Kajian Ekonomi dan Keuangan Regioanal Provinsi Sulawesi Utara Mei 2018 - Bank Sentral Republik Indonesia
Navigate Up
Sign In
27 Mei 2019
​​

Kinerja Pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2018 meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya. Ekspor luar negeri menjadi faktor kunci pertumbuhan daerah, khususnya nilai ekspor komoditas tambang emas naik 218% dan ekspor jasa melalui peningkatan wisatawan mancanegara yang tumbuh 63,94% (yoy) dibanding triwulan sebelumnya ​​

Pada Triwulan I 2018, realisasi anggaran pendapatan Sulawesi Utara tercatat sebesar 24,12% atau lebih rendah dibandingkan realisasi triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Di sisi lain, realisasi anggaran belanja APBD Provinsi Sulut pada Triwulan I 2018 (11,1%) lebih rendah dibandingkan dengan Triwulan I 2017 (12,95%). Adapun penyerapan anggaran APBN di Sulut pada Triwulan I 2018 tercatat sebesar 9,42%, lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang tercatat sebesar 11,84%. Penyerapan yang belum optimal disebabkan oleh adanya anggaran yang belum dapat direalisasikan (diblokir), selain juga karena adanya outstanding kontrak pengadaan barang dan jasa yang masih kecil. ​​

Inflasi Sulawesi Utara pada Triwulan I 2018 tercatat sebesar 1,12% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya (2,44%). Dengan demikian, inflasi Sulut pada Triwulan I 2018 relatif terkendali dan masih berada di bawah rentang sasaran inflasi Nasional tahun 2018: 3,5%±1% (yoy). Inflasi tahunan pada Triwulan I 2018 disumbang oleh kelompok administered prices[1] (AP) sebesar 0,91%, kelompok core[2] sebesar 0,88%, dan kelompok volatile food[3] (VF) yang tercatat deflasi sebesar 0,67%. ​​

Kondisi keuangan daerah Sulawesi Utara relatif stabil, tercermin dari peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK), aset dan kredit serta perbaikan kualitas kredit dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dari jenis kredit, peningkatan pertumbuhan kredit hanya terjadi pada jenis Kredit Konsumsi (KK) sedangkan Kredit Modal Kerja (KMK) tercatat tumbuh melambat dan Kredit Investasi tercatat tumbuh negatif (angka) pada triwulan laporan. Sementara itu meningkatnya pertumbuhan kredit UMKM, pangsa kredit UMKM terhadap total kredit yang disalurkan di Sulawesi Utara pada Triwulan I 2018 mengalami sedikit perlambatan Ketahanan sektor korporasi dan sektor rumah tangga juga masih terjaga dengan naiknya konsumsi Rumah Tangga sebesar 2.18% (yoy) dengan share terhadap PDRB sebesar 45.8%. Nominal transaksi Real Time Gross Settlement (RTGS) Triwulan 2018 sebesar Rp 4,58 triliun atau meningkat 7% dibandingkan periode sebelumnya. Di sisi lain, transaksi kliring pada Triwulan I 2018 mengalami perlambatan yang tercatat sebesar Rp 1,58 triliun, lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya yaitu sebesar Rp 1,77 triliun. Sementara itu, aliran masuk uang kartal dari masyarakat ke kas Bank Indonesia tercatat net-inflow sebesar Rp 1,71 triliun sesuai dengan pola historisnya yang didominasi oleh setoran perbankan. Pada Triwulan I 2018 KPwBI Sulut telah menginisasi implementasi elektronifikasi SPBU bekerjasama dengan Pertamina, Perbankan, dan Hiswana Migas. Dalam rangka mendukung implementasi penyaluran bantuan sosial non tunai, KPwBI Sulut juga memperluas implementasi Layanan Keuangan Digital (LKD) melalui dorongan kepada bank penyelenggara LKD di Sulut untuk melakukan ekspansi agen LKD di tiap-tiap daerah. Dalam upaya mendukung kelancaran sistem kliring, KPwBI Sulut juga melakukan pemantauan kepatuhan KPWD secara off-site dan on-site. Selain itu, pada Triwulan I 2018, dilakukan sebanyak 4 kali dropping kas titipan dengan total Rp188 miliar. Sementara itu total nominal penarikan UTLE dari Kas Titipan Bank Indonesia adalah sebesar Rp581 miliar. ​​

Perbaikan ketenagakerjaan di Sulawesi Utara tersebut tercermin dari Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada periode Februari 2018 yang sebesar 6,09%, turun dari periode yang sama tahun sebelumnya yang berada di level 6,12%. Turunnya angka TPT disebabkan naiknya jumlah tenaga kerja di beberapa sektor utama antara lain Perdagangan (8,78%) dan Kontruksi (8,48%). Kondisi kesejahteraan di Sulawesi Utara secara umum mengalami perbaikan yang tercermin dari penurunan tingkat kemiskinan. Jumlah penduduk miskin di Provinsi Sulawesi Utara pada periode Sepember 2017 sebanyak 194,85 ribu jiwa (7,9%) turun dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2016 yang berjumlah sekitar 200,35 ribu jiwa (8,2%) atau turun sebesar 0,3 persen. Angka ini masih di bawah tingkat kemiskinan nasional yang tercatat mencapai 10,12% pada periode September 2017. ​​

Perekonomian Sulawesi Utara ke depan diperkirakan terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi Sulut diperkirakan masih berada pada kisaran 6,2-6,6% (yoy) di Triwulan III 2018. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi akan didorong oleh peningkatan komponen konsumsi dan investasi. Sementara dari sisi lapangan usaha, faktor pendorong pertumbuhan ekonomi Sulut terutama bersumber dari sektor konstruksi, perdagangan dan industri transportasi. Sepanjang tahun 2018, perekonomian Sulut diperkirakan tumbuh meningkat pada kisaran 6,2-6,6% dibandingkan dengan tahun 2017 sebesar 6,32%. Tekanan Inflasi Sulut di Triwulan III diperkirakan menurun dan untuk inflasi di tahun 2018 diperkirakan terkendali dan berada dalam rentang sasaran inflasi sebesar 3,5%±1% (yoy)

Tags:  

Survei

Apakah Artikel ini memberikan informasi berguna bagi Anda?
Nilai halaman ini:
Komentar:
Show Left Panel