Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Sulawesi Utara November 2016​ - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
21 Agustus 2019

EKONOMI MAKRO

Ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan III 2016 tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan II 2016. Ekonomi tumbuh sebesar 6,01% (yoy), lebih rendah dari triwulan II 2016 yang sebesar 6,14% (yoy). Melambatnya pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara disebabkan oleh kontraksi konsumsi pemerintah, perlambatan kinerja lapangan usaha konstruksi dan administrasi pemerintahan. Pada triwulan IV 2016, ekonomi Sulawesi Utara diperkirakan tumbuh 6,43% (yoy). Meningkatnya kinerja perekonomian di Sulawesi Utara tersebut didorong oleh kuatnya konsumsi rumah tangga, lapangan usaha konstruksi, serta penyediaan akomodasi makan dan minum. Melihat perkembangan terkini, perekonomian Sulawesi Utara sepanjang tahun 2016 diperkirakan tumbuh meningkat dibandingkan tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara tahun 2016 diperkirakan berada pada kisaran 5,95-6,35% (yoy). Peningkatan pertumbuhan didukung oleh sisi internal dan eksternal.

KEUANGAN PEMERINTAH

Total anggaran belanja fiskal Sulawesi Utara tahun 2016 mencapai Rp23,75 triliun yang terdiri dari belanja APBN, APBD Provinsi dan APBD Kab/Kota. Secara spasial, anggaran belanja APBD kabupaten/kota tertinggi diraup oleh Kota Manado yang mencapai Rp1,86 triliun. Sedangkan, Kabupaten Kepulauan Talaud memiliki anggaran belanja APBD kabupaten/kota terendah yaitu sebesar Rp220 miliar. Ketiga sumber belanja fiskal mengalami peningkatan realisasi pada triwulan III 2016. Realisasi APBN, APBD Provinsi dan APBD Kab/Kota mengalami perbaikan. Ke depan, terdapat berbagai tantangan dan risiko pada realisasi belanja anggaran di Sulawesi Utara, khususnya masalah anggaran dan pembebasan lahan.

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH

Memasuki triwulan III, tekanan inflasi tahunan Sulawesi Utara yang diwakili oleh inflasi Kota Manado mengalami penurunan signifikan sehingga berada di bawah level Nasional dan terendah di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Menurunnya tekanan inflasi tahunan Sulut dibanding triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh melandainya inflasi volatile food, seiring pasokan yang relatif terjaga. Memasuki triwulan IV 2016, inflasi Sulut diperkirakan meningkat sesuai dengan pola musimannya, yang disebabkan oleh tekanan permintaan jelang hari raya Natal dan Tahun Baru 2017 serta kondisi cuaca yang kurang mendukung. Untuk menjaga tingkat inflasi, beberapa rapat koordinasi mulai tingkat Kab/Kota, Provinsi, Regional (KTI) telah dilaksanakan untuk menindaklanjuti arahan Presiden pada Rakornas VII TPID 2016. Fokus pengendalian inflasi pada triwulan III 2016 di Sulawesi Utara adalah untuk mengantisipasi lonjakan harga di akhir tahun serta memastikan ketersediaan barang-barang strategis. Gerakan Rica Rumah sebagai program unggulan TPID 2016. Adapun arah pengendalian inflasi Sulawesi Utara senantiasa mengacu kepada Roadmap Pengendalian Inflasi Sulut 2016-2019, yang telah disepakati dan ditandatangani oleh Pembina TPID Provinsi (Gubernur Sulawesi Utara) dan Ketua TPID Provinsi (Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Utara) pada Oktober 2016.

STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN DAERAH

Kondisi Stabilitas Keuangan Daerah di Sulawesi Utara pada triwulan III 2016 relatif masih terjaga. Ketahanan sektor korporasi masih relatif terjaga yang didorong oleh perbaikan lapangan usaha pertanian khususnya sub lapangan usaha perkebunan sebagai input utama industri pengolahan mendorong meningkatnya kinerja lapangan usaha industri pengolahan. Di sisi lain, kondisi sektor rumah tangga yang salah satunya tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen masih berada pada level yang optimis (diatas 100) meski menurun dari periode sebelumnya. Sementara itu, perlambatan pertumbuhan DPK masih terus berlanjut pada periode laporan hingga mencatat pertumbuhan negatif, melanjutkan kontraksi triwulan sebelumnya. Dari sisi penyaluran pembiayaan, kredit tercatat mengalami perlambatan pertumbuhan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Hal yang berbeda ditunjukkan oleh penyaluran pembiayaan di sektor UMKM, yang menunjukkan peningkatan pada periode laporan. Perkembangan sektor pariwisata Sulawesi Utara pada beberapa bulan terakhir mendorong peningkatan penyaluran kredit UMKM.

PENYELENGGARAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH

Pada triwulan III 2016, transaksi pembayaran baik nontunai maupun tunai menunjukkan penurunan. Transaksi kliring melalui Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) menunjukkan penurunan seiring dengan switching referensi masyarakat untuk menggunakan RTGS. Sementara itu, kebutuhan uang kartal di Sulawesi Utara mengalami penurunan seiring dengan menurunnya konsumsi masyarakat. Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran baik tunai maupun nontunai, Bank Indonesia melakukan berbagai upaya di Sulawesi Utara seperti kas titipan, kas keliling, pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE), pemberantasan uang palsu, Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT), Layanan Keuangan Digital (LKD), sosialisasi Ciri-Ciri Keaslian Uang Rupiah (CIKUR).

KETENAGAKERJAAN DAN KESEJAHTERAAN

Kondisi ketenagakerjaan dan kesejahteraan di Sulawesi Utara menunjukkan perbaikan. Hal tersebut tercermin dari peningkatan jumlah angkatan kerja dan penurunan tingkat pengangguran terbuka, khususnya pada lapangan usaha pertanian dan perdagangan serta penyediaan akomodasi dan makan minum. Di sisi kesejahteraan, peningkatan tercermin dari perbaikan tingkat pendapatan per-kapita, tingkat kemiskinan, IPM, dan tingkat upah serta rasio gini dan NTP tahun 2016. Program pengentasan kemiskinan Pemerintah Daerah “ODSK (Operasi Desa Selesaikan Kemiskinan)” menjadi salah satu pendorong upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Utara.

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH

Perekonomian Sulawesi Utara pada triwulan I 2017 diprakirakan tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara diprakirakan berada pada kisaran 5,54-5,94% (yoy). Proyeksi perlambatan pada awal tahun terutama disebabkan oleh perlambatan kinerja konsumsi rumah tangga dan aktivitas perdagangan, konsumsi pemerintah, usaha konstruksi dan investasi. Sementara itu, untuk keseluruhan tahun 2017, perekonomian Sulawesi Utara diperkirakan meningkat dibandingkan tahun 2016 pada kisaran 6,19-6,59% (yoy). Proyeksi peningkatan pertumbuhan didorong oleh berbagai faktor. Di tengah proyeksi peningkatan tersebut, beberapa faktor risiko baik dari sisi eksternal maupun internal tetap perlu mendapat perhatian. Pada triwulan pertama 2017, sebagaimana pola historisnya, tekanan inflasi Sulut diperkirakan mereda khususnya secara bulanan, seiring dengan normalisasi permintaan pasca lonjakan di akhir tahun. Di sisi suplai, produksi tabama yang diproyeksikan meningkat pada Desember akan memberi dampak positif pada koreksi harga terutama pada Januari dan Februari 2017. Secara tahunan, inflasi Sulut pada triwulan I 2017 diperkirakan sebesar 1,82±1% (yoy). Setelah mengalami level inflasi yang cukup rendah pada tahun 2016, inflasi Sulut pada tahun 2017 diperkirakan relatif terkendali yaitu dalam rentang 3±1% (yoy) meskipun cenderung lebih tinggi dibanding 2016.

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel