Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sumatera Barat Periode Mei 2018​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
26 September 2020

Perekonomian Sumatera Barat triwulan I 2018 melambat signifikan. Ekonomi Sumbar pada triwulan I 2018 tumbuh sebesar 4,71% (yoy) atau melambat signifikan dibandingkan triwulan IV 2017 sebesar 5,37% (yoy). Faktor utama perlambatan bersumber dari kontraksi kinerja ekspor. Sedangkan di sisi Lapangan Usaha (LU), penurunan kinerja disumbang dari pertumbuhan negatif LU industri pengolahan akibat menurunnya kinerja subsektor perkebunan, terutama kelapa sawit. Sedangkan proyeksi perekonomian Sumatera Barat pada triwulan II 2018 diprakirakan meningkat dalam kisaran 4,9 – 5,3% (yoy). Sementara itu, jumlah penduduk usia produktif dan angkatan kerja di Sumatera Barat terus meningkat diikuti dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) naik dari 70,42% menjadi 72,80 % di awal tahun 2018. Peningkatan TPAK memberikan indikasi adanya kenaikan potensi ekonomi dari sisi pasokan (supply) tenaga kerja. Dari sisi anggaran pemerintah, pendapatan pemerintah mengalami penurunan sedangkan realisasi belanja mengalami kenaikan. Realisasi pendapatan pada triwulan berjalan baru mencapai 22,05% atau Rp1.418,27 miliar, menurun dibandingkan triwulan I 2017 sebesar 24,53% atau mencapai Rp1.499,24 miliar. Adapun realisasi belanja meningkat secara persentase maupun nominal dari 8,61% atau Rp1.806,21 miliar pada triwulan I 2017 menjadi 9,62% atau Rp2.002,16 miliar pada triwulan I 2018. Capaian inflasi pada triwulan I 2018 masih berada dalam rentang target 3,5% + 1%, meskipun sedikit lebih tinggi dari triwulan I 2017. Laju inflasi Sumbar pada triwulan I 2018 tercatat sebesar 2,33% (yoy) dipicu oleh tekanan harga dari kelompok volatile food dan administered price.

Walau terdapat penurunan konsumsi dan dana pihak ketiga (DPK) rumah tangga dan korporasi yang juga tercermin dari menurunnya beberapa indikator Survei Konsumen (SK) oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat, namun permintaan domestik dan kredit masih meningkat, khususnya pada kredit kendaraan bermotor dan multiguna, serta kredit pertanian, kehutanan, dan perburuhan. Hal ini menunjukkan bahwa sektor keuangan Sumatera Barat di triwulan I 2018 tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak eksternal. Sementara itu, aliran arus kas (cashflow) perbankan di Sumatera Barat kembali ke pola normalnya. Setelah pada triwulan sebelumnya terjadi anomali cashflow di Sumbar, pada triwulan I 2018 cashflow perbankan kembali menunjukkan net inflow. Dari sisi SP non tunai menunjukkan peningkatan terbatas. Transaksi non tunai yang menggunakan sistem Layanan Keuangan Digital (LKD) naik signifikan. Transaksi yang dilakukan di agen-agen LKD di Sumbar pada triwulan I 2018 tercatat mencapai Rp1,52 miliar. Di sisi lain, transaksi kliring melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) terus mengalami penurunan. Selain itu, UTLE yang dimusnahkan mengalami penurunan, baik dari segi nominal maupun lembaran. Secara nominal, pemusnahan UTLE di Sumbar turun hingga 52,03% (yoy) menjadi Rp1,43 triliun. Adapun secara lembaran, pemusnahan UTLE sebesar 40,27 lembar atau turun 52,08% (yoy).

Perekonomian Sumatera Barat pada triwulan III 2018 diprakirakan tumbuh pada kisaran 4,8% - 5,2% (yoy), melambat bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya dengan prakiraan sebesar 4,9% - 5,3% (yoy) sejalan dengan normalisasi permintaan agregat pasca HBKN (Lebaran).Perlambatan ekonomi di triwulan III 2018 diperkirakan bersumber dari Konsumsi RT seiring meredanya permintaan pasca Lebaran. Sedangkan laju inflasi di triwulan III 2018 diprakirakan mereda dibandingkan triwulan sebelumnya, dengan rentang inflasi 2,9% - 3,3% (yoy) akibat normalisasi harga utamanya pada kelompok volatile fooddan administered price. Secara agregat, inflasi Sumbar tahun 2018 diprakirakan berada dalam kisaran 3,5% + 1% (yoy).

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel