  LU perdagangan  dan LU transportasi. Lebih lanjut, perkiraan meningkatnya harga komoditas CPO dan karet diperkirakan mampu mengangkat kinerja ekspor dan industri pengolahan. Secara keseluruhan tahun, pertumbuhan ekonomi Sumbar di tahun 2018 diprakirakan berada pada kisaran 5,1% - 5,5% (yoy), cenderung stabil dibandingkan tahun 2017. Seperti halnya tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi Sumbar dominan bersumber dari konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor. Konsumsi rumah tangga diperkirakan tumbuh moderat sejalan dengan peningkatan pertumbuhan kelas menengah dan pelaksanaan Pilkada serentak pada pertengahan tahun 2018 yang diperkirakan mampu meningkatkan geliat LNPRT. Sementara itu, peningkatan harga komoditas internasional juga diperkirakan  dapat mengangkat kinerja ekspor.

Laju inflasi di triwulan II 2018 diprakirakan meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan rentang inflasi 3,5% - 3,9% (yoy) yang dominan didorong oleh peningkatan harga volatile food dan administered price. Inflasi di triwulan II 2018 diperkirakan bersumber dari komoditas cabai merah dan tarif angkutan udara menjelang Idul Fitri. Konsumsi masyarakat yang meningkat juga diperkirakan berdampak pada inflasi inti. Lebih lanjut, tren kenaikan minyak dunia dan batubara berpotensi mengakibatkan kenaikan BBM nonsubsidi dan  tarif listrik.

Laju inflasi Sumbar tahun 2018 diproyeksikan pada kisaran 3,5% ±​ 1% (yoy) atau meningkat dibandingkan tahun 2017. Dari sisi eksternal, inflasi inti relatif terjaga dengan terkendalinya volatilitas nilai tukar dan harga komoditas internasional. Dari sisi internal Sumbar, meningkatnya permintaan domestik diprakirakan masih dapat diimbangi oleh sisi penawaran. Tekanan inflasi di tahun 2018 diperkirakan dominan bersumber dari kelompok volatile foods. Sementara pada kelompok administered price, adanya jaminan dari pemerintah pusat untuk tidak menaikkan harga barang/jasa yang diatur pemerintah seperti BBM subsidi dan LPG 3 kg menjadi faktor penting penahan inflasi di tahun 2018. Mencermati risiko inflasi yang lebih tinggi, upaya pengendalian inflasi di 2018 akan dititikberatkan pada percepatan implementasi kerja sama antar daerah yang telah dijajaki pada tahun 2017.​

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel